WALI DAN ULAMA

WALI DAN ULAMA ~ SantriCerdas
Nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad, dianugerahi berbagai mukjizat berupa kejadian-kejadian yang nulayani adat. Sebab, masyarakat ketika itu sulit diajak untuk ngilmiah. Maka Nabi Isa harus repot-repot membuat mainan burung-burungan dari tanah liat yang kemudian mampu diterbangkan, Nabi Musa harus repot-repot adu sulap dengan para penyihirnya Firaun. Dan lain sebagainya. 

Pada mula-mula berdakwah, Nabi Muhammad juga pernah menggunakan kesaktian yang serupa. Konon, pernah sampai membelah bulan. (Lihat film “Bulan Terbelah di Langit Amerika”. Tapi sepertinya tidak ada hubungannya, sih. Lihat surah al-Qamar ayat pertama saja) 

Tapi masyarakat ketika itu sudah mulai kritis. Sudah bukan saatnya lagi disuguhi mukjizat yang irasional seperti itu. Maka dianugerahkanlah Nabi Muhammad dengan mukjizat yang diyakini oleh para ulama dan sebagian besar umat Islam sebagai mukjizat teragung, yaitu Alquran.

Alquran adalah kitab suci yang sangat ilmiah. Dalam ayat-ayatnya, manusia sering diajak untuk berpikir, merenung, dan piknik untuk mengamati alam raya. Tatabahasanya sangat indah, yang tidak akan pernah tertandingi oleh sastrawan manapun. Masyarakatnya pun geleng-geleng dan turut mempelajari. Yang ingkar tetap ingkar bukan karena tidak terpukau. Tapi semua itu lantaran telah tertutup hatinya oleh kekafiran, atau hasud yang telah menggerogoti akal sehatnya.

Ulama Indonesia, saat masyarakatnya masih gemar dengan klenik, mereka pun menunjukkan karamahnya. Seperti berjalan di atas air, atau ke Mekkah melalui galian tanah. Tapi saat ini, yang semacam itu kayaknya sudah tiada lagi dibutuhkan.

Masyarakat Indonesia saat ini sudah lumayan cerdas. Maka seorang kiai tidak perlu lagi wiridan terlalu lama, atau puasa setiap hari, lalu menyuruh muridnya untuk melakukan hal serupa, agar kemudian menjadi wali dapat karamah, lalu mengenyampingkan ngaji. Kiai saat ini tidak usah lagi mempelajari ilmu kebal santet, sebagaimana dulu ketika ada orang tua yang ingin memondokkan anaknya, dites dulu, kiainya kebal santet atau tidak. Selama kiai tidak neko-neko, tidak ngintip santri putrinya mandi, atau melakukan kejahatan kelamin pada santri, atau melakukan percakapan mesum melalui media sosial, atau paling bukan, tidak terlalu menampakkan namanya di kancah nasional, Insyaallah aman.

Yang harus dilakukan pendidik saat ini adalah mendidik dan mengajarkan ilmu. Bukan menyuruh tirakat noto sandal atau angon wedus. Yang paling penting dan dibutuhkan zaman ini adalah ilmu.

Jika yang dididik telah berilmu, berhasil mewarisi keilmuan gurunya (yang ngalim tentu saja), atau melebihi, maka dengan otomatis dia akan menjadi wali. Karena setiap ulama pasti wali, dan yang wali belum tentu ulama. 

Kewalian ulama itu enak. Karena ulama yang wali biasanya tidak punya karamah yang aneh-aneh. Sehingga sang wali tidak perlu lagi menyembunyikan kekeramatannya.

Dihilangkan total juga sebaiknya jangan. Tapi saya yakin, wali-wali yang berkaramah masih banyak, walau tiada nampak. Menurut hemat saya, di pesantren-pesantren tidak usah lagi diajarkan hal-hal yang beraroma klenik. Mending di bimbing moral dan diajarkan keilmuan sampai menjadi ulama.

Yang harusnya belajar ilmu-ilmu seperti itu adalah ormas FPI. Mereka kan gemar sekali menjuluki dirinya sebagai “Nahi Mungkar”. (Ungkapan mereka yang sangat populer adalah: NU itu bertugas Amar Makruf, sedang FPI bertugas Nahi Mungkar) Agar tidak berbuat anarkis saat berdakwah. Maka saya sarankan, seyogyanya mereka mempelajari ilmu karamah, biar bisa berdakwah dengan santun seumpama Gus Miek.

Catatan: Yang dimaksud Nahi Mungkar adalah mencegah kemungkaran. Bukan nahi dari kata dasar tahi.

Penulis: M Nuchid dari Tuban jatim

0 Response to "WALI DAN ULAMA"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel