Bangun Dalam Pembangunan Pesantren, Oleh Hormon Sugriwo

Bangun Dalam Pembangunan Pesantren

Dalam kebiasaan bangunnya para santri putra dalam sebuah pondok pesantren, Anda sekalian tidak akan menemukan hal lumrah yang terjadi di kala paginya orang-orang yang tidak mondok. Kalau orang-orang umum yang tidak mondok, saat pagi akan dibangunkan oleh suara kokok ayam, azan Subuh, atau alarm yang telah disetel sedemikian tepatnya hingga orang-orang tersebut bisa bangun dengan nyenyak dan tenang.

Tetapi, Anda-Anda sekalian yang pernah mondok meskipun cuma sebentar, seperti mengikuti pondok kilat, maupun pondok Ramadan (berada di pondok pesantren pada saat bulan Ramadan saja), pasti tahu bahwa bukan hal-hal di atas  yang membangunkan para santri ketika Subuh. Dalam prosedur membangunkan para santri terdapat dua cara.

Pertama, dengan cara halus, yakni menyuruh bangun santri dengan ucapan sambil menggerakkan badan si santri supaya dia tersadarkan. Bilamana cara halus yang pertama sudah tidak mempan maka kang pengurus akan mengambil cara kedua.

Tindakan tegas. Suara kokok ayam atau alarm tadi seketika tergantikan dengan sarung, penjalin, atau alat cambuk lainnya, yang di cambukkan dan tentu saja menghasilkan bunyi yang tidak lirih.

Selain itu, suara gemuruh saat para santri berlari kencang, secara gemeruduk, santri yang lain seketika akan bangun untuk menghindari cambukan, tungkakan, siraman air, dan hal-hal lainnya yang lazim dipergunakan untuk membangunkan santri yang molor ketika waktu salat Subuh.

Tetapi, yang namanya kumpulan banyak orang, ya tidak serta merta santri yang telah terbangunkan itu tadi lantas membuat santri yang tidak kena cambukan, tungkakan, maupun siraman air langsung mengambil air wudu untuk kemudian salat berjamaah.

Ada saja para santri yang kemudian mencari tempat untuk menghabiskan waktu salat Subuh dengan berjongkok di WC sampai pagi, dan mereka ini dengan ikhlas melakukan ritual perjongkokan tersebut tanpa “gerutu” apalagi “sambat”. Bagi mereka yang jongkok tadi, terdapat semacam kepuasan tersendiri ketika si penjongkok merasakan sejuknya matahari pagi sehabis jongkok selama kurang lebih 3-4 jam.

Namun yang namanya tempat persembunyian, suatu saat juga akan tercium bau kentutnya. Dan jika tempat jongkok para santri mbeling tadi ketahuan, para santri tersebut akan mencari tempat baru yang belum teridentifikasi sebagai tempat persembunyian. Nah, di sinilah otak para santri mbeling dipergunakan untuk berpikir keras. Kalau tidak ada tempat, ya membuat tempat untuk bersembunyi, bisa di dalam lemari, bisa di atas platfrom atap kamar, kalau perlu leng tikos kalau muat ya dijabanin, dan si tikus akan diusir dari leng-nya.

Nasib para santri mbeling tadi akan nyaman kalau tempat persembunyian mereka ajeg seperti itu terus. Mereka akan merasa bahagia dan tiap Subuh bisa bersembunyi dengan nyaman. Tetapi, kalau lokasi persembunyian tersebut telah dibuat bangunan baru, apalagi yang anti persembunyian, maka sekali lagi otak mereka akan dipakai melebih saat otak mereka disuruh menghafal kitab Jurumiah atau dipergunakan utuk menghafal juz Amma.

Mungkin, di sinilah pembangunan sebuah pondok pesantren memiliki andil yang begitu besar bagi para santri. Santri-santri yang biasanya memanjat pagar sekadar untuk memencet Stick Play Station, tentunya akan berpikir ulang kalau ternyata tembok yang biasanya mereka loncati kini tingginya menjadi 4 meter lengkap dengan serpihan kaca di atasnya.

Pengambangunan dalam bentuk fisik dalam cerita di atas, senyatanya telah membangunkan kita dari prasangka awal bahwa pembangunan fisik tidak serta merta berbanding lurus dengan pembangunan daya pikir para santri. Namun, faktanya telah semakin banyak dan sulit sebuah bagunan untuk diterobos/dilompati, semakin keras pula para santri untuk memikirkan bagaimana caranya lolos. Di situlah letak pembangunan manusia berjalan, di mana santri dituntut untuk kretif dan berani mengambil risiko demi terpuasnya keinginan mereka masing-masing, yang ingin sekadar memenuhi hasrat batin mereka.

Mulai dari subuh sampai menjelang subuh kembali, tidak ada tenaga yang tercurahkan sebegitu besar melebihi upaya meloloskan diri. Dari upaya meloloskan diri ini, para santri mbeling dituntut berani berkorban, berkorban fisik semacam kalau saja meraka “tercyduk”, maka hukuman menjadi harga mati bagi mereka. Mereka pun tertuntut untuk berani mengeluarkan uang saku. Lah wong sepeda motor aja mereka bisa patungan untuk dipakai saat mereka keluar pondok. Inilah kekuatan finansial santri zaman now yang tidak bisa dianggap remeh seperti remah-remah rengginang.

Lalu, pertanyaan besar yang mesti kita jawab bersama-sama adalah, mau di kemanakan segala modal yang dimiliki oleh santri mbeling tadi? Apakah kita akan membiarkan ke-mbeling-an mereka menjadi ha-hal yang remeh temeh seperti saat bangun tidur atau keinginan menerobos tembok, atau bisakah kita mengolah kemampuan kreatifitas dan finansil yang biasa mereka lakukan diarahkan ke hal lain yang lebih positif. Rupa-rupanya itu akan tetap menjadi PR kita bersama.

Toh, dalam realitas tidak mungkin juga semua santri yang berjumlah ratusan akan bermain hadrah sementara alat hadrah hanya ada 1 set, bahkan 10 set alat hadrah pun tidak akan mencukupi seluruh kebutuhan kreatif para santri. Lalu, ke manakah santri lain yang tentu saja memiliki hasrat kreatifitas lain selain hadrah itu tadi?

Sejatinya, marilah kita bangun sambil memikirkan problematika ini, diiringi oleh lagu dari grup nasyid Raihan: 

Tabuh Berbunyi Gemparkan Malam Sunyi

Berkumandang Suara Azan

Mandayu Memecah Sunyi

Selang Seli Sahutan Ayam

Tetapi Insan Kalaupun Hanya Ada

Mata Yang Celik Dipejam Lagi

Hatinya Penuh Benci

Berdengkurlah

Kembali

Begitulah Peristiwa 

Di Subuh Hari

Suara Insan 

Di Alam Mimpi

Ayo Bangunlah

Tunaikan Perintah Allah

Sujud Mengharap Keredhaan-Nya

Bersyukurlah Bangkitlah Segera

Moga Mendapat Keredhaan-Nya

Begitulah Peristiwa 

Di Subuh Hari

Setiap Pagi Setiap Hari

Wassalam. Semoga berkenan.

0 Response to "Bangun Dalam Pembangunan Pesantren, Oleh Hormon Sugriwo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter