Secuil Kisah Di Pesantren Al Jihad Yang Kini Menjadi raudlatud darajat

Raudlatud Darajat

Sedikit Teringat Kisah Kisah yang memang Tidak sering terlintas dipikiran, Mumpung lagi Ingat kali ini saya akan sedikit curhat Kisah nakalku Dipesantren Al Jihad Yang kini menjadi Raudlatud Darajat. Jujur saja dulu saya adalah Salah satu santri yang paling nakal dari beberapa santri lainya, Bahkan Di hajar teman sekelas, di Penjara di pesantren, Di Takzir adalah hal biasa bagi saya.

Awal Masuk Pondok Pesantren

Setelah Lulus sekolah dasar ( SD ) memang niat saya adalah Mondok, tapi masih belum jelas ingin mondok di pesantren mana, Ketika saya sedang mencari burung karena dulu saya suka Bolang jadi ya,, wajar saja dulu masih belum ada Teknologi Android seperti saat ini, Mungkin masih dalam perencanaan.

Seingat saya, pas Jam 02.00 PM saya di datangi oleh pemuda ganteng tetangga sebelah, namanya Zi'in, ia menemui saya di pekarangan waktu saya sedang mencari burung.

" Loh Lapo Fathnan? ". Ujar zi'in sambil tersenyum.

" Golek Manuk Mas "

" Hmmmm. Lha wes Entuk Opo durung? ".

" Durung iki nembe arep Golek mas "

" Owh ngono Yo. Manuk nek kene Iku wedi Kabih nan karo aku, Bien sering tak Goleti mangkane saiki podo wedi weruh aku. "

" Paling wedi jenggotmu mas ( dalam hati ) "

Lalu ia menawari saya untuk mondok di pesantren Paciran Lamongan, Namanya Al-Jihad, yang katanya Pondoknya dekat Laut lepas dan  indah,,,, Tanpa basa basi saya langsung bilang kepadanya " Iya saya mau ".

Tidak lama kemudian kerabat dan keluarga langsung berangkat untuk membuang saya di pesantren, Setelah sampai di pesantren saya yang masih Lugu dan imut langsung berkenalan dengan teman teman baru di pesantren.

Sungguh Indah rasanya mempunyai teman baru yang berbeda dengan lingkungan yang berbeda pula dari sebelumnya. Dari beberapa teman Mts, Saya adalah anak paling kecil dan Imut. Jadi, wajar saja jika Mbak Mbak pesantren jatuh hati sama saya Koakakakak.

Mulai Bingung. Tidak Krasan di pesantren

Ternyata dulu saya juga pernah mengalami yang namanya Tidak krasan Tinggal di pesantren, Bukan karena orang-orang pesantren jahat, juga bukan karena saya tidak punya teman. Bukan!! Entah kenapa pada saat itu hawanya ingin pulang terus.

Sambil menatap laut lepas di atas asrama paling atas ( duwur dag ) saya menyendiri sambil menangis,, aHihihi,,, Lalau datanglah seorang pahlawan super, Namanya Ya'qub Kepala pondok putra yang ganteng, ia mendekati saya sambil berkata " Lohh fathnan lapo kog nangis nek kene ". 

" Aku gak Krasan cak ".

" Lapo gak krasan wong mondok enake koyok ngene,, Akih kancane,, Aku wong Tuban sampean yo wong Tuban, Nek sampean di Gonok wong Ngomong aku ".

Setelah mengetahui saya gak Krasan di pesantren lalu bapak Ya'qub mengajak saya keluar pesantren untuk sekedar menghibur saya yang sedang nangis,, tidak krasan. Bapak ya'qub ini kepala pondok yang berjasa buat saya. Karena dulu dari awal saya masuk pesantren tidak ada yang mengopeni saya, Maksud saya lepas landas.

Julukan Special Dari Abah Yai

Pondok pesantren Al Jihad adalah pondok pesantren yang Konsisten dalam menerapkan Peraturan, salah satunya adalah kegiatan Rohani ( Shalat Tahajud ). Setiap jam 3 pagi tepat! Para santri wajib bangun.

Yahh Namanya juga santri, Layaknya Kambing yang dikembala, bisa jadi malah gampang mengembala kambing daripada mengembala santri. Untuk itu, Kesabaran Extra harus di tanam dalam hati pengurus pesantren.

Ketika santri disuruh bangun untuk ambil wudhu dan segera ke Mushola, 75% santri bangun dan mengambil wudhu untuk shalat Tahajud, dan sebagian meneruskan Ngaji turu yang tadi belum hatam.

Dan sisa dari 75% tadi salah satunya adalah saya. Saya adalah santri paling Ngantuk'an saat itu, Jadi sangat wajar jika saya bangun terus mencari tempat paling aman untuk wiridan. Tempat yang biasa saya pakai untuk bersembunyi ( Nyentong ) adalah Kelas sekolah.

Tapi apalah daya, semangat para pengurus pesantren Al-Jihad sangat luar biasa, walaupun saya Nyentong tetap saja ada yang tahu, setelah saya ketahuan saya mulai berfikir dan mencoba untuk mencari tempat lagi yang paling aman, Yaitu dibelakang pesantren ada sebuah Gubuk tua keramat yang biasa kami pakai untuk rasan-rasan.

Namun yang namanya Mukhlisin tetap saja mengetahui rencana tersebut, Ia mendatangi saya sambil membawa air satu ember dan menyiramkanya kesekujur tubuh kerempeng ini. dalam hati berkata " Jangkrek Mukhlisin ".

Ketika sudah basah!! mau tidak mau saya harus mandi dan segera ke Mushola dengan sangat terpaksa, Di moshola saya shalat tahajud sambil Tidur. Dari sinilah julukan special tersebut akan diberikan.

Tiba tiba Abah yai memanggil saya, dengan kagetnya saya mendekati beliau lalu beliau pun brkata " Fathnan turuuuuu ae,, Mulai saiki di celuk Mbae ae ". Lalu saya diberi hadiah Sajadah beliau yang berwarna Orange ( seingat saya ).

Dari sinilah semua santri, baik santri putra maupun santri putri memanggil saya dengan julukan baru " Mbahe " Julukan tersebut diberikan abah yai karena penyakit yang saya derita selama di pesantren yaitu ( Ngantuk'an ). dan ajaibnya Julukan tersebut masih melekat hingga saat ini.

Cerita ini bersambung dulu, mungkin akan dilanjut di Artikel yang lain.

0 Response to "Secuil Kisah Di Pesantren Al Jihad Yang Kini Menjadi raudlatud darajat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter