Asrama Bebek dan Grojogan Sewu, Alex’s Sugiman

Asrama Bebek dan Grojogan Sewu

" Orang berilmu dan beradab tidak akan tinggal diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. "

Itulah sepenggal ungkapan Imam besar mazhab kita, yaitu Imam Syafii. Ungkapan yang begitu dahsyat membakar jiwa seorang pencari ilmu. Tidak hanya kami para santri TABAH, tetapi ada ribuan anak muda di luaran sana yang juga terinspirasi oleh ungkapan ini. Dengan tekad yang kuat, berlari menyongsong masa depan yang penuh gempita di pondok pesantren.

Dengan napas terengah-engah, aku berlari ke dalam kelas baruku. Kelas yang sangat panas dan kedap udara membuat keringatku keluar sejagung-jagung. Aku ambil tisu dan kuusapkan ke wajah.

Satu per satu teman baruku mulai berdatangan. Mereka datang dari berbagai kota, membuat kelas yang sempit itu menjadi penuh. Tak berapa lama kemudian, datang seorang yang berambut gondrong, memakai celana jeans, namun bertengger kopyah di kepala.

Beberpa jenggot tumbuh di dagunya, persis seperti kambingku dirumah. Dia sangat kampungan, mulutnya sangat lincah ketika berbicara. Itulah pertama kali aku berjumpa dengannya. Tetapi, dengan berjalanya waktu, temanku yang kampungan itu berubah menjadi pemuda gaul dan mampu menyelesaikan pendidikanya sampai strata satu.

Kami adalah sekelompok kecil di antara ratusan santri TABAH. Kami mencoba menyucup bersama sekelumit ilmu dari para masyayikh TABAH. Awalnya, kami tinggal di asrama baru, yang berada di atas musala al-Ihsan. Oleh Gus Falah diberi nama asrama Haramain. Kami sangat takut, karena beberapa teman ada yang di-weruhi sosok wanita tua di tangga masuk asrama. Selama lebih dari tiga tahun akhirnya kami tinggal di asrama Haramain itu.

Tinggal dan hidup bersama para santri di asrama Haramain yang kemudian memilih pindah tinggal di sebuah gubuk. Gubuk yang sangat indah untuk kawanan santri yang suka menyamun. Mungkin tidak sebagus kamar hotel bintang tujuh, tetapi ia teramat sejuk. Mandi tinggal menimba di sumur. Tidur tinggal naik ke tumpukan kayu.

Jauh dari masjid pondok. Kami berada di ujung kulon, barat rumah Gus Agus, sebelah utara Gus Lubab. Orang-orang menyebutnya " asrama bebek ".
Disebut “asrama bebek”, karena dulu asrama kami adalah gubuk bekas kandang bebek dan pabrik pembuatan kerupuk.

Ada ratusan bebek yang pernah tinggal di gubuk ini. Gubuk mirip kandang yang terbuat dari kayu beratapkan genteng itu, di akhir tahun kami mondok sudah tidak digunakan untuk mempelihara bebek. Lambat laun akhirnya ditinggali kawanan santri. Jadi karena gubuk ini ditinggali para santri, akhirnya disebut asrama bebek. Biarpun jauh dari masjid, kami tetap rajin jamaah, ngaji Alquran, ngaji kitab, dan kegiatan lainnya.

Pagi-pagi buta ngaji Alquran di Ummi Lutjeng. Karena sering tidak masuk, kami juga pernah ditakzir membaca Alquran di depan kantor pondok putri. Ribuan pasang mata santri putri memandangi wajah kami. Ah, malu sekali. Itu salah kami terlalu lama nggobrot (bahasa santri yang lama kalau cuci muka), padahal Ummi sudah mewanti-wanti agar datang ngaji lebih awal, biarpun bau ababnya masih kotak kotak.

Sekalipun demikian, kami adalah para santri yang mencoba menghafalkan Alquran. Yang masih saya ingat dari Ummi Lutjeng ketika menasihati kami untuk giat menghafalkan Alquran ialah: “Alquran itu bagaikan intan permata, yang dari segala sisinya memancarkan cahaya keindahan.”

Kami jadi semangat sekali belajar. Tetapi sayang, dasar umur sudah cukup tua, pikiran nikah juga menjadi faktor penghambat menghafal cepat. Beberapa teman sudah berumur kisaran 32 sampai 29 tahun. Cukup tua untuk ukuran anak muda yang baru mulai mondok. Apalagi kami ada yang dari Cilacap. “ Wis gak iso muni ‘ain, isone ngain.”

Hari-hari nyantri kami isi selain ngaji dan sekolah, juga dengan ro’an (kerja bakti ala santri). Yang saya suka ketika ro’an dengan Om Mizan, adalah membersihkan selokan air dan nguras jeding tiap seminggu sekali. Selain ro’an kebersihan di area pondok putra, kami juga sering melakukan ro’an di grojogan sewu.

Grojogan sewu, adalah sebutan untuk spiteng pondok putri. Yaitu tampungan pertama kotoran BAB santri putri. Lokasinya di selatan musala pondok putri. Hingga suatu ketika, sampai dua minggu tidak dibersihkan. Masyaallah, luar biasa, sampai-sampai membersihkannya memakai minyak wangi di hidung. Benar saja, memang seharusnya tiap hari Jumat pagi, seminggu sekali dibersihkan. Ini sudah kelewat batas tidak dibersihkan. Nama “grojogan sewu” bukan sesuatu yang asing bagi pengurus pondok putra dan putri angkatan 2010-an.

Alangkah indah mondok di Kranji ini. Biarpun airnya asin, tetapi selalu ada banyak hal yang kami pelajari di pondok TABAH ini. Yang terpenting adalah belajar memperbaiki akhlak, seperti dawuh Romo Kiai Nashrullah Baqir, “ Belajar adalah tingkah laku, noto toto kromo naliko ing pondok.” 
Tinggal di lingkungan pondok ini, akhlak kami diperbaiki. Juga kemandirian,  karena jauh dari orang tua, yang menuntut agar semua harus bisa sendiri. Sebenarnya kami punya asrama, yaitu Haramain. Tetapi suasanya panas banget, apalagi ketika sore hari, tepat mengarah ke barat.

Masih ingatkah kita bila hari Sabtu pagi setelah salat Subuh, mengaji Alquran dengan Yai Syafi’, yang suaranya sangat khas, serak-serak basah, sudah sangat sepuh tetapi masih penuh semangat? Ini mengajarkan pada kita yang masih muda, agar jangan sampai kalah dengan yang tua. Pengajian ini dilakuakan oleh semua santri MA dan pasca, sementara santri MTs., pengajian untuk hari Sabtu pagi, berada di asrama MAK, dipimpin langsung oleh Ustaz Nur Hakim, mantan ketua pondok.

Setelah itu, berganti pengajian Jumat pagi yang dibimbing langsung oleh Romo Kiai Nasrullah Baqir, dengan kitab “Adāb al-Muta’allimīn”. Pengajian kitab ini untuk semua santri, baik putra maupun putri.

Sepanjang pengajian Romo Kiai, yang bisa kami petik ialah, yang menjadi landasan santri adalah hikmah. Yaitu, menilai keadaan dan mengharap rida Allah semata. Coba renungkan firman Allah, “Serulah kepada jalan Tuhan Pemeliharamu dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Dan berdebatlah bersama mereka dengan cara yang baik pula.” (Q.S. Al-Naẖl: 125)

Kemudian Romo Kiai menambahkan pada kami, dengan wawasan yang diambil dari dawuh Imam Ghazali dalam “Iẖyā’ ‘Ulūm al-Dīn”, “Janganlah mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran kecuali dengan lemah lembut, memberi perintah dengan bijak, dan melarangnya dengan cara bijak pula. Dengan sopan dan santun.”

Romo Kiai juga menceritakan kisah tentang seorang laki-laki yang datang kepada khalifah Makmun. Ia memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran. Ia tidak tahu bahwa setiap kata-kata ada tempatnya, dan setiap tempat ada kata-katanya. 
Khalifah Makmun adalah orang yang sangat cerdas. Ia berkata, “Hai, Pemuda. Allah telah mengutus orang yang lebih baik dari kamu, kepada orang yang lebih jelek dari saya.” Kemudian ia pergi tanpa jawaban.

Di sini, Romo Kiai memaksudkan agar jangan melarang atau memerintahkan sesuatu sekalipun itu baik, dengan cara yang salah, seperti laki-laki yang datang pada khalifah Makmun itu.

Selain itu, kami masih ingat perkataan Mbah Musthofa dari Paloh saat pengajian Ramadan. Beliau menasihati kami agar selalu berkata yang lembut dan memotivasi. “Hiasilah suaramu dengan Alquran, agar ada bekas di bibirmu. Nanti, ketika kamu sudah dewasa, hidup di masyarakat, saat menasihati orang, maka bernasihatlah dengan lembut dan sopan. Karena nasihat merupakan obat yang pahit. Untuk itu, campurlah dengan kalam yag manis.” 

Lebih jauh beliau menambahkan, bahwa Yahya bin Muad berkata, “Sebaik-baik sesuatu adalah kalam lembut yang keluar dari sanubari, dan dari lidah lelaki yang penyayang.”
Beliau juga mengisahkan tentang Baginda Nabi Muhammad dan orang Yahudi. Suatu hari, ada orang Yahudi, berpapasan dengan Rasulullah di perjalanan.

Orang Yahudi itu berkata, “Matilah kau!”  kepada Rasulullah. Sekilas kata itu mirip “Selamatlah engkau.” Rasulullah menjawab, “Demikian pula ntukmu.” Namun, di sisi Rasulullah ada Aisyah. Ia berkata, “Sebaliknya untukmu, mati dan laknat.” Ketika orang Yahudi itu berlalu, Rasulullah berkata kepada Aisyah, “Jangan begitu, Aisyah.”

Inilah akhlak yang diharapkan ada pada santri Tabah, sebisa mungkin meniru akhlak Baginda Nabi Muhammad Saw. Akhlak yang luhur dan terpuji. 

*Penulis: Alex’s Sugiman. Dia adalah santri Tabah, angakatan 2009-2017. Lahir di Cilacap, Jawa Tengah, dekat Nusakambangan. Pertama mondok di Kranji masuk Ma’had ‘Ali, al-Jāmi’ah, dan berakhir di semester tujuh. Kemudian pindah ke Staidra, jurusan komunikasi. Sekarang, ia menjadi guru di MTs. Tabah, sambil meneruskan S2 KPI di Uinsa Surabaya. Pernah menjadi pengurus pondok Tabah bidang keamanan, dan ketua pondok satu.

0 Response to "Asrama Bebek dan Grojogan Sewu, Alex’s Sugiman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter