Membuang rendah hati pada tempatnya

Membuang rendah hati pada tempatnya
Saat Rasulullah mengumumkan, tentang barangsiapa memakai sarung yang panjangnya melebihi mata kaki, akan masuk neraka. Ketika itu, Abu Bakar, yang lebih suka melandungkan sarungnya bertanya, " Apakah saya akan masuk neraka, wahai Rasulullah? "

Rasulullah menjawab, " Tidak, wahai Abu Bakar. Karena kamu tidak sombong."

Sombong itu sesungguhnya bukan ucapan, bukan pakaian. Sombong itu perkara hati. Meskipun memang bisa saja keluar melalui perkataan atau penampilan.

Lawan dari sombong adalah rendah hati. Kata " rendah hati " lebih mudah kita pahami karena ada kata " hati " di sana. Maka jelas sekali, itu adalah perkara hati. Bukan tentang ucapan, atau penampilan.

Tidak sedikit dari beberapa yang dianggap sebagai " tokoh agama " oleh jamaahnya, saat ceramah selalu berpenampilan sederhana, lalu berkata pada kaumnya, " Saya ini bukan ustaz. Bukan kiai. Bukan ulama. Saya hanya orang bodoh ".

Tidak mengerti banyak tentang agama." Lalu, ketika ada yang mengritisi fatwa-fatwanya, serta mendukung apa yang pernah dikatakannya, bahwa dia bukan ustaz, bukan kiai, bukan ulama, bukan ahli agama, dia marah. Ini kan lucu kan yaa?. 

Sama seperti cewek yang berkata pada pacarnya, " Beib, maaf ya, aku gendut." 

Lalu pacarnya bilangnya, " Meskipun kamu gendut, aku tetap cinta kok sama kamu "

Dan serta merta si cewek malah murka. " Jadi aku beneran gendut ? Kita putus,,!!! "

Itulah yang banyak terjadi pada agamawan kita, atau yang kita atau kalian anggap sebagai ahli agama. Saat ia berkata, " Aku bukan ahli agama." Tapi dia tetap berfatwa. Sesungguhnya ia berkata, " Aku adalah orang yang paling pandai agama." Yang demikian itu bukanlah kerendahhatian. Justru itulah kesombongan yang sejati.

Rendah hati itu berat. Makanya, saya tidak pernah menyebut kekurangan saya, baik secara fisik maupun intelektual, kecuali pada orang yang menurut saya tepat untuk mengatakannya.

Maka wajar, jika ada yang menyebut kekurangan saya, akan saya hajar dia secara fisik hingga babak belur, atau saya diamkan selama empat tahun. Kecuali menyebutnya atas dasar ilmiah, seperti mengritisi tulisan-tulisan saya, mengritik pendapat-pendapat saya, dan lain sebagainya.

Rendah hati itu berat. Itu sebabnya, saat ada yang memanggil saya " Kak ", saya katakan padanya, " Panggil ustaz saja ". Saat ada yang memanggil saya " Ustaz ", saya katakan padanya, " Jangan panggil saya ustaz ". Panggil saja kiai." Saat ada yang memanggil saya " Habib, saya katakan padanya, " Panggil saya Nabi."

Dan sebagaimana saya tidak ingin kekurangan fisik saya disebut, saya juga sangat menghindari menyebut kekurangan fisik orang lain. Saya tidak pernah memanggil "Gendut" kepada yang berbadan gembrot.

Saya tidak pernah memanggil " Cengkring " kepada yang tubuhnya hanya terdiri dari kulit dan balung klata’an. Saya juga tidak pernah memanggil " Tonggos" kepada yang giginya gondrong. Tapi saya kerap mengomentari pendapat. Karena saya juga suka saat saya berpendapat, ada yang mengritisi.

Tidak sedikit dari kalangan nabi, yang mengaku bahwa dirinya adalah orang zalim. Tapi ketahuilah, pengakuan itu mereka tujukan hanya kepada Allah, Tuhannya. Ketika berhadapan dengan kaumnya, tidak ada seorang nabi pun yang bilang, " Saya ini orang zalim ".

Saya ini bukan nabi. Saya bukan rasul. Saya tidak mengerti syariat. Saya tidak mengerti agama. Saya hanya mengerti tentang negara. Saya sangat tau tentang apa yang terjadi di negara kita. Saat HTI, FPI, dan ormas-ormas lain dibubarkan, NU malah dapat 1.5 Triliun untuk pengembangan ekonomi." ( Nuhid ).

0 Response to "Membuang rendah hati pada tempatnya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel