Pengertian Lengkap Pendekatan Contextual Teaching Learning

Contextual Teaching Learning

Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti “hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks)”. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teching Learning/CTL) merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007) CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka.

Menurut Tim Penulis Depdiknas, Pendekatan Kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dianggap tepat untuk saat ini karena materi yang diajarkan oleh guru selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, materi yang disajikan guru akan lebih bermakna. Siswa akan menjadi peserta aktif dan membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka.

Prinsip-prinsip Pendekatan Contextual Teaching Learning

1. Keterkaitan, relevansi (relation). Proses belajar hendaknya dikaitkan dengan bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa.

2. Pengalaman Langsung (experiencing). Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui kegiatan eksplorasi, penemuan (discovery), inventory, investigasi, penelitian dan sebagainya.

3. Aplikasi (Applying). Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dengan guru, antara siswa dengan narasumber, memecahkan masalah dan mengerjakan tugas bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam pembelajaran kontekstual.

4. Alih Pengetahuan (transferring). Pendekatan kontekstual menekankan pada kemampuan siswa untuk mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran tingkat tinggi, lebih dari sekedar hafal.

5. Kerja sama (cooperating). Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan dan komunikasi interaktif antar siswa.

6. Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain.
Berdasarkan uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan untuk menerapkan metode kontekstual dalam pembelajaran.

Implementasi kontekstual lebih mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil belajar, yakni proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan hanya transfer pengetahuan dari guru kepada siswa.

Karakteristik Pendekatan Contextual Teaching Learning

Menurut Johnson dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8 komponen yang menjadi karakteristik dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut :

1). Melakukan hubungan yang bermakna (Making Meaningfull Connection). Keterkaitan yang mengarah pada makna adalah jantung dari pembelajaran kontekstual. Ketika siswa dapat mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik tertentu dengan pengalaman mereka sendiri, mereka menemukan makna dan makna memberikan alasan untuk belajar.

Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.

2). Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antar sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat. Jadi pembelajaran harus memiliki arti bagi siswa.

3). Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning). Pembelajaran yang diatur sendiri merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan yang menghubungkan masalah dengan kehidupan sehari-hari dengan cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.

4). Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi.

5). Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencairan ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.

6). Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian seperti integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dan sebagainya.

Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.

7). Mencapai standar yang tinggi (reaching high standar).  Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai keunggulan tersebut, asalkan dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.

8). Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata.

Penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

Komponen-komponen Pendekatan Contextual Teaching Learning

1. Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofis) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak seakan-akan.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengamatan nyata, karena pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman nyata.

2. Menemukan (inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan berbasis CTL. Metode inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan siswa lain.

3. Bertanya (questioning)

Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk menggali informasi, menggali pemahaman siswa, membangkitkan respon kepada siswa, mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, serta membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa untuk menyegarkan kembali pengetahuannya.

4. Masyarakat belajar (learning community)

Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu ke yang belum tahu, dan seterusnya. Sehingga kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, keanggotaannya, jumlah bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan ahli ke kelas.

5. Pemodelan (modeling)

Proses pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru memberi model tentang bagaimana cara bekerja. Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL karena model dapat juga didatangkan dari luar untuk dihadirkan di dalam kelas. Pemodelan disini adalah bahwa sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh para peserta didik.

6. Refleksi (reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mendapatkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima (Depdiknas, 2003).

Refleksi dilakukan ketika pembelajaran berakhir, siswa merenung tentang kesalahannya dalam belajar lalu dia memperbaiki kesalahan tersebut dengan pengetahuan yang baru dia ketahui.

7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru agar bisa mengetahui bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran proses dan kemajuan belajar siswa perlu diketahui sepanjang proses pembelajaran.

Karena itu penilaian tidak hanya dilakukan pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Focus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.

Tujuan Pendekatan Contextual Teaching Learning

Adapun beberapa tujuan dari pembelajaran Kontektual ini, yakni sebagai berikut :

1). Memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari.

2). Agar dalam belajar siswa tidak hanya sekedar menghafal tetapi diperlukan juga pemahaman terhadap materi.

3). Menekankan pada pengembangan minat pengalaman siswa.

4). Melatih siswa agar dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar dapat menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.

5). Pembelajaran yang dialami siswa lebih bermakna.

6). Mengajak anak pada suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks kehidupan sehari-hari.

Langkah-langkah Pendekatan Contextual Teaching Learning

1. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic.
3. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
4. Menciptakan masyarakat belajar.
5. Menghadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran.
6. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.

Kelebihan dan Kelemahan Pendekatan Teaching Learning

1). Kelebihan Pembelajaran Kontekstual

a. Memberikan kesempatan pada siswa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki siswa sehingga siswa terlibat aktif dalam PBM.

b. Siswa dapat berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah.

c. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
d. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
e. Membantu siswa bekerja lebih efektif dalam kelompok.
f. Terbentuk sikap kerjasama yang baik antar individu maupun kelompok.

2). Kelemahan Pembelajaran Kontekstual

a. Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa. Padahal, dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehingga guru akan kesulitan dalam menentukan materi pelajaran karena tingkat pencapaian siswa tidak sama.

b. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM.

c. Dalam pembelajaran akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan rendah, yang kemudian akan menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.

d. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketinggalannya, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri. Jadi siswa yang mengikuti setiap pembelajaran dengan baik tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.

e. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah  menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan menggunakan model pembelajaran CTL ini.

f. Lebih mengembangkan kemampuan  soft skill daripada kemampuan intelektualnya, sehingga siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lisan akan mengalami kesulitan dalam belajar.

g. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.

h. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi, karena dalam pembelajaran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing serta lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.

0 Response to "Pengertian Lengkap Pendekatan Contextual Teaching Learning"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter