Cerita Kardi | Episode Dua

Cerita Kardi | Episode Dua

Tidak makan dan minum kecuali air susu ibunya selama dua tahun, menjadikan tulang-tulangnya begitu kuat. Otot-otot kaki dan tangannya juga keras dan kencang. Memang, baru di usia lima tahun ia mampu berdiri, tetapi ia berdiri dengan sangat tegak. Jika berjalan, dadanya membidang dan arah wajahnya lurus ke depan, dan langkahnya begitu mewibawa dan berirama, seperti orang yang sudah berusia dua puluh lima. Pakaiannya sangat rapi dan bersih, tanpa ada satu pun bagian yang lungset atau bernoda.

Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah. Ia mendapat duduk di bangku paling belakang, di samping anak-anak yang petakilan. Anak ini bukan saja pendiam, tetapi juga tak pernah, atau lebih tepatnya memang tidak bisa berekspresi. Ia diam saja saat ada yang menjahili. Pandangannya selalu ke papan tulis saat guru mengajarkan, dan ternyata itu tak membuatnya pintar.

Di akhir tahun pelajaran, saat pengambilan rapot sekolah, Kardi dan Mardiah menangis, sebab anaknya memiliki nilai merah semua.

“Dia selalu memerhatikan saat pelajaran berlangsung. Saya benar-benar tidak menyangka, ternyata anak Anda setolol itu. Tetapi berkat keaktifannya belajar, walau dia sangat tolol, kami akan tetap mengusahakan agar dia bisa naik kelas. Tetapi saya berharap, di kelas selanjutnya, anak Anda bisa berhenti dari ketololannya.”Wali kelas itu tidak menyadari, bahwa setiap ia bilang “tolol”, hati Kardi dan Mardiah seperti ditusuk oleh linggis yang terbuat dari api neraka.

“Itu karena mereka menempatkanku di bangku belakang, Pak, Bu,”kilah Bassam, saat Kardi memukuli tangan dan kakinya dengan ikat pinggang.

Ikat pinggang adalah satu-satunya opsi hukuman yang terpikir oleh Kardi. Karena ia pernah memukul dengan tangan, tangannya sendiri yang sakit. Saat ia memukul dengan gagang sapu, gagang sapunya yang patah.

“Kalau tahun depan kau masih berada di peringkat terakhir, kau bukan anakku lagi, Bassam.”Kardi memungkasi kemarahannya.

“Apakah itu berarti kau bukan lagi ayahku?” tanggap Bassam dengan wajahnya yang imut nan datar serta menjengkelkan itu.

“Dia benar-benar anakmu, Kard. Pandai bersilat lidah,”sahut Mardiah.

“Di usianya, aku belum sepandai itu, Mard.”

Di kelas berikutnya, Bassam duduk paling depan. Dan itu sama sekali tidak membuatnya terentas dari kedunguannya menerima pelajaran. Di tengah pelajaran, saat guru bertanya, Bassam tidak pernah menjawab. Sekali menjawab, ia hanya menjawab dengan “a”, “e”, atau “o”. Itu membuatnya menjadi korban bully teman-temannya. Dan ketika itu, ia mendapat julukan baru: si Bisu.

Ketika dibully, Bassam tidak pernah melawan. Jangankan melawan, menengok pembullynya pun tidak. Jangankan menengok, berekspresi pun tidak. Dan itu membuat mereka semakin menjadi-jadi. Teman-temannya yang duduk di deretan bangku belakang bahkan pernah sampai nempeleng kepala Bassam. Dan dalam hati, Bassam justru tertawa, karena tangan mereka tidak lebih keras dari batok kepalanya.

Tidak ada guratan sedih atau marah di wajahnya, bukan berarti ia tidak memiliki rasa. Setiap manusia memiliki rasa. Bahkan hewan dan tumbuhan pun memilikinya. Jika hanya mengejek dirinya atau bermain fisik semata, Bassam masih bisa menerima. Tetapi kali ini ia benar-benar tidak bisa terima. Satu di antara teman-temannya yang duduk di barisan belakang, membuat kesalahan besar. Anak itu menghina ibunya dengan mengatai lonte. Dan kesalahan anak itu semakin agung karena didukung oleh tertawa setelah mengatainya.

Di sela tawa anak yang barusan menghina ibunya itu, Bassam melempar polpen tepat di mulutnya, dengan posisi bagian runcing polpen berada di dalam. Anak yang mulutnya tertelan separuh polpen itu, akhirnya bisu.

Salah satu dari gerombolan anak yang mulutnya tertelan polpen, melapor kejadian tersebut pada Kepala Sekolah. Bassam dipanggil, belum ditanya apa-apa, Kepala Sekolah langsung menampar kepalanya. Bassam tidak terima walau tidak ada guratan ketidakterimaan di wajahnya dan walau ia sama sekali tidak merasakan sakit di kepalanya, sebuah jotosan mendarat di kepala si Kepala Sekolah. Telinga Kepala Sekolah itu mengucurkan darah dari telinga, dan hingga kini, sebelah telinga si kepala sekolah tidak bisa mendengar.

Setelah mengalirkan darah di telinga Kepala Sekolah, Bassam mendatangi anak yang melaporkannya kepada Kepala Sekolah. Ditinjunya hidung anak yang melaporkan kepada kepala sekolah itu hingga darah mengalir deras seperti plancuran wudu.

Orang tua anak yang mulutnya diseseli polpen, dan orang tua anak yang melaporkan kejadian itu, mendatangi Kardi. Kardi memohon maaf atas kegagalannya mendidik anak. Seperti orang hina, Kardi berlutut. Tetapi Bassam tetap berdiri tegak. Dengan isyarat kepala, Bassam menyuruh bapaknya berdiri. Sejurus kemudian, orang tua anak yang mulutnya diseseli polpen dan orang tua anak yang melaporkan kejadian itu bertekuk lutut. Meminta maaf kepada Bassam dengan mulut yang mengalir darah.

Bassam dikeluarkan dari desa, termasuk dari sekolahnya.

“Aku telah berdoa sepanjang hari, agar kekuatan kakekku tidak menurun ke anakku, tetapi kutukan memang tidak bisa dihindari.”

“Ini sudah takdir, Kard.”

“Tapi, Mard. Harusnya kaudidik Bassam dengan baik, agar tidak menyalahgunakan kekuatannya yang bukan pada tempatnya.”

“Aku menggunakan kekuatanku pada tempatnya, Bapak. Anak yang kuhajar itu bilang kalau Ibu lonte. Aku tidak terima siapa pun menghina Ibu.”

“Tapi kamu bisa menahannya Bassam.”

“Tapi aku tidak terima Ibu dihina.”

“Tapi kalau kamu marah, itu berarti kamu mengiyakan perkataan temanmu itu.”

“Tapi kamu terlalu banyak bilang ‘tapi’, Kard. Menurutku, apa yang dilakukan anakku benar. Apa susahnya pindah desa?”

“Tapi ... kita akan kembali ke desa ini, kan, nantinya? Kita tidak mungkin meninggalkan rumah yang telah kita bangun dengan kucuran keringatku ini, kan?”

“Jangan lebay, Kard. Dan jangan berbicara seakan-akan kamu benar-benar tidak ingin pergi dari desa ini karena rumah. Kita hanya dideportasi lima tahun.”

“Bassam, apakah kali ini aku harus memukulmu?” Kardi mengalihkan pembicaraan.

“Bapak, sudah pernah lihat berita tentang anak yang memukuli ayah kandungnya?”

Di sekolahan barunya, Bassam telah membisikkan di telinganya sendiri agar tidak lagi membuat ulah.
Namun, Bassam tidak tahan saat perkenalan, ia ditertawakan lantaran hanya berdiri mematung di depan, menghabiskan tujuh menit dalam diam, tanpa ekspresi. Tidak lama setelah itu, masing-masing siswa di kelasnya, pulang dengan luka sobekan kecil di wajah mereka.

Kardi dan Mardiah cuma bisa melongo saat puluhan orang datang ke rumahnya membawa berbagai alat pertanian. Salah satu di antara mereka berkata, “Kalau kalian tidak pergi dari desa ini, aku akan mencangkul kepala kalian.”Yang membawa arit berkata, “Kemudian kugorok leher kalian.”

Mereka berpindah-pindah rumah berkali-kali, bahkan keong pun tidak secepat itu untuk ganti rumah. Sampai lima tahun kemudian, barulah mereka bisa menetap di desa Gendakan, desa asalnya. Dan Bassam tidak pernah lagi membuat ulah, karena ia ditaruh di pesantren.

Kardi dan Mardiah menyerahkan putranya ke Kiai Syamsul, pengasuh pesantren al-Qahhar. Mereka menceritakan perihal kelakuan putranya. Kiai Syamsul kemudian membawa segelas air suci yang telah dibacakan mantra, lalu berkumur dengannya sebelum kemudian menyemburkan ke wajah Bassam. Bassam pengin muntah dengan aromanya.

Kiai Syamsul adalah kiai kharismatik dan nyentrik yang terkenal sakti mandraguna dengan beragam aji-aji Jawanya.

Kharismanya ia dapat dari gen ayahnya. Demikian pula ilmu kesaktiannya. Sayang, ilmu agama tidak mampu ia dapati dari keturunan. Karena itu ia mondok di mana-mana untuk belajar agama, dan sesungguhnya ia pekok. Hingga saat ini, ia tidak bisa maknani kitab gundul. Bahkan tidak mampu membaca aksara Arab yang tak berharakat. Jika mengajar, ia selalu menggunakan kitab berjenggot, kitab yang sudah ada harakat dan makna gandulnya. Namun, kharisma dan kepiawaiannya menyuwuk, menutupi semua kekurangannya. Orang-orang percaya, dia adalah kiai. Kiai sama sekali berbeda dengan ulama. Biasanya yang kiai bukanlah ulama. Dan yang ulama, biasanya tidak dikiaikan. Kiai hanyalah orang yang memiliki kharisma, dan bisa nyuwuk, walau pengetahuan agamanya dangkal.

Dengan wirid-wirid serta karismanya, Kiai Syamsul mampu menundukkan santri-santrinya. Senakal-nakalnya anak, jika sudah mondok di pesantrennya, pasti berjalan merunduk saat lewat di hadapannya, menggunakan bahasa Kromo saat berbicara dengannya, bahkan mereka berebut menata sandalnya.

Bukan hanya santri-santri yang ia tundukkan. Pengasuh pesantren al-Qahhar itu bahkan mampu menundukkan gadis-gadis cantik. Sejak dia berusia tiga puluh, hingga kini, tidak pernah ia tidak beristri empat. Setiap ada satu yang mati, selalu ada ganti yang baru. Saat ini usianya sudah tujuh puluh, dan istri-istrinya rata-rata tiga sampai empat puluh tahun lebih muda.

Bassam tidak pernah lagi membuat ulah. Entah karena semburan kala itu, atau karena memang tidak ada alasan dia membikin ulah. Bassam seperti hidup sendiri di antara kerumunan para santri.

Sampai lulus Tsanawiyah, ia tidak merasakan hidup. Barulah ketika masuk Aliyah, Bassam merasa, ternyata hidup tidak seburuk yang ia bayangkan.

Bassam jatuh cinta kepada salah satu santri putri. Ia terpesona saat pertama kali  mendengar suara Azizah, santri putri itu, melantunkan ayat suci dengan nada mendayu-dayu dalam acara Maulid Nabi. 

Sejak saat itu, Bassam mulai suka berbicara, meskipun hanya pada satu orang. Ia senang bercerita soal Azizah kepada Herry, (satu-satunya teman yang diakrabinya dan yang mau akrab dengannya).

Hampir setiap malam, mereka menghabiskan waktu untuk ngobrol, di belakang kamar mandi santri, sambil merokok. Herry adalah orang yang sukses mengajari Bassam pandai ngomong, dan merokok.

Perjumpaan dua anak ini, bermula dari kemarahan Kiai Syamsul saat ia menemukan kutang di sebuah kamar santri. Kiai Syamsul membawa rotan sebesar jempol gajah, dan berjanji akan memukuli semua santri jika tidak ada satu pun dari mereka yang mengaku. “Sebenarnya aku sudah tahu siapa pelakunya,” kata Kiai Syamsul, “tapi saya ingin mengajarkan kalian kejujuran.”

Bassam pun mengaku, dan akhirnya, hanya dia yang mendapat hukuman. Dan ia pun menjadi tahu, bahwa Kiai Syamsul tukang ngibul. Katanya tahu pelakunya, tetapi masih memukulinya. Untung, Bassam tidak mempan dengan pukulan rotan.

Herry berterima kasih sekali atas pertolongan itu, karena dialah pelakunya. Sejak kejadian itu, mereka jadi akrab.

Bassam senang mengobrol dengan Herry, karena Herry tampak begitu meyakinkan saat berbicara soal asmara. Herry mengaku sangat berpengalaman masalah itu. “Jerawatku adalah bukti bahwa aku pandai menaklukkan hati perempuan. Setiap jerawat adalah dampak dari dirindukan perempuan,” katanya sambil memutar telunjuk di hadapan mukanya, membanggakan puluhan jerawat yang menghiasi wajahnya, atau lebih benarnya, memperkeruh keburukan wajahnya.

Persahabatan mereka tidak berlangsung lama, karena setahun kemudian, Herry dikeluarkan dari pesantren atas pelanggaran yang tidak mungkin bisa ditoleransi. Jika yang dicuri hanya celana dalam santri putri biasa, mungkin masih bisa dimaafkan. Tetapi Herry mencuri celana dalam milik putri Kiai Syamsul untuk diusapkan ke mukanya sebagai obat jerawat. Dan Herry tidak bisa mengelak, karena ia tertangkap basah.

“Mengapa kau ingin jerawatmu hilang?” tanya Bassam di perjumpaan terakhir mereka sebelum Herry pergi.

“Aku hanya tidak ingin perempuan tersiksa lantaran terlalu merindukanku.”

“Kau akan terus jerawatan, karena aku akan selalu merindukanmu.”

“Jika berkesempatan ke Jakarta, temui aku di sana.”

Sepeninggal Herry, Bassam kembali menjadi pendiam, termasuk soal asmaranya pada Azizah. Cintanya tidak pernah diceritakan, apalagi diungkapkan pada yang bersangkutan. Hingga tiba waktunya ia berani mengungkapkan, cinta itu telah menjadi petaka yang mengharuskan Bassam pergi dari pesantren sebelum lulus Aliyah, tanpa salam, tanpa pamitan.

Episode Tiga Baca: Cerita Kardi | Episode Tiga, Kepergian Bassam Ke Jakarta

0 Response to "Cerita Kardi | Episode Dua"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter