Cerita santri | Alunan Takdir Kyai Barseso

Alunan Takdir Kyai Barseso

Ketika aku terlahir di dunia, aku menangis. Bukan tangisan derita karena kabar langit memberitahuku bahwa neraka adalah tempat terakhirku. Bukan pula tangisan duka lantaran kemudian orang-orang menjadikanku perumpamaan yang buruk. Aku menangis karena rasa syukurku kepada Tuhan yang memberiku sedikit kasih sayangNya, yang sedikit itu lebih banyak dari yang kuharapkan.

Aku tidak pernah memohon kepada Tuhan agar dia memberiku penglihatan dan pendengaran, Tetapi Tuhan bahkan memberiku mata yang dapat menembus langit ke tujuh, dan memberi kemampuan mendengar percakapan manusia yang terlahir ribuan tahun setelahku.

" Ceritakanlah padaku bagaimana sesungguhnya yang terjadi ? " Apakah engkau kisah nyata atau hanya dongeng belaka ? " Tanya Nukhid, Pemuda yang hidup dua ribu tahun setelah kematianya.

" Ya, Cerita yang pernah kau dengar dari guru ngajimu itu benar adanya "

Aku masih kecil ketika Tuhan menganugrahkan Hikmah dan Syariat Isa padaku, Aku mengerti seluk-beluk keagamaan tanpa belajar dari guru.

Sejak usia dini, aku membiasakan berpuasa setiap hari, Sampai di usia balig, aku mampu berpuasa bersambung selama empat puluh hari dan tidak berbuka kecuali minum air putih di setiap air laut menghitam.

Di usia remaja, aku di angkat sebagai rahib. Dan pengikutku berlebihan mengikutiku. Mereka mengikutiku sebenarnya bukan karena aku ahli ibadah, Tapi karena mereka pernah mendengar cerita bahwa aku mampu berjalan di atas permukaan air tanpa rakit, atau bahwa aku bisa terbang tanpa sayap.

Betapapun, aku tetap manusia. Aku memiliki akal dan juga Nafsu. Dan karena bukan pertolongan Tuhan, tentu aku sudah terglincir sejak lama atas nafsuku.

Aku menyukai perempuan, ada setan yang merayuku, Aku laki-laki normal yang mencintai lawan jenis, Tetapi menjadi Rahib membebaniku. Aku tidak boleh menikah, Dan disini setan datang merayuku, bukan untuk menikah, tapi untuk berzina.

Setan putih diutus untuk merayuku, Aku tahu, penglihatanku lebih tajam darinya. Ia menyamar sebagai ahli ibadah yang mampu berpuasa sambung selama empat puluh hari, dan selama itu pula ia menunaikan salat tanpa henti.

Aku merasa geli dan ingin sekali tertawa, Namun aku tidak ingin menyakiti perasaanya. Ia memang ditugaskan untuk itu, Aku hanya pura-pura bertanya, " Selama itu kau tidak makan, minum, mandi, kencing, dan berak ?.

" Nafsuku telah sirna. Tidak ada dunia dalam diriku. Yang ada hanyalah Tuhan. "

Aku tahu apa yang selanjutnya akan terjadi, Dia akan menawarkanku bermaksiat kecil-kecilan agar aku merasa berdosa lalu beribadah sangat giat seperti yang diceritakanya. Dia akan mengajakku minum arak, lalu akal sehatku lumpuh, dan aku akan memperkosa wanita, lalu aku takut orang mengetahui kemudian aku akan membunuhnya.

Ini belum waktunya, Terpaksa aku berterus terang pada Setan putih, bahwa aku tahu dia adalah setan putih.

Aku kemudian beruzlah di sebuah bukit yang jauh dari penglihatan manusia, Di sana aku membuat rumah dari bambu, beratapkan dedaunan. Sembari menunggu keputusan Tuhan, Aku akan beribadah sebanyak-banyaknya.

Aku pikir tempat itu sudah tidak dikunjungi manusia. Rupanya masih ada saja pengembala yang mengembalakan dombanya disana.

Aku merasa terganggu. Terganggu karena kemudian cintaku pada Tuhan terbagi dengan pengembala itu, Aku pernah sedang berwirid hampir sundul langit, teralihkan oleh kerudungnya yang tersapu angin, rambutnya merah panjang menggerai melambai-lambai. Membuatku benar benar mabuk kepayang Teraduhai.

Alunan musik takdir sangatlah Indah, melebihi musik terbaik mana pun. Iramanya mengajakku menghentakkan kaki dan menggelengkan kepala secara lembut, manis, dan ritmis.

Pengembala itu mencari dombanya yang hilang, dan baru di jumpainya ketika mega langit luntur oleh kegelapan malam.

" Bolehkah aku menginap semalam saja di tempatmu ? "

Itu adalah pertama kalinya aku mendengar suaranya, Degup jantungku membenderang tak berirama.

Sungguh, Aku takut ia adalah korban takdirku. Namun, bagaimanapun juga, aku adalah bagian dari Takdirnya. Tuhan tidak hanya Tuhanku. Tuhan adalah Tuhanya semua selain Dia.

" Silahkan, Nyonya "

" Jangan merayuku dengan memanggilku Nyonya, Aku hanya penggembala domba "

" Maaf aku tidak bermaksud merayumu "

" Jangan pura-pura Tolol, Barsiso. Di Kehidupan ini tidak ada maksud kecuali maksud-Nya, Dan jangan mengira kau adalah satu-satunya yang diberi pengetahuan Oleh Tuhan atas apa yang akan Terjadi. "

" Jadi, kau tahu apa yang akan terjadi malam nanti ? "

" Setan putih menyimpan dendam atasmu, Dia akan datang di pertengahan malam. Sebenarnya kau tidak perlu bantuan dia untuk menjalankan garismu. "

" Beristirahatlah. Kau tampak begitu lelah . "

" Aku tidak bisa menunggu, Lakukan sekarang! "

Aku langsung mengecup bibirnya.

Dia menarik kecupanku. " Lakukan yang lebih, kau tahu apa yang harus kau lakukan "

" Aku mencintaimu. "

" Omong kosong! "

" Aku mencintaimu "

" Jangan membelok dari Takdir "

" Ini terlalu Indah "

Aku langsung membunuhnya, Membunuhnya dari perasaanku. Kemudian menguburnya dalam-dalam di pemakaman kenangan.

Setan putih datang di pagi harinya padahal aku sudah menunggunya sejak malam. Ia membawa empat lelaki yang berbadan ateletis, dan semakin tampak sangar dengan parang di pundaknya.

" Wahai Rahib cabul. Terkutuklah engkau yang telah memperkosa adik perempuan kami dan membunuhnya, " Kata salah satu di antara mereka.

" Aku bisa membantumu menghentikan mereka, " Kata setan putih "

Kalau bukan karena garis takdir, Aku akan menendang kepalamu, Setan Putih.

" Bersujudlah padaku, kau akan selamat "

Dan Engkau wahai Tuhan, Engkau yang maha mengetahui atas segala kejadian. Semua yang terjadi adalah kehendak-Mu. Aku melakukan apa yang Engkau larang, Semata-mata untuk menjalani takdir yang engkau Tetapkan.

Walau telah engkau ajarkan aku ism al-a'dzam Yang jika kugunakan pasti Engkau Kabulkan, Tapi aku tidak ingin melawan Kehendak-Mu. Dalam catatan Langit, tidak ada tertulis doa itu kugunakan memohon perubahan Takdir.

Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku pada pencipta langit dan bumi, Dan, aku termasuk orang-orang yang pasrah. Pasrah dalam Kekafiran.

Aku bersujud pada setan Putih, Dan aku Tahu ia akan menghianatiku dengan membiarkan empat pemuda itu memenggal kepalaku.

~( Susu Hitam Terakhir )~
M. Nuchid

0 Response to "Cerita santri | Alunan Takdir Kyai Barseso"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter