Coretan Santri, Kenangan yang Tidak Pernah Musnah, Oleh Sat’atul Jamaliyah

Coretan Santri, Kenangan yang Tidak Pernah Musnah, Oleh Sat’atul Jamaliyah

Mentari masih menggelantung malas di balik semak-semak bambu, tiba-tiba Bapak berkata padaku, “Tak, ayo budal nang Paciran, tak pondokno.”

Tiada sepatah kata pun keluar dari mulutku. Tubuhku bahkan mendadak kaku, bagai patung yang telah diciptakan sejak ribuan tahun yang lalu. Tanpa ada keinginan mendengar tanggapanku, Bapak akhirnya setengah memaksa membawaku ke Paciran, Pesantren Fatimiyah, Banjaranyar.

Semua pemberkasan telah kulalui, kemudian kami sowan ke pengasuhnya, K.H. Abdul Hadi Yasin. Barulah setelah itu, kami diajak mengelilingi pesantren. Tetapi, ada rasa semacam “tidak srek”. Benar-benar hanya semacam, karena tidak ada alasan logis mengapa aku tidak ingin di sini.

“Aku tidak mau di sini, Pak,” rengekku pada Bapak, seperti anak TK yang pengin dibelikan plembungan.

Akhirnya, aku dibawa ke pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah. Pertama kali, menginjakkan kaki di pesantren ini, aku langsung merasa berjodoh.

“Bagaimana?” tanya Bapak.

“Aku mau.”

Bapak kemudian pulang, setelah memberikan semua uang yang ada di kantongnya. Benar-benar semua. “Bensin motor masih banyak. Uangnya buat kamu semua saja.”

Rinai air mataku pun menggenang. Namun, aku segera mengusapnya dengan ujung kerudungku, karena teman baruku kemudian mengajakku keliling pesantren.

Besoknya, aku mengikuti tes. Dan, tidak lama setelah itu, pengumuman tertempel. Aku lulus, masuk di MAU jurusan Bahasa. Jangan bertanya betapa bahagianya aku.

Hingga pada suatu malam, sebuah kabar menghampiriku, bahwa akan ada program baru di Tarbiyatut Tholabah. Madin Formal.

Program Madin Formal ini tidak umum. Benar-benar baru di Tarbiyatut Tholabah. Semua diktatnya berbahasa Arab. Pengajarnya diambil dari dosen-dosen. Dan, antara lain tuntutannya adalah hafalan Alquran. Seandainya kecerdasanku berada di atas rata-rata, aku masih akan seribu kali mempertimbangkan untuk masuk ke sana. Namun, aku tidak mempertimbangkan. Hanya ajakan naluri, serta restu dari orang tua, akhirnya aku bertekad mengikuti program tersebut.

 Ujian pun terlampau hingga tertempel sebuah pengumuman kelulusan tes. Dan, namaku pun berada dalam deretan nama-nama asing itu.

Kami ditempatkan di asrama yang menyendiri. Asrama Aisyah, yang dulu menjadi tempat tinggalnya Kiai Abdul Ghafur, mantan kepala sekolah MTs Tabah. Aku pun meninggalkan asrama Rabiah yang telah berfasilitas lengkap, sewa setahun, berpindah ke asrama Aisyah yang benar-benar kosong. Lemari pun lemari kardus.

Di asrama Aisyah ini, kami digembleng setiap paginya untuk setoran hafalan Alquran. Agak siangnya ada salat Duha berjamaah, pembacaan surah Waqiah, lalu dilanjut dengan kursus bahasa Arab dan Inggris. Kami bersekolah mulai bakda Zuhur hingga usai Isya.

Banyak pelajaran yang benar-benar baru bagiku. Ulumulquran, Mantik, Balagah, Tasawuf, Falak, dan lain-lain yang benar-benar baru bagiku. Apalagi, aku bukan tamatan MTs di pesantren. Parahnya, diktat yang digunakan berbahasa Arab. Mati aku!

Ada lagi yang bagiku sangat aneh. Di kelas, ada tabir. Saat aku bertanya pada seorang teman, jawabnya, agar tidak saling pandang dengan laki-laki. Baru kusadari, di Tarbiyatut Tholabah ini, hanya di Madin Formal yang laki-laki dan perempuannya digabung dalam satu kelas.

Seragam kami, bukan seperti seragam anak sekolah. Seragam kami, yang perempuan, adalah gamis. Pernah, aku ditegur oleh seorang teman, karena mewingkis lengang bajuku. Ya, dulunya aku tak biasa dengan pakaian seperti ini.

Aku pun tetap memaksakan diri beradaptasi dengan wajah goblokku, yang dipenuhi dengan atmosfir kebingungan dan kelinglungan, lambat laun, akhirnya aku mulai terbiasa. Aku mulai akrab dengan segala aktifitas dan aksesorif kepesantrenan ini.

Aku sangat bersyukur, selain karena anugerah yang diberikan Tuhan berupa kiai-kiai dan guru-guru yang menyamudra, aku juga dianugerahi teman-teman yang bak malaikat. Sabar benar menghadapiku yang terlampau nakal ini.

Suatu tragedi yang hingga kini masih menjadi misteri, menggoncangkan program yang baru tiga tahun berdiri itu. Akhirnya, kami dilempar ke MAK untuk mengikuti ujian nasional. Kini, Madin Formal sudah tiada di Tarbiyatut Tholabah. Namun, kenangannya tidak akan pernah musnah.
Alquran, adalah satu di antara yang masih kupegang hingga kini, hingga aku memiliki anak dan suami. Berkat Madin Formal. Berkat Tarbiyatut Tholabah.

0 Response to "Coretan Santri, Kenangan yang Tidak Pernah Musnah, Oleh Sat’atul Jamaliyah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter