Cerita Santri | Surga di Telapak Kaki Ibu

Cerita Santri | Surga di Telapak Kaki Ibu

" Kamu pikir berlama-lama mengaji bisa bikin kenyang? Kerja sana! "

" Baik, Ma. " Seketika Keisya melepas kerudungnya dan menaruhnya di lemari. Lalu mengacak-acak pelan Rambutnya dengan Jemari. Mengganti pakaian Ngajinya dengan pakaian Kumuh yang sobek sana sini.

Ini tidak Lumrah terjadi, Keisya tidak pernah senurut barusan, apalagi menaruh kerudung di lemari. Ia memang melakukan apa yang diperintahkan Ibunya, Setelah mengumpat dan melemparkan kerudungnya ke wajah Ibunya. Kini, dia seperti melakukanya tanpa beban. Dan itu membuat jamila malah heran.

" Kamu kerasukan jin dari mana, kei? "

" Kata Pak Ustadz, ada sebuah Hadist yang mengatakan bahwa surga ada di telapak kaki Ibu, Kalau keisa menentang kehendakmama, Keisya akan menjadi manusia paling rugi di muka bumi. Sudah mlarat di dunia, di akhirat mendapat siksa. "

Jamila tersenyum. " Anak Pintar! Dapat uang yang banyak, ya! Tapi jangan dengan menjadi Ustazah. "

Setelah dewasa, Keisya mulai berani mempertanyakan soal Kebenaran Hadist yang di sampaikan pak ustadz itu, Apakah benar itu sebuah Hadist, Bagaimana kedudukanya, Dan kalau kualitas Hadistnya baik, apakah berlaku untuk semua Ibu di dunia.

Pak Ustadz yang ditanyainya ternyata tidak lebih mengerti jawabanya dari Keisya yang bahkan tidak pernah menganyam pendidikan kecuali melalui koran bekas dan radio dan dirinya.

" Kamu tahu kan kei, bahwa orang tua itu ibarat Tuhan yang kelihatan? Ridha Tuhan bergantung kepada Orang Tua. Murka Tuhan bergantung pada urka orang tua, Keisya cukup ngangkang, dan Mama akan berikan rida dan surga Mama buat Keisya. "

" Keisya menjadi pengemis saja, Ma. "

" Lihatlah dirimu, Kei, Kamu sudah dewasa. Kamu terlalu jelita untuk sekedar menjadi pengemis. Lagi pula, pengemis itu uangnya sedikit. "

" Mengapa Tidak mama saja? "

" Kamu Ngomong apa? "

Keisya bergeming.

" Jangan permalukan mama, Kei! mama sudah menerima puluhan juta uang. Dan jika kamu tidak melayani pria yang ada di ruang tamu itu, kamu tidak akan pernah mendapat surga. "

" Baik, Ma. "

Keisya berdandan dan memakai wewangian sebelum melayani pria yang telah memberi ibunya banyak Uang itu.

" Jangan yang itu! " Cegah Keisya kala pria itu hendak memasukan burung ke sangarnya. " Kecuali kau menambahkan sejumlah uang. "

Pria itu melemparkan puluhan lembar rupiah merah sebelum memasukkan burungnya yang rupanya hanya berlangsung tidak lebih dari dua menit.

Keisya memungut gelembar uang di lantai setelah pria itu pulang dan setelah keisya membersihkan sperma busuk yang berceceran di Vagina dan sekitarnya.

Uang itu diberikan pada Jamila, dan lalu Keisya menagih rida dan surganya.

" Keisya, Sayang. Telah kuberikan seluruh rida Mama dan kedua surga mama. "

" Terima kasih, Ma. "

Keisya telah mendapatkan segalanya. Ia kemudian pergi meninggalkan Ibunya membawa rida dan dua surga yang ia potong saat ibunya tidur. Niatnya agar Ibunya tidak kesakitan. Tapi baru satu yang terpotong, Ibunya keburu bangun. Tanggung, Ia memotong satunya lagi. Toh, ibunya sudah meridainya.

Beberapa hari setelahnya, dua surga yang dibawanya dibuang. Dua-duanya telah membusuk.

~( Susu Hitam Terakhir )~
M Nuchid

0 Response to "Cerita Santri | Surga di Telapak Kaki Ibu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter