Cerita Kardi Episode Satu, Pilihan Orang Tua Adalah Pilihan Tuhan

Pilihan Orang Tua Adalah Pilihan Tuhan
Sumber Gambar: Pixabay.com

Ranjang yang tercipta dari bambu itu berderit dan bergoyang. Lebih menderit dan menggoyang dari malam-malam yang telah berlalu. Wanita yang berbaring mengangkang di atasnya tidak lagi mendesis seperti biasanya. Kali ini ia menjerit, menahan sakit bukan kepalang atas peristiwa yang membobol gerbang rahimnya untuk yang kesekian kali, dan pertama kali yang sesakit ini.

Tidak sia-sia usaha mereka selama ini. Benih yang setelah bertahun-tahun ditanam oleh Kardi, akhirnya sampai juga waktunya menuai. Sakit memang sakit, tetapi kelahiran putra pertamanya, membuat yang sakit menjadi nikmat.

"Tidak kusangka, ternyata manukmu menghasilkan juga, Kard. Kupikir selama ini kau mandul.” Panggilan tanpa embel-embel seperti “Pak”, “Abi”, “Kak”, “Mas” atau “Yang”, sesungguhnya di Jawa merupakan aib.

Namun mereka memiliki cara sendiri untuk beromantis.  Sejak pertama berkenalan, Mardiah telah memanggil Kardi dengan “Kard”. Cara dia melafalkan seperti orang Inggris mengucapkan kata “Card”.

Kardi pun demikian. Memanggil istrinya, bukan dengan “Bu”, “Umi”, “Dek”, apalagi “Yang”. Ia memanggil langsung namanya. Mengikuti cara Mardiah memanggilnya dengan logat Inggris, ia pun memanggilnya dengan logat Inggris. “Mard”, seperti orang Inggris melafalkan kata  “March”.

Pernikahan mereka delapan tahun lalu, adalah kehendak orang tua. Kebetulan ketika itu mereka sama-sama lajang. Dan mereka sama-sama percaya, bahwa pilihan orang tua adalah pilihan Tuhan. Mereka tidak saling mencintai, hingga saat ini, namun mereka saling mengerti dan memahami. Mereka tetap romantis walau tidak pernah ada kalimat “aku mencintaimu” keluar dari mulut pasangan suami istri itu.

Bayi mereka menangis, sama seperti umumnya bayi. Konon, tangisan bayi adalah kekagetannya pada pergantian alam, dari rahim menuju dunia. Ada juga yang bilang, menangis adalah ilmu pertama yang Tuhan ajarkan. Tangisan bayi adalah tangisan suci, tangisan tanpa pamrih. Karenanya, tangisan bayi mampu menebarkan bahagia.

Bayi itu menangis. Menghamburkan bahagia pada orang tuanya. Tangisnya terus berlanjut, namun sukacita orang tuanya terhenti, berubah menjadi kekhawatiran. Tangisannya tak mau berhenti. Untung saja, ia masih doyan netek dan doyan tidur. Hanya pada dua kondisi itu tangisnya berjeda.

Berdasar itu, Kardi kemudian memberi nama putranya "Bassam", terambil dari bahasa Arab yang berarti "sering tersenyum". Karena ia percaya, nama adalah doa. Namun sayang, nama pemberiannya hanyalah doa yang tersisih.

Seperti tuak yang diberi nama zam-zam, sama sekali tidak menjadikan halal yang sebelumnya haram.
Bassam menetek sampai genap dua tahun usianya. (Sementara Kardi, masih terus melanjutkannya, walau sudah tak keluar air susunya). Usai disapih, Bassam sudah mulai berhenti menangis. Tetapi, ia tetap tidak bisa tersenyum, apalagi tertawa.

Berbeda dengan Saja. Begitu lahir, ia menangis. Beberapa saat kemudian terdiam. Beberapa waktu berikutnya tersenyum. Dan begitu seterusnya. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang murah senyum. 
Bassam dan Saja bukan saudara. Meskipun, jika Anda bersedia merunut benar-benar, mereka sebenarnya sedarah, masih ada hubungan keluarga. Paling tidak, mereka sama-sama keturunan Adam dan Hawa.

Dalam persuaan pertama mereka, Bassam bertanya pada Saja, "Mengapa kau tersenyum?"
"Untuk menebar kebahagiaan," jawab Saja. Lalu, ia balik bertanya dengan pertanyaan serupa, "Mengapa kau tidak tersenyum?"

"Tersenyum mempercepat kematian," jawabnya.
Pertemuan pertama mereka terjadi di catatan langit, ketika belum tercipta langit. Kini, alam raya telah tercipta. Dua manusia ini pasti akan berjumpa.

Selanjutnya Baca Episode Dua

0 Response to "Cerita Kardi Episode Satu, Pilihan Orang Tua Adalah Pilihan Tuhan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter