Dendam Kasmudi #2

Dendam Kasmudi #2
" Tidak mungkin. Bapak orang sakti. Tidak akan bisa mati."

" Semua orang pasti mati. Izrail lebih sakti dari siapa pun."

" Apakah dia dibunuh oleh Izrail? "

Pak RT tidak menjawab. Ia pergi begitu saja.

" Pak RT!" tahan Kasmudi. Pak RT berhenti, tetapi tidak menoleh. " Kalau bertemu dengan Izrail, siapa pun Izrail itu, sampaikan salam saya padanya. Saya ingin membuat perhitungan dengannya."

" Mengapa bapakmu tidak pulang-pulang, ya?" Sari terlihat gelisah. Mukanya pucat nyaris sewarna dengan mukenah yang dikenakannya. Belum pernah ia berpagi raya tanpa suaminya.

" Setelah salat id, saya akan menjemputnya."

" Kamu tahu tempatnya, Kas? "

" Saya akan mencarinya."

Usai berjamaah raya dan sungkem pada ibunya, Kasmudi mengambil sebuah keris berukuran sekilan dan menyelempitkannya di bebetan sarung. Ia tidak ganti pakaian. Terasa aneh. Tetapi dengan mengenakan celana dalam sudah cukup untuk menyirnakan segala keanehan yang terjadi di dalam sarungnya.

Tidak butuh waktu lama untuk Kasmudi sampai di tempat sasaran. Ia tahu, bapaknya tidak ada di sana.

Pintu rumah itu sedikit terbuka. Ia sebenarnya tidak perlu mendobraknya dengan kaki yang membabi buta. Tetapi tidak ada kesantunan dalam dendam.

" Mana bapakmu?"

"Mas Kas? Silakan duduk."

Sial. Kasmudi tidak mampu membohongi perasaannya. Ia masih sangat cinta dengan perempuan bermata sendu di hadapannya itu.

"Mana bapakmu?" Nadanya tidak lagi membentak seperti pertanyaan pertama.

"Bapak masih di masjid. Ada banyak kurban yang harus disembelihnya."

"Dan kemudian aku akan menyembelih bapakmu, Nila, " kata Kasmudi dengan mulut terkatup, tanpa suara yang mampu didengar oleh siapa pun, bahkan telinganya sendiri.

" Ibumu? "

" Bersilaturahmi dengan para tetangga. Duduklah dan nikmati apa yang kamu inginkan."

Kalimat terakhirnya begitu menggoda. Ia tidak perlu duduk untuk menikmati apa yang ia inginkan. Sejak mereka berpacaran, sampai hubungan mereka terpenggal oleh mitos kutukan, belum sekalipun Kasmudi menikmati apa yang ia inginkan. Jangankan berciuman apalagi bersebadan. Bahkan setiap Kasmudi hendak menyentuh tangannya, Nila selalu menepisnya.

" Baiklah." Dan Kasmudi tidak lagi takut dengan apa yang terjadi setelahnya. Misinya adalah balas dendam atas kematian bapaknya. Dan kini, misi balas dendamnya bertambah. Dendam cinta.

Secepat kilat Kasmudi mengunci seluruh gerak Nila. Dan itu adalah pertama kalinya Kasmudi menghirup aroma wajah Nila.

" Kau bisa melakukannya dengan baik-baik, Sayang," kata Nila setelah Kasmudi melepaskannya.

"Kau tahu itu tidak mungkin, kan?"

"Tidak harus menikah, kan?"

"Apakah itu baik-baik?"

"Lebih baik daripada dengan paksa."

Mereka pun melakukannya.

Satu dendamnya sedikit terbalas. Tetapi kerisnya masih bersih. Tidak menusuk apa pun. Tidak mengeluarkan setetes darah pun.

0 Response to "Dendam Kasmudi #2"

Terimakasih sudah Tidak berkomentar ( SARA ). Silahkan berkomentar yang baik dan menarik sesuai dengan isi konten.
Komentar yang tidak diperbolehkan :

1). Berbau penghinaan SARA & PXXN
2). Komentar dengan Link hidup ( akan dianggap spam )
3). Komentar tidak nyambung dengan isi postingan

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel