Cerita Kardi | Episode Tiga, Kepergian Bassam Ke Jakarta

Cerita Kardi | Episode Tiga

Termasuk beruntung bagi orang yang hanya memiliki ijazah Tsanawiyah bisa mengajar di sekolah formal. Bassam menjadi guru gambar di SD Gendakan. Sebuah sekolahan yang terletak di mulut hutan.

Bangunannya sangat tua dan menyeramkan. Di belakangnya, ada kuburan Belanda. Setiap bulan, selalu ada korban kesurupan. Sudah pernah didatangkan orang pintar agar mengusir hantu-hatu di sana, tetapi alih-alih mengusir, tragedi kesurupan justru semakin sering. Belakangan, si orang pintar ketahuan ternyata dukun palsu.

Tidak ada silsilah perdukunan yang jelas, bukan juga ia seorang indigo atau wali atau apa pun. Ia hanya dukun amatir yang belajar dari buku-buku primbon murahan yang dibeli di pasaran.

Keseluruhan siswa di sekolah itu, dari kelas satu sampai kelas enam, tidak lebih dari tujuh belas anak. Sementara guru yang mengajar, totalnya sampai tiga puluh orang, dan semuanya digaji.

Di antara pengajar-pengajar lainnya, gaji Bassamlah yang paling kecil, meskipun jadwalnya yang paling padat. Selain karena mata pelajarannya yang dianggap hanya gitu-gitu saja, dia juga guru baru, dan satu-satunya guru yang belum bergelar sarjana, boro-boro sarjana, Aliyah saja tidak. Gajinya sebulan, hanya cukup untuk memenuhi asupan nikotin dan kafein selama dua puluh lima pagi. Lima pagi akhir bulan, minta sama kedua orang tuanya.

Selain menjadi guru gambar, Bassam juga menjadi guru ngaji di Langgar Penceng.  Guru ngaji adalah guru yang harus ikhlas. Betapapun pekerjaan itu telah merenggut banyak waktu, tetapi ia merupakan pekerjaan sakral. Tidak boleh berharap gaji.

Yang diajarkan adalah ayat suci. Meminta gaji, sama dengan menjual ayat suci. Gajinya bukan dari manusia, tetapi dari Tuhan Yang Maha Esa. Itu sebabnya, banyak yang enggan menjadi guru ngaji. Bukan karena mereka tidak percaya pahala, tetapi mereka butuh makan untuk mempertahankan hidupnya.

"Kamu tidak ganti kerja saja?" Mardiah bertanya.

"Mana ada yang mau terima bocah yang tidak memiliki ijazah, Bu?"

"Ya bercocok tanam, kan, ndak perlu ijazah."

"Keluarga kita harus bervariasi, Bu."

"Daripada jadi guru, gajinya kecil."

"Tetapi ia pekerjaan mulia, Bu."

"Semua pekerjaan itu mulia, Bassam. Pahala bekerja, juga bergantung pada seberapa besar gajinya."
Mata Bassam berbinar. Tidak ada yang tahu suasana hati Bassam kecuali ibunya. Mardiah adalah satu-satunya orang yang memahami anaknya, hanya dari sorot mata.

“Mendengar ini, saya sangat yakin, kali ini Ibu pasti memiliki jawaban yang lebih menyejukkan.”
“Jawaban tentang?”

“Jakarta.”

“Jakarta?” Mardiah menghela napas panjang dan mengernyit, berusaha menyatukan dua alis tipisnya.

“Mau kerja apa kamu di sana? Biaya dari mana untuk berangkat ke sana? Kamu nanti akan tinggal di mana? Siapa yang akan memasakkan makanan untukmu? Memangnya kamu ....”

Bassam beranjak dari kursinya, menuju kamar, dan keluar lagi membawa sebuah koran dan menunjukkannya pada Mardiah.

“Tulisannya terlalu kecil. Ndak kebaca.”

“Ini lomba komik. Hadiahnya lumayan. Selain itu, yang menang akan diberangkatkan ke Jakarta untuk seleksi ke Jepang. Bagaimana?”

Bassam bilang pada ibu dan bapaknya bahwa ia menang lomba komik. Ia berangkat ke Jakarta dengan uang hadiahnya, untuk mengikuti seleksi berikutnya.

Sesampai di Jakarta, Bassam mengaku kalah dalam seleksi, namun ia mendapat uang ganti kecewa yang cukup untuk menyewa kontrakan selama tiga bulan, lima kilo beras, dua kilo telor, satu kardus mi instan, satu kilo kopi bubuk, seslop rokok, dan peralatan mandi.

Sebenarnya Bassam tidak pernah mengikuti lomba, apalagi menang. Sungguh, ia tak ada bakat menggambar. Ia hanya tahu tentang beberapa teknik menggambar dari guru menggambarnya waktu sekolah, dan ia sama sekali tidak menguasai. Ongkos berangkat ke Jakarta dan segala yang akan dibutuhkannya sudah ia siapkan sebelumnya melalui tabungan. Tabungan hasil mencuri uang bapak dan ibunya. Baginya, tidak ada istilah mencuri dalam keluarga. Uang masing-masing anggota keluarga adalah milik bersama.

Rumah kontrakan yang akan menjadi tempat tinggalnya, sudah lama tak berpenghuni. Ia memiliki kenangan kelam. Seorang perempuan pernah gantung diri di tempat itu. Talinya masih menggelantung di sana, menebal oleh debu. Juga kursi plastik sebagai bancik yang tergeletak, masih sama seperti kali pertama ditendang oleh si pembunuh diri sebagai upaya menyerahkan nyawanya melalui cekikan tali. Sejak kejadian itu, tidak seorang pun berani mengontrak, meski dihargai sangat murah. Sewa tiga bulannya, seharga dengan sewa satu bulan.

Kontrakan itu masih rapi. Untuk menjadi tempat tinggal yang layak, Bassam cukup membersihkan debu yang memendam ubin dan jendela. Dan, barangkali dengan melepas tali bekas gantung diri dan menyingkirkan kursi penyangganya.

Dalam sekejap, tempat itu sudah bersih. Setelah menghabiskan sebatang rokok, ia berbaring di atas kasur. Matanya menerawang ke atas kiri, tepat pada tali yang masih dibiarkan bergelantung.

0 Response to "Cerita Kardi | Episode Tiga, Kepergian Bassam Ke Jakarta"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter