GARIS BESAR PENDAKWAH ELEKTRONIK

GARIS BESAR PENDAKWAH ELEKTRONIK
Tidak jarang saya turut mengkritik, mengecam, bahkan terkadang sampai menghina dan mengolok-olok para pendakwah elektronik. Yaitu penyiar agama melalui alat-alat elektronik: TV, radio, ponsel, kulkas, kompor, dan lain sebagainya, baik secara online maupun offline. Namun demikian, sesungguhnya saya tidak pernah melepas do'a untuk mereka. 

Betapapun, Muhammad Nuchid bukanlah apa-apa dibanding Mama Dedeh, Maulana, Emha Ainun Najib, Abdus Shomad, Kholid Basalamah, hingga Nur Sugik, garis (jangan baca: otak) miring Gus Nur. Mereka memiliki demikian banyak pengikut.

Sementara saya tidak memiliki satu pun pengikut. Saya sempat ingin mendirikan aliran atau jamiyah Nuhidiyah, menyaingi Hadratusy Syekh Hasyim Asyari dan Kiai Ahmad Dahlan dalam NU dan Muhammadiyah-nya, lalu kelak akan ada Nuhidiyah strutural, Nuhidiyah kultural, hingga Nuhidiyah Garis Lurus. Tapi semua itu gagal, lantaran tiada yang mau jadi pengikut. Maka, betapa sayangnya jika saya hanya berdoa untuk diri saya sendiri.

Saya selalu berdoa agar para tokoh elektronik tersebut senantiasa dibimbing dalam kebenaran. Karena sebetapapun sesatnya saya, tidak akan berbahaya untuk yang lain. Dan sebetapapun benarnya saya, tidak akan membawa pengaruh bagi yang lain. Tapi mereka, kebenarannya diikuti, dan kesalahannya dibela. Atau, kebenarannya tidak dianggap, dan sekali melakukan salah, seakan menjadi begitu hina. 

Tidak akan ada yang menyesali seandainya Muhammad Nuchid meninggal dunia dalam pangkuan janda kembang, atau bencong prapatan, yang bulu kakinya lupa dicukur. Orang-orang akan tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Agama Islam tetap sebagaimana semula. 

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Mama Dedeh tiba-tiba mati di pelukan dokter hewan muslim tanpa busana. Apakah jamaah ibu-ibu pengajian yang jika tanya jawabnya dengan Mama Dedeh dikumpulkan akan lebih tebal dari tembok ratapan itu akan tetap percaya dengan apa yang pernah difatwakan Mama Dedeh selama hidupnya? 

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Ustaz Maulana tiba-tiba mati saat demo 212, padahal dia pernah bilang bahwa memilih pemimpin itu tidak perlu memandang agamanya apa. Apakah para artis yang hampir tobat dan sudah mau mulai mengenakan jilbab lantaran tersentuh dengan ceramahnya, tetap melanjutkan rencana tobat dan memakai jilbabnya?

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Emha Ainun Najib tiba-tiba mati saat menerima uang 1.5 Triliun dari HTI. Apakah jamaah maiyahnya yang sebegitu mengultuskannya akan tetap percaya dengan kata-kata mutiaranya, syair-syairnya, puisi-puisinya, sajak-sajaknya, hingga fatwa-fatwanya?

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Ustaz Abdus Shomad tiba-tiba sekarat di tengah-tengah ceramahnya, lalu diangkut dengan mobil ambulan yang di belakangnya ada lambang salib 88. Lalu dibawa ke UGD, ternyata dokternya cewek non muslim. Terus dia nggak mau, akhirnya dipanggil cewek muslimah tapi nggak berjilbab. Dia nggak mau lagi. Terus dipanggilkan dokter Islam berjilbab tapi cowok, dia nggak mau lagi. Akhirnya, ya udah yang tadi cewek muslimah nggak berjilbab nggak apa-apa, katanya. Karena rumit banget akhirnya Shomad mati sebelum dokternya datang, dan matinya dalam posisi tangan merentang menyerupai posisi Yesus yang dihukum pada kayu bersilang oleh orang-orang Yahudi.

Apakah jamaah-jamaahnya akan tetap percaya dengan ceramah-ceramahnya tentang ambulans, atau tentang bahwa dakwah Quraish Shihab terpangaruh oleh ketakutannya pada istri dan anaknya? Atau tentang hanya ada tiga ulama NU yang boleh diikuti: Luthfi Bashori, Idrus Romli, dan Yahya. Garis miring ulama Garis Lurus.

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Kholid Basalamah tiba-tiba mati saat tidak sengaja orang di sebelahnya menyulut rokok, lalu terbakar jenggot beliau, di tengah-tengah tahlilan. Apakah orang-orang cingkrang masih percaya lagi padanya?

Tapi coba bayangkan, bagaimana seandainya Gus Nur, saat sedang syuting yutup, karena tidak ada televisi yang mau meliput, tiba-tiba kesetrum saat sedang ngomongin tentang pelacur agama, atau ngomong bahwa dia selalu direpotin NU, atau pamer bahwa dia sering diundang ceramah dan tidak dibayar. Atau, tiba-tiba disambar petir saat mengisi pengajian di kuburan. Seperti kena azab kubur sebelum meninggal. Lalu meninggalnya terbakar seperti masuk neraka sebelum waktunya. Apakah jamaahnya yang ada di Hongkong, Taiwan, Tailand, dan tai-tai lainnya masih akan percaya padanya?

Dari sana, penting sekali bagi kita untuk selalu mendoakan mereka. Mereka adalah ikon Islam Indonesia saat ini. Jika mereka sampai mati suulkhatimah, sedikit banyak, citra Islam Indonesia akan memburuk, di mata orang lain, maupun di mata keluarga sendiri. Semoga perandaian di atas jangan sampai terjadi. 

Tidak semua pendakwah elektronik itu buruk. Terkadang, kalau saya sedang bosan mendengar orang ngomong Arap, saya buka yutub, nyetriming nyanyian-nyanyian dangdut, lalu diakhiri dengan memutar ceramah-ceramah agama. Biar seperti acara hajatan. Didahului dangdutan, ditutup dengan tausiah. Biasanya saya buka ceramahnya Pak Quraish Shihab, Yai Syairozi, Yai Jamaluddin Ahmad, dan beberapa kiai lainnya. Dan saya merasa mendapat banyak faidah dari yang demikian itu.

Tidak semua pendakwah elektronik itu buruk. Karena ada yang memang di dunia nyata sana benar-benar sebagai pendakwah. Hanya karena ada yang merekamnya, atau ngrekam sendiri, maka jadilah ia pendakwah elektronik. Kalaupun toh dakwahnya hanya sebatas elektronik karena tidak laku di pasaran, tetap ada bagusnya. Karena kita telah berada di zaman serba elektronik. Serba internet. Makanya, Prof. Said Agil Siradj pernah mengimbau kepada para santri NU agar tidak kalah langkah dalam menggunakan media sosial. ISIS, Wahabi, HTI, FPI, dan lain sebagainya, kesuksesan dakwahnya sebagian besar juga didulang oleh media elektronik. Jika ketakutan saja bisa dengan mudah mereka sebar, mengapa kita tidak berpikir untuk menyebar cinta melaluinya?

Pendakwah elektronik tidak semuanya buruk. Yang buruk hanyalah yang lebih sering sesatnya daripada benarnya. Sesat pun, beragam orang mendefinisikannya. Tidak perlu jauh-jauh sampai beda mazhab apalagi agama. Sering, hanya faktor beda kepala, sudah beda pendapatnya. Beda ukuran, beda pula sensasinya.

Berdakwalah, melalui jalur apapun yang Anda mampu. Ajaklah orang-orang menuju jalan Allah, bukan jalanmu, karena jalanmu belum tentu benar. Ajaklah mereka pada kebaikan, kebaikan yang telah disertakan ilmu padanya. Lalu sampaikan kebaikan itu dengan tutur kata yang santun, atau dengan nasihat-nasihat yang baik. Jika perlu berdebat, berdebatlah. Tapi jangan lupakan tata krama. Berdebatlah dengan lawan debatmu, lebih baik dari dia dan apa yang kalian perdebatkan. Allah lebih tahu siapa yang telah menyimpang dari jalan-Nya. Allah juga lebih tahu siapa yang berada dalam karunia bimbingan-Nya.

Penulis: Muhammad Nuchid

0 Response to "GARIS BESAR PENDAKWAH ELEKTRONIK"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel