Cerita Santri | Senyuman Indah

Cerita Santri | Senyuman Indah

Malam itu adalah malam keindahan, Mungkin lailatukadar sedang kebetulan terjadi bukan di bulan ramadan. Melainkan di malam rabu terakhir bulan safar. Yang orang-orang menyebutnya dengan Rebo Wekasan, malam sial yang di dalamnya Tuhan menurunkan 320.000 sumber penyakit dan marabahaya dan 20.000 malapetaka.

perpaduan malam Lailatulkadar dan rebo wekasan ini melahirkan bayi yang begitu cantik, Mbrojol dari rahim seorang janda kembang berusia Tidak lebih dari dua puluh tahun.

Indah, demikianlah kemudian ibunya menamai, Tidak pernah menangis kecuali sesaat setelah kehadiranya di dunia. Setelah itu, ia hanya bisa tersenyum. senyuman yang begitu Indah.

Senyum indahnya tidak pernah lepas dari bibirnya yang Ranum merona. Menarik perhatian begitu banyak pria. Hanya pria yang memiliki kelainan seksual yang tidak terpikat hati olehnya.

Malam itu, Indah bermimpi bertemu seorang pria tampan di sebuah taman dengan ribuan jenis bunga. Pria itu memetiknya satu dan menyelipkanya di telinga Indah. Pria itu kemudian mengecup kening, mata, hidung, dan bibir indah.

Dan pria itu terus melakukanya hingga terasa hangat disebuah anggota tubuh indah yang kemudian ditumbuhi bebuluan halus.

Indah bangun dari mimpi indahnya dengan senyuman Indah. Mimpi itu terus melekat di permukaan matanya, dan semakin menjadi-jadi apabila ia memejamkanya. Dan itu membuatnya mulai memperhatikan penampilan.

Seperti memakai bedak dan mengoleskan gincu di bibir yang sebelumnya merupakan peristiwa yang tidak pernah terjadi.

Dengan penampilanya, barangkali ia akan berjumpa dengan pangeran di mimpi indahnya, Ia percaya, Setiap wanita akan didatangi Jodohnya melalui mimpi.

Lain mimpi lain kenyataanya. Hanya mimpi yang Indah, Kenyataan baginya selalu menyiksa, Kecantikan, di mana pun ia bersemayam, akan senantiasa menjadi kutukan. Indah adalah Ibunya kedua. Mereka sama-sama cantik, dan sama-sama menjadi Korban pelampiasan seksua pria miskin Normal.

Ibunya agak beruntung, karena ia dinikahi dahulu sebelum di setubuhi. Tetapi Indah, dinajisi kesucianya oleh orang yang mengajarinya pelajaran etika dan tatakrama.

Berbeda dengan Ibunya, walau sudah dinikahi, ia tetap menangis begitu suaminya yang kemudian mencampakkanya merenggut keprawannya.

Indah Tidak demikian. Ia justru tersenyum saat kepala sekolah sekaligus guru pelajaran akhlaknya melakukan pelecehan seksual.

Indah mengerti bagaimana membuat pria lemas, dan Tidak bisa Ngaceng lagi. Ia kerap mengintip ( Atau melihatnya, Lantaran kejadian itu kerap dilakukan tanpa menutup pintu kamar ) Ibunya melayani beberapa pria yang bergantian mellemaskan otot ke rumahnya.

Indah melakukan itu pada kepala sekolah sebelum kepala sekolah berhasil memrawaninya dengan titinya yang mungil. Ketika seperma itu mengotori tangan dan seragamnya, Dan ketika kepala sekolah memejamkan mata membayangkan diri di surga.

Sesaat kemudian ruang kepala sekolah itu becek darah. Mengalir dari selakangan pria buncit yang penisnya terpisah dari jasadnya. Indah tersenyum melakukanya, dan membawa ptongan penis itu pada Istri kepala sekolah.

Untuk kedua kali, Indah kembali bersua dalam mimpi pria yang beberapa malam Lalu ia Jumpai dalam mimpi, Ia tidak mengingatnya kecuali setelah melihatnya. Mimpi itu lebih Indah dari sebelumnya, Karena kali ini pria itu mengajaknya menikah. Senyum Indah mengalahkan Indahnya purnama.

Namun sayang beribu sayang, Lagi-lagi Indah hanya mimpi Indah. Indah ingin mencari pria itu dikehidupan Nyata, namun ia kembali lupa dengan wajahnya. Sampai ia bertemu dengan seorang pria tampan di bawah pancaran sinar rembulan.

Pria itu mengaku bahwa pertemuan itu telah direncanakannya. Pria itu mengaku bahwa setiap kali melihatnya, ia yakin bahwa dialah Jodohnya.

Indah berfikir, mungkin Ini mimpi ketiganya, Tetapi tidak. ia merasakan sakit saat mencubit pipi dan lenganya.

" Jadi, maukah engkau menjadi istriku? "

" Mau. Besok kita akan menikah. "

" Tidakkah sebaiknya kita saling mengenal dulu? "

" Aku sudah terlalu mengenalmu. "

Indah dan Andang kemudian menikah, dan mereka sangat harmonis dalam beberapa hari. Setelah itu, memipi ketiga Indah baru hadir. Dan ternyata pria yang kini menjadi suaminya bukanlah pria pria yang ada dalam mimpi itu.

Indah ingin mengabaikan mimpi itu dan tetap mengupayakan keharmonisan dalam rumah tangganya.

Tetapi kehidupan Nyata masih terlalu sama. Kejam. Disetiap malam andang pulang dari pekerjaanya, Indah selalu menyambut dengan perasaanya yang membara. Tentu, ia masih sebagaimana bisa. Senyum, Dengan senyuman yang Indah.

Walau ketika itu ia melihat bibir suaminya seperti barusan dikulum perempuan lain. Walau aroma keringat suaminya ia rasa telah bercampur dengan parfum perempuan yang bukan dirinya. Ketika mereka bersanding di tempat Tidur.

Indah menyentuh kelelakian suaminya., dan ia begitu tak berdaya. Seketika, si suami menepisnya dan berkata sebagaimana ia berkata di malam-malam sebelumnya, " Aku ngantuk. "

Indah berkata pada dirinya sendiri, ini hanya perasaan buruk, abaikan! Tetapi helaian rambut yang menempel di baju suaminya menghilangkan prasangka itu. Mengubahnya menjadi keyakinan.

Besoknya Indah membuntuti suaminya. Ia ingin mencabut gigi-gigi pelacur yang telah menggigit bibir suaminya, dan membakar kepalanya hingga tak ada sisa sehelai pun rambutnya.

Namun, di tengah perjalanan ia menjumpai sesuatu yang menghentikan perbuntutanya. Yaitu seorang pria yang duduk di bibir jembatan di bawah pancaran sinar rembulan.

Indah mendekatinya, dan beberapa saat memperhatikan wajah pria itu sebelum kemudia ia bertanya, " Mengapa engkau tidak tersenyum? "

Pria itu menoleh dan tersenyum.

" Oh,, Aku pikir kau tidak bisa tersenyum. "

" Sebelum ini aku tidak bisa tersenyum. Aku dikutuk Ibuku sendiri. Dan katanya, aku baru bisa tersenyum saat berjumpa dengan cinta sejatiku. "

" Wahai lelaki, kau merayu perempuan yang bahkan belum kau kenal atau mengenalmu. "

" Jangan mendustai peristiwa. Bukankah kita telah tiga kali berjumpa? "

Indah bangun dari tidurnya  ketika matanya tersiram cahaya matahari pagi yang membabi buta menerobos gang gang cendela. Ia tersenyum. Senyuman yang berbeda dengan senyuman-senyuman selama hidupnya.

Senyumnya kali ini bukan hanya Indah, Tetapi juga serasi dengan perasaanya. Tak henti-henti Ia memuji keagungan Tuhan begitu ia mendapati dirinya bangun tidur dalam keadaan telanjang di kamar yang bukan kamarya, bersanding dengan lelaki yang bukan suaminya.

~( Susu Hitam Terakhir )~
M Nuchid

0 Response to "Cerita Santri | Senyuman Indah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel