Kisah Santri Berbau Busuk

Kisah santri berbau busuk

Jika Anda ingin menggoreng krupuk atau ikan, dan tidak menemukan minyak, Anda bisa memerasnya dari wajah Sujono. Tetapi, mungkin Anda tidak akan memakainya. Minyaknya lebih hitam dari jelanta, dan lebih kecut dari asam.

Anak ini seperti tidak terurus. Memang tidak terurus. Di pesantren, ia dijauhi kawan-kawannya. Kalau sedang berjamaah, selalu saf di sampingnya berlubang. Lebih-lebih saat jamaah Subuh. Depan dan belakangnya juga kosong. Seperti magnet yang saling bertolak.

Pakaiannya hanya dua. Ketika satunya dipakai, satunya ditaruh di lemari. Tidak dilipat. Apalagi dicuci dulu. Mandi, hanya seminggu sekali.

Di ulang tahunnya yang ke lima belas, teman-temannya merayakan. Bukan karena perhatian. Tetapi hanya untuk memberi kado. Minyak wangi. Setiap santri di asramanya, dipalak satu botol kecil minyak wangi. Barangkali dengannya, ia akan lebih mendingan.

Sia-sia. Yang ada malah Sujono tidak pernah mandi. Sehari-hari, tubuh dan pakaiannya hanya dioleskan minyak wangi. Tentu Anda bisa membayangkan bagaimana aromanya. Ya, seperti tai yang dioleskan minyak wangi. Semakin menjijikkan.

Para santri sudah tidak betah dengan keadaannya. Beramai-ramai, Sujono ditelanjangi. Pakaiannya dicucikan dengan sebotol detergen dan seember pewangi bilas. Sujono diikat di tiang pemandian umum, dimandikan dan dikeramasi dengan sabun colek cuci piring tiga saset.

Dalam tiga hari, Sujono menjadi wangi. Hanya tiga hari. Dan kemudian ia kembali pada identitas semula. Santri beraroma busuk.

Para santri tidak tahan lagi. Mereka membuat petisi yang ditandatangani oleh lima ratus santri dan segenap pengurus pondok sebagai pengajuan agar Sujono dikeluarkan dari pesantren.

Sujono dikeluarkan. Tepat saat gerimis terundang. Sepertinya alam pun turut mencium aroma busuknya sehingga langit dipaksa memeras keringatnya.

Di pesantren barunya, Sujono tidak lagi tertolak. Mungkin Sujono telah berintrospeksi diri. Kini, ia sudah mau mandi dua hari sekali. Tetapi bukan itu yang menjadi penyebab ia memiliki teman. Melainkan lantaran kepandaiannya. Sebab, aromanya masih busuk.

Pada saat ujian hafalan Alfiyyah, Sujono paling banyak hafalannya, dan paling mengerti penjelasannya. Bahkan ia satu-satunya yang mampu mengikrab dan menasyrkan nazam Alfiyyah.
"Tidak mungkin Sujono anak biasa. Dia pasti wali," komentar salah seorang santri.
"Tetapi aroma tubuhnya busuk, " jawab yang lain.

"Mungkin dia wali mastur. Tidak ingin ada yang tahu kewaliannya," sahut yang lain lagi.
Di ujian hafalan Alfiyyah berikutnya, Sujono adalah satu-satunya santri yang selesai menyetor seribu dua bait nazam Alfiyyah itu dengan lancar.

Padahal, tidak seorang pun pernah melihat ia menghafal. "Bisa saja dia sudah hafal sebelumnya." Seorang santri tampak meragukan kewalian Sujono.

"Selancar apa pun, kalau tidak pernah dilalar pastilah lupa. Tidak mungkin Sujono bukan wali."

Berjamaah di samping Sujono adalah momentum yang diperebutkan. Para santri dengan sukarela mencucikan pakaian Sujono.

Mereka juga sering menghadiahi pakaian baru buat sang idola. Sujono merasa tidak nyaman dengan keadaannya sekarang. Suluk yang ditempuhnya selama ini terasa telah bernoda. Bercampur dengan kegemerlapan dunia. Ketidaknyamanannya berasal dari rasa nyamannya. Ia khawatir, kenyamanan itu membuatnya semakin jauh dari Tuhan.

Ia keluar dari pesantren itu. Mencari pesantren lain dengan busana busuknya lagi. Namun, namanya ternyata sudah tak asing lagi di sekian pesantren yang ia datangi. Hingga pesantren ke empat puluh, ia menemukan tempat yang cocok. Semua santrinya berpakaian kumuh, dengan sarung di bawah lutut, tanpa alas kaki saat berjalan. Tetapi begitu bertemu kiainya, ia mengurungkan bermukim di sana.

Kiai pesantren itu memakai celana bahan, jas licin, dengan dalaman kemeja putih. Keluar dari mobil mewah dan meludah ke arah kanan. "Tidak punya etika! "gumam Sujono.

Suara yang tertahan dalam mulut itu seperti terdengar oleh si Kiai. Padahal, mereka tidak berdekatan.

"Apa yang kamu maksud dengan tidak punya etika? " tanya si Kiai setelah menghampirinya.

"Kiai meludah ke arah kanan. Itu arah kesucian."

"Beretika boleh, Nak. Tapi tolol jangan!"

"Maksud Kiai?"

"Kanan tidak selalu identik dengan kesucian. Iblis, menggoda manusia juga dari arah kanan. Arah yang kausembah-sembah selama ini. Ketika kamu hanya nyaman di kanan, dan kau merasa terganggu dengan kiri, sulukmu ternodai. Jalanmu terputus."

"Jadi, karena itu Kiai menyuruh santri sini untuk memakai pakaian kanan dan Kiai sendiri memakai pakaian kiri?"

"Kebetulan kamu ke sini, di hari ini. Dan kesimpulanmu sangatlah tolol."

"Itu pertanyaan, Kiai. Bukan kesimpulan."

"Pertanyaanmu pertanyaan kesimpulan, Goblok!"

"Apa pun pertanyaan itu, yang saya harapkan adalah jawaban, bukan makian."

"Baiklah. Ini pesantren tanpa arah. Sehingga pakaian yang mereka kenakan, harus melawan arah angin. Jika kamu ke sini saat angin berhembus ke kiri, mereka akan memakai pakaian kanan. Dan saya yang memakai pakaian kiri sebagai pengimbang. Sehingga, ke mana pun nantinya mereka menghadap, bukan arah yang mereka hadapi, melainkan Tuhan. Jalan menuju Tuhan tidak terikat dengan arah, karena Tuhan tidak terikat arah. Jalan menuju Tuhan adalah hati. Sehingga apa pun yang menempel di tubuhmu, tidak lagi penting."

"Terima kasih wejangannya."

"Apa yang kamu maksud dengan terima kasih?"

"Saya tidak ingin mondok di sini. Kiai bilang harus melawan arah, tetapi Kiai sendiri masih bergantung pada arah angin. Namun, saya akan pegang dawuh Kiai."

"Menginaplah dulu untuk beberapa pergantian arah angin."

"Pertemuan kita sepertinya sudah cukup. Wassalam."

"Berhati-hatilah, Nak. Angin tidak mudah untuk dilawan."

Sujono pulang ke kampung halamannya. Ia tak pernah lagi memakai pakaian kumuh dan bau. Dalam sehari, ia mandi tiga kali. Memakai minyak rambut dan menyisirnya.

Sujono sangat dihormati dan dicintai masyarakat, hingga dipercaya menjadi pimpinan daerah.

Tetapi setelah ketahuan korupsi dana keagamaan, Sujono diturunkan paksa. Hal ini membuat Sujono tidak nyaman. Ia mandi hingga seratus kali dalam sehari. Setiap hari. Karena aroma busuknya tak mau hilang dari tubuhnya.

~( Muhammad Nuchid )~

0 Response to "Kisah Santri Berbau Busuk"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter