Kisah Nyata santri salafi yang membuatku menangis

Kisah Nyata santri salafi yang membuatku menangis

Dilahirkan dari bumi cilacap jawa tengah, ia datang di pesantren tanpa orang tua yang menemani, karena memang dari umur 13 tahun ia sudah tidak lagi mendapat belaian kasih sayang dari seorang Ibu dan bapak, wajahnya cupu, rambutnya keriting, badanya gering, tapi orangnya baik hati, sebut saja namanya " soleh " nama samaran,

Sebelum aku kenal dekat dengan soleh, aku selalu berburuk sangka denganya, karena memang jika di bandingkan secara fisik, soleh kalah dengan teman-teman yang lain, Tapi setelah kudekati dan dekat sehingga lebih dekat dan lebih dekat lagi, ternyata anaknya baik hati.

Orangnya penyabar, jarang mengeluh, dan selalu senyum, meskipun secara teknis hidupnya tidak bahagia-bahagia amat, tapi ia mencoba untuk tetap tersenyum, dari umur 13 tahun soleh sudah di tinggalkan kedua orang tuanya.

Perceraian kedua orang tua soleh membuat keluarganya menderita dan berantakan, sehingga soleh harus di titpkan kepada bibinya yang saat itu masih bekerja menjadi penjahit pakaian.

Bibinya soleh menerima soleh sebagai anak angaktnya, meskipun bibi soleh sudah punya dua anak, tapi bibi masih mau dan masih sayang kepada soleh yang saat itu di telantarkan oleh kedua orang tuanya lantaran perceraian.

Bibinya yang janda dan harus bekerja keras sendirian untuk menghidupi keluarga dan membiyayai anak-anaknya agar bisa tetap menempuh pendidikan sebaik-baiknya.

Setelah lulus dari sekolah menengah ( SMP ) soleh langsung ditawari bibinya

mau melanjutkan sekolah dimana?

Soleh : Saya mau di pesantren saja bi

Bibi : Mau di pesantren mana ?

Soleh : Di Trenggalek, kebetulan teman saya juga mau kesana bi

Bibi : Yaudah besok kita berangkat

Keesokan harinya bibi dan soleh langsung berangkat di pesantren Trenggalek beserta temannya yang pernah sekelas dengan Soleh.

Ceritanya pun dimulai, Setelah di pesantren, Soleh memilih tidak melanjutkan sekolah formal, ia hanya ingin Fokus di pesantren dan hanya ingin mendalami Ilmu yang ada di pesantren.

4 tahun dipesantren soleh tidak pernah pulang ke cilacap, ia sangat Fokus di pesantren, selain Ngaji ia juga bekerja di desa sebagai tukang pecetak Genteng, dalam setengah hari soleh di gaji 50 ribu.

Selama di pesantren, Ia tidak pernah meminta uang kepada bibinya, ia bekerja keras sambil mengaji di pesantren, Uang dari kerja ia sisihkan untuk beli Kitab-kitab dan keperluan pesantren lainya.

Hidupnya mandiri, selalu bahagia, ia jarang mengeluh, meskipun mukanya pas-pasan, tapi ia pekerja keras dan baik hati, Mungkin pelajaran tentang perceraian kedua orang tuanya yang membuat ia menjadi bangkit!! tidak ingin menjadi keterpurukan, ia selalu semangat dalam mengaji dan bekerja.

Banyak pelajaran yang sangat berharga yang telah saya dapatkan dari soleh, Jiwanya yang tegar, murah senyum, baik hati, selalu mengerti posisi temanya, Tak jarang jika soleh di cintai oleh banyak santri.

Meskipun ia Jomblo, tapi tetap semangat, saya sudah 3 Tahun ini berpisah dengan soleh,, dan kehilangan kontaknya,, tulisana ini untukmu soleh. semoga kesehatan dan semangat tetap diberikan untukmu sahabatku. aku Rindu,,,

0 Response to "Kisah Nyata santri salafi yang membuatku menangis "

Terimakasih sudah Tidak berkomentar ( SARA ). Silahkan berkomentar yang baik dan menarik sesuai dengan isi konten.
Komentar yang tidak diperbolehkan :

1). Berbau penghinaan SARA & PXXN
2). Komentar dengan Link hidup ( akan dianggap spam )
3). Komentar tidak nyambung dengan isi postingan

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel