TENTANG MERENCANAKAN ALUR HIDUP

" Tidak ada larangan bagi kita untuk merencanakan. Tercapai atau tidak rencana tersebut, itu bukan urusan kita, Karena Allah lah yang menentukan ". Ketika muhajirin baru saja tiba di madinah, kaum anshar begitu semangat menyambut saudara barunya itu. Mereka menawarkan tempat tinggal serta beragam kebutuhan yang dibutuhkan.

Termasuk sa'd ibn ar Rabi' yang begitu antusias menawarkan kebutuhan kepada Abdurrahman ibn 'Auf.

" Saudaraku terkasih di jalan Allah ", dengan lembut sa'd ibn Arrabi' berkata kepada ' Abdurrahman ibn 'Auf. " Aku memiliki dua buah kebun yang luas. Diantara keduanya pilihlah yang kau suka dan ambilah untukmu.

Aku juga memiliki dua rumah yang nyaman, pilihlah mana yang kau suka dan tinggalah disana. Aku juga memiliki dua orang istri yang cantik-cantik, lihatlah dan pilihlah salah satu yang kau suka diantaranya, pasti akan ku ceraikan dan kunikahkan denganmu.

' Abdurrahman ibn 'Auf tersenyum, lalu dengan lembut pula ia berkata, " Terimakasih atas segala kebaikanmu saudaraku semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Sebaiknya tunjukan saja aku jalan ke pasasr."

Sebagaimana penduduk madinah yang sangat memandang tinggi arti pernikahan, Sa'd ibn Ar rabi' pun demikian. Seorang lelaki belum utuh menjadi lelaki, jika ia belum beristri, Sa'd Ibn Ar Rabi' pun mendesak, " Tetapi setidaknya Menikahlah."

Apa jawaban Abdurrahman Ibn 'Auf mendengar saran dari saudara barunya tersebut ?

" Insya Allah, dalam sebulan ini aku akan menikah, ujar-Nya ".

Rencana untuk menikah sebulan setelah kedatanganya ke madinah tentu hal yang menarik. Haarap tahu, Abdurrahman Ibn 'Auf adalah anak muda yang hijrah ke Madinah tanpa bekal apaun. Juga tak ada satupun orang yang mengenalnya maupun orang yang ia kenal di madinah.

Tapi dengan yakin ia menolak segala Tawaran Sa'd Ibn Ar Rabi', Kalau di pikir-pikir, bukankah akan lebih mudah jika Abdurrahman Ibn 'Auf untuk memulai bisnisnya dengan modal sebuah Rumah, sebuah kebun yang luas, serta seorang istri yang cantik-cantik disisi-Nya.

Tapi tidak bagi Abdurrahman Ibn 'Auf. Dengan gagah berani ia menolak Tawaran saudaranya itu, dan dengan gagah berani pula ia menetapkan satu target. " Insya Allah, dalam sebulan ini aku akan menikah, ujar-Nya ".

Akhirnya, padanya ditunjukan jalan ke pasar. Ia menjadi kuli di hari pertama, Lalu menjadi Makelar di hari kedua. Di hari ketiga ia sudah menjadi pedagang yang paling jujur. Bahkan ia berhasil membasmi kungkungan hegemoni ekonomi riba ala Yahudi.

Ini yang menarik, sebulan kemudian ' Abdurrahman Ibn 'Auf datang kepada Rosulallah dengan pakaian yang penuh noda minyak " Khaluq ".

" Saya telah menikah Ya Rosulallah ", Ujarnya.

" Dengan siapa? " Tanya Rosulallah.

" Seorang wanita Anshar ", Jawabnya

" Apa maharnya ? "

" Emas seberat Biji kurma."

" Wahai ' Abdurrahman, selenggarakan walimah meskipun dengan seelor kambing!"


Merencanakan Hidup

TENTANG_MERENCANAKAN_ALUR_HIDUP

Rencana hidup dalam seorang muslim adalah Komitmen untuk meraih kualitas pribadi yang lebih baik. Tak ada larangan bagi kita untuk merencanakan masa depan. Tercapai atau tidaknya, Itu bukan urusan kita, Karena Allah lah yang menentukan.

Jadi, Tak usah kita takut untuk memasang Target, karena sebenarnya bukan soal terlaksananya rencana itu yang jadi tujuan. Lalu apa tujuanya ? Salah satunya adalah sebagai sarana untuk meningkatkan Kualitas diri.

Peningkatan Kualitas diri. Semoga target hidup itu bisa menjadi salah satu upaya kita dalam mengikuti hadist Rasul yang mengatakan bahwa siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, Ialah orang yang beruntung.

Yang sama, Merugi, Yang lebih buruk, dialah orang yang celaka. Semoga peningkatan kualitas diri yang mengiringi pertambahan usia yang semakin mendekati titik ajal.

Bayangkan saja, Jika anda hanya diberi jatah umur hanya sampai 10 atau 20 tahun ke depan, Apa saja yang ingin anda kerjakan?? Apa yang akan anda hasilkan ?? Prestasi dan karya apa yang akan anda persembahkan untuk kemanusiaan?

Bagaimana kira-kira orang akan mengenang anda 100 tahun yang akan datang ketika semua harta, teman, dan keluarga anda sudah tiada pula ? 

Impian terkadang menjadi hal yang terlalaikan dalam hidup kita. Hidup mengalir seperti air, Mengikuti arus tanpa punya titik target yang akan di tuju, tanpa dibatasi oleh pemetaan dan tujuan yang jelas, Sudah menjadi karakter yang membudaya.

Padahal kita tahu, Bukankah air tersebut hanya akan mengalir ketempat yang rendah,. Hidup mengalir begitu saja, tanpa direncanakan dengan impian besar, bisa jadi kualitas diri kita hanya akan menju pada kualitas yang lebih rendah.

Mari kita hidup dengan target, agar kita tahu bahwa hidup bukanlah untuk mengikuti arus keadaan. Mari hidup dengan Impian, agar kita tahu bahwa ternyata ada yang kita tuju dalam hidup ini.

Mari hidup dengan Visi yang jelas, agar kita tahu kapan saatnya kita harus berhenti berikhtiar, memungkasi segala perjuangan, puas dan tawakal dengan kesuksesan yang telah kita raih.

Rancanglah masa depan anda. Tetapkanlah prestasi terbaik yang ingin anda raih dalam hidup, tentukan apa yang ingin anda capai beberapa waktu kedepan, Ingin jadi pengusaha terbaik di Indonesia.

Ingin mendirikan pantai asuhan disetiap kecamatan, Ingin menjadi penulis paling produktif, atau ingin mendirikan sekolah bagi ribuan anak-anak dijalanan.

Tentukan target hidup setinggi mungkin. Michelangelo pernah berkata " bahaya yang lebih besar dari kebanyakan  kita bukanlah  gagal meraih tujuan yang terlalu tinggi, melainkan berhasil mencapai tujuan yang terlalu rendah".

jangan pernah membatasi target hidup yang ingin anda capai, Impian yang terlalu tinggi terkadang menjadikan mesin kemajuan yang kerap menjadikan hidup kita berkejar-kejaran dengan orang lain. tak ada yang salah pungguk, atau katak merindukan bulan.

Daripada kata hanya terdiam dalam tempurung, dengan lompatanya yang sudah jelas ia tidak dapat menjangkau bulan. Tapi dengan mimpi, meskipun dengan kemauan kecil ia dapat meraih kemauan itu dengan kehendak-Nya.

Bisa saja ia terangkut Roket Astronot yang sedang jalan-jalan kesatelit bumi yang indah dalam purnamanya itu, ( Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini ).

Begitupun manusia, Prestasi puncak adalah hak setiap manusia, karena anda adalah masterpiece, Modal sebaik-baik ciptaan, adalah modal yang telah diberikan Tuhan kepada kita sejak lahir.

Jangan hiraukan mereka yang berfikir picik, yang kaku memandang keterbatasan dan kelemahan semata, Yang terus pesimis terhadap kesuksesan yang tinggi. Yang tidak percaya kalimat indah, " Apa yang anda lihat adalah apa yang anda dapat meraihnya. "

Suatu hari, Umar bin khattab melakukan dialog dengan beberapa orang. Umar bin Khattab berkata, " Bercitalah " Salah seorang yang hadir berkata, " Saya berangan-angan kalau saja saya mempunyai banyak uang, lalu saya belanjakan untuk memerdekakan budak dalam rangka meraih Ridha Allah.

Seorang lainya menyahut, " Kalau saya berangan-angan mempunyai banyak harta, lalu saya belanjakan fisabillilah. " Yang lainya menyahut, " Kalau saya mengangankan kekuatan tubuh yang prima lalu saya abdikan diri saya untuk memberi air zamzam kepada jemaah haji satu persatu. "

Setelah umar bin Khattab Radiallahu 'anhu mendengarkan mereka, ia pun berkata, " Saya berangan-angan kalau saja di dalam rumah ini ada tokoh seperti Abu Ubaidah bin jarah, Umair bin Sa'ad, dan semacamnya. " ( Ahmad Rifa'i Rif'an )

0 Response to "TENTANG MERENCANAKAN ALUR HIDUP"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel