Sepenggal Kehidupan Pesantren Yang Tak Terlupakan

Kehidupan Pesantren Yang Tak Terlupakan

" Mungkin tidak banyak yang sepesial dari kisah ini, dan kalaupun bukan karena permintaamu wahai guruku tercinta aku tak akan menuliskannya kedalam rangkaian kalimatku yang sangat lugu ini ".

Semenjak lulus dari Madrasah Tsanawiyah aku minta kepada oorang tuaku agar aku dipondokkan di mana pun itu tempatnya, yang penting aku bisa mengembara ke dunia luar untuk mencari pengalaman sekaligus ngangsu kaweruh dining ndalem para kiai.

Mendengar permintaan ku itu, orang tua ku sangat senang, karena itu sudah menjadi rencana mereka untuk membuang saya di pesantren. Mereka menyuruhku agar aku mondok di pesantren yai Baqir katanya. Yaitu pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah kranji.

Rabo 17 Juni 2015, tepatnya  satu hari sebelum bulan Ramadhan, setelah berpamitan dengan sebagian dari guru” ku di desa dan kedua orang tua sekaligus keluarga, dengan di antarkan sahabat” ku  berangkat lah aku menuju pondok pesantren yg di asuh oleh KH. Muhammad Nasrullah Baqir putra dari KH. Baqir Adelan.

Setibanya di sana dan menginjak kan kaki di tanah yang penuh dengan barokah tersebut hati ku berbunga-bunga, karena bahagiah bisa melanjutkan pendidikan di daerah baru yang masih asing buat ku sekaligus senang karena bakal dapat teman” baru serta memulai hidup yang baru.

AL-Magriby asramanya siswa jurusan keagamaan  sebagai rumah kedua ku. Tempat ku berteduh, tempat ku beristirahat setelah mencari ilmu. Disinilah aku belajar membiasakan sabar, disiplin, menghargai orang lain, memperbaiki diri serta bermunajat kepada sang Ilahi Rabbi.

Ketika subuh menjelang bersama-sama  kita pergi ke masjid menunaikan ibadah sholat shubuh, dilanjutkan dengan mengaji Al-Qur’an lantas piket  habis itu sekolah. Menjelang sore kita kembali menyibukkan diri mengingat  Allah ngaji diniyah, sholat ngaji, belajar habis itu tidur semua itu kita lakukan berulang ulang  setiap hari.

MAK ( Madrasah Aliyah Keagamaan ). Wadah  tempatnya mencari ilmu dari Guru”ku. dialah tempat ku belajar berbagai  hal, diantaranya Organisasi ( Ke-MAK_AN ) yang bisa membuatku sadar betapa pentingnya solidaritas ( kerja sama/kekompakan ) dan tanggung jawab.

Tempat aku di didik untuk siap terjun di masyarakat serta siap melangkahkan kaki menuju masa depan. Tempat yang penuh dengan kenangan yang membuatku betah karena kekeluargaanya yang dapat membuka wancana bagaimana seharusnya menjalani kehidupan tanpa keegoisan.

Tarbiyatut Tholabah ya inilah tempat yang penuh dengan barokah yg didirikan oleh al-magfurlah KH. Musthofa Abdul Karim pd Jumadil Akhir 1316 H/Nopember 1898 M.

Tempat di mana aku di didik agar selalu sopan dan menjaga perilaku serta selalu mentaati peraturan, karena bagi santri yang melanggar aturan hukumannya bermacam macam mulai dari di suruh ngaji, bersikan kamar mandi, berdiri di pondok putri sampai harus di gunduli.

Belajar di pesantren memanghlah menyenangkan itulah yg terkesan di kehidupan ku sehari hari.

Senang bukanlah berarti makan enak, tidur di kasur empuk atau semua keinginan bisa terpenuhi, tapi senang karena bisa belajar dan berdiskusi bersama serta di anugerahi Kiai” dan Ustadz” yang  menyamudra ilmunya juga teman” yang bak keluarga yang selalu ada baik suka maupun duka.

Aku bahagia bisa menjadi santri…..
Santri itu…………………..

Hobby nya : ngaji dan ngerumpi
Kerjanya : pokoknya serba ngaji
Surganya : pas libur ngaji
Nerakanya : pas kena sangsi
Bahaginya : pas bisa ngaji terus ketemu pujaan hati
Kalau gak ngaji : ya tidur lagi
Gak punya pacar : gak merasa rugi ( jomblo fisabilillah )
Gak punya motor : ya jalan kaki
Paling anti ama : Diskriminasi
Itulah uniknya santi kranji…..!!!!!

Penulis Adalah Santri Tarbiyatut Tholabah. ( Mujiono )

0 Response to "Sepenggal Kehidupan Pesantren Yang Tak Terlupakan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter