Dendam Kasmudi #1

Dendam Kasmudi #1
Hanya dua kali dalam setahun kampung Krawukan diributkan oleh malam, yaitu pada dua malam hari raya. Idulfitri dan idul kurban. Di dua malam itu, penabuh beduk akan menabuh beduknya sepanjang malam. Sementara yang lain bersorak-sorai memekikkan takbir memuji keagungan Tuhan. Ada juga yang berkeliling kampung membawa obor dan kentongan, turut memeriahkan rayanya hari raya.

Tak terkecuali malam ini. Takbir ada di mana-mana. Seakan-akan mereka tidak mau kalah dengan orang-orang di luar sana yang dengan mudah berkurban kambing, sapi, atau kerbau di hari raya kurban. Takbir itu adalah satu-satunya pengurbanan masyarakat Krawukan.

Desa Krawukan adalah desa kutukan. Orang yang berasal dari sana, hidup di mana pun tidak akan bisa kaya. Karenanya, di kampung lain tidak akan ada orang tua yang sudi menikahkan anak gadisnya dengan pemuda Krawukan. Juga tidak akan ada laki-laki di kampung lain yang mau menikahi gadis Krawukan, secantik apa pun.

Malam ini, Kasmudi tidak bisa ikut takbiran. Kepalanya seperti tertimpa batu besar. Berat dan menyakitkan. Ini tidak biasa terjadi, dan jika terjadi, tidur sudah cukup sebagai obatnya.

Seseorang dengan pakaian serba hitam menggedor pintu rumahnya. Kasmudi memaksa untuk bangun. Penglihatannya agak buram, sehingga tidak terlihat jelas siapa yang datang. Pria berpakaian serba hitam itu memang membawa obor dan ada apinya, tetapi api itu seperti tak mengeluarkan cahaya. Pria berpakaian hitam itu menyerahkan plastik hitam, lalu pergi begitu saja.

Kasmudi meraih kantong itu, dan dari teksturnya ia tahu, itu daging kurban. Ada dua hal yang membuat kepalanya semakin berat.

Pertama, di desa Krawukan belum pernah ada yang berkurban. Jangankan kerbau, sapi, atau kambing. Ayam saja belum pasti mampu. Memang, sepuluh tahun lalu pernah ada orang kaya di kampung sebelah yang menyumbang sapi yang sudah disembelih untuk dibagikan kepada masyarakat desa Krawukan.

Tetapi itu hanya terjadi sekali seumur hidup. Orang kaya itu langsung jatuh miskin dan diusir dari kampung halamannya karena dianggap telah mengidap virus kutukan dari desa Krawukan dan dikhawatirkan akan menular.

Kedua, ini masih malam. Normalnya, daging kurban disembelih minimal setelah salat id.

Kasmudi membuka kantong itu, dan, “Asu!” umpatnya. Kantong itu berisi potongan daging manusia.

Kasmudi terbangun dari mimpi buruknya itu. Kepalanya terasa semakin berat. Ia membuka tirai jendela kamarnya, dan rupanya hari sudah siang.

Seseorang beruluk salam. Kasmudi membukakan pintu. Orang itu memberikan kantong plastik. Kasmudi langsung membukanya, tetapi isinya dibungkus dengan koran.

“Apa ini?” tanya Kasmudi.

“Daging kurban. Kepala kambing. Ada orang kampung sebelah sedang berbagi rezeki,” jawabnya sebelum kemudian berlalu tanpa permisi.

Kasmudi membuka isi kantong yang dibungkus kertas koran itu. Dan, “Bajingan! Siapa yang melakukan ini?” umpatnya. Bungkusan itu adalah kepala ayahnya.

Kasmudi terbangun dari tidurnya dengan napas memburu. Tetapi tak lagi dirasainya ada rasa sakit di kepala. Dibukanya tirai jendela kamarnya, masih malam. Gema takbir juga masih menyelimuti desa Krawukan.

Seseorang mengetuk pintu. Kasmudi memastikan bahwa ia benar-benar telah sadar. Ia mencubit tangannya sendiri dan berkali-kali menampar pipinya. Kali ini tidak lagi mimpi. Kasmudi membuka pintu rumahnya. Pak RT datang tanpa kantong plastik. Ia hanya membawa berita. “Bapakmu mati.”

0 Response to "Dendam Kasmudi #1"

Terimakasih sudah Tidak berkomentar ( SARA ). Silahkan berkomentar yang baik dan menarik sesuai dengan isi konten.
Komentar yang tidak diperbolehkan :

1). Berbau penghinaan SARA & PXXN
2). Komentar dengan Link hidup ( akan dianggap spam )
3). Komentar tidak nyambung dengan isi postingan

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel