Menjadi Santri: Tersesat di Jalan Yang Benar Oleh Ahmad Sugiono

Tersesat di Jalan Yang Benar

Menjadi santri adalah bagian dari takdir. 'Makhluk aneh' di zaman modern dengan gaya penampilan khas yang tidak tergerus oleh tren. Sarung yang melilit perutnya seolah lebih keren daripada celana jeans. Songkok buntut terasa nyaman di kepalanya dibandingkan topi-topi modern. Santri lebih mengutamakan isi kepala dari pada gaya busana.

Gemuruh peringatan Hari Santri pada tanggal 22 Oktober 2017 yang menggema di seluruh pelosok negeri dengan berbagai ungkapan kebahagiaan, sukacita dan show of identity mengingatkanku pada realitas historis peran santri bagi Indonesia. Kaum santri merayakan “lebaran” untuk mengenang momentum sejarah bangsa, ketika K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa resolusi jihad menjadi cambuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Hari santri juga menjadi pemacu para santri membanggakan identitas kesantriannya dan para alumni bereforia membuka kenangan masa perjuangan saat-saat menimbah ilmu di pesantren masing-masing.

Tiba-tiba aku teringat penggalan-penggalan cerita masa kecil, di mana cerita itu kemudian menjadi penentu cerita-cerita berikutnya.

Di suatu sore, guru ngajiku yang biasa dipanggil Pak Mad berujar, “Menjadi santri seringkali merupakan pilihan orang tua yang mendambakan anaknya lebih baik darinya dalam memahami persoalan agama. Ada juga karena orang tua yang merasa tak mampu mengatur anaknya di rumah sehingga menitip ke pesantren untuk merubahnya.

Tetapi banyak juga karena tradisi keluarga yang lebih mempercayakan pesantren sebagai pilihan pendidikan bagi anaknya. Yang pasti pesantren menjadi harapan besar bagi setiap orang tua atas tumbuh berkembangnya sang anak.” 

Dalam waktu lain ia berpesan, “Pesantren menjadi kawahcandradimuka pengenelan, pemahaman, dan praktik keagamaan yang sempurna. Di pesantren, kita mendapat bekal untuk melalang buana menjalani takdir hidup yang sesungguhnya bersama masyarakat.” Kemudian ia berhenti sejenak dan menjelaskan bahwa ada pesantren yang termasyhur di wilayah pantai utara, dipimpin oleh kiai khas dan juga pengusaha kapal yang sukses. Nama beliau adalah Romo Kiai Haji Baqir Adelan, konon ia mempunyai julukan singa pantura karena kesuksesannya mensyiarkan Islam disana.

Waktu itu aku masih kelas lima SD, aku hanya kenal pesantren Ramadan yang setiap bulan puasa diadakan di sekolah. Kita ditugaskan untuk membuat apsensi mengaji dan berjamaah untuk dilaporkan ke guru sebagai aktivitas selama puasa. Bagi siswa yang tidak menjalankan tugas maka dihukum di lapangan sekolah.

Sampai akhirnya aku lulus SD dan harus memilih melanjutkan sekolah jenjang berikutnya. Secara umum teman-teman sekolahku memilih masuk sekolah SMP Negeri yang terletak di kecamatan Karanggeneng. Namun, aku dikasih pilihan lain oleh keluarga, yaitu sekolah di madrasah dan sekaligus mondok. Muncul dalam benakku, “Kalau sekolah di SMP Negeri Karanggeneng tentu bisa ditempu pulang pergi tiap hari, tetapi kalau mondok berapa hari atau berapa minggu bisa pulang berkumpul keluarga dan bermain dengan teman-teman.” Namun di sisi lain sepertinya aku terdoktrin dengan cerita-cerita dunia pesantren sehingga ada sedikit rasa ketertarikan untuk mondok.

Nama desaku Sonoadi (Boyo) dengan kecamatan Karanggeneng terletak di pinggiran bengawan solo yang secara social budaya tidak terlalu mengenal dunia pesantren. Umumnya penduduk desa bekerja sebagai petani dan sebagian mengadu nasib bekerja di Jakarta. Kalau dalam konsep tipologi Clifford Geertz barangkali masuk kategori masyarakat Islam Sinkretis, yaitu Islam hasil perpaduan antara Islam dan budaya  Jawa. Prakteknya budaya jawalah  yang lebih dominan. Misalnya di desaku masih ada budaya sedekah bumi di kuburan meskipun salah satu isinya adalah ngaji/tahlil, membuat tumpeng untuk dibawah ke bengawan solo, dan praktek lainnya.

Lembaga pendidikan dasar di Sonoadi hanya ada satu yaitu SD Mardi Utomo dan umumnya setelah lulus melanjutkan ke SMP Negeri Karanggeneng atau sekolah negeri lainnya, dengan catatan NEM (Nilai Ebtanas Murni) mencukupi.  Kalau dilihat dari hasil NEM ku sebenarnya cukup untuk mendaftar di SMP Negeri, namun entah karena alasan apa saya tidak memilih ambil SMP Negeri dan malah tersesat masuk pondok pesantren yang dalam latar belakang keluarga tidak ada gambaran sama sekali.

Bahkan saya masih ingat pada suatu hari salah satu guru SD bertanya ke semua siswa setelah ujian Ebtanas kelas 6, “Setelah lulus kalian ingin melanjutkan sekolah dimana?” Hampir semua ingin melanjutkan ke SMP Negeri, kecuali saya. Dan pak guru berucap, “Mau jadi apa sekolah di madrasah jauh di sana?” Aku pun gak bisa menjawab.

Satu-satunya alasan yang aku ingat hanyalah usulan dari tetanggaku yang juga merupakan satriwati Pondok Kranji. Namanya Mufarihah (MA kelas 3) dan Kholisotul (MTs kelas 2) yang merupakan satu  saudara, putri dari pak Achmad Fadholi (Pak Mad) dan bu Nasuha. Beliau berdua merupakan tokoh desa dan guru ngaji di masjid tempatku bermain. Selain itu persetujuan dari kakekku, Arifin, yang biasa aku panggil mbah Mudin karena dia adalah mudin di desaku.

Dengan santai suatu hari mbah Mudin berujar, “Cucuku biar ada yang mondok dan bisa sekolah sampai tinggi,” ujarnya.

Aku pun menjawab, “Iya mbah.” Meski dalam hatiku bergumam, “Ngapain sekolah tinggi, bukannya yang penting kaya seperti yang lainnya?”

Memang jika dirunut dari tradisi keluarga dan lingkunga desa tak ada “model dan modal” menjadi santri, karena dalam pandangan umum di desaku santri tidaklah hal yang keren tetapi malah dianggap “ndeso” dan terbelakang.

Madrasah dinilai sebagai tempat bagi siswa yang tidak bisa masuk ke sekolah negeri, dalam arti lain siswa madrasah adalah buangan dari siswa Negeri yang nilainya minimal. Begitu pun dengan santri, dianggap tak pernah mandi, pakaian kotor, kekurangan makan, dan jauh dari kasih sayang keluarga menjadi Stereotipe negative oleh masyarakat umum. Bahkan tak sedikit yang bertanya, “Ngapain sekolah dan mondok jauh-jauh ke Kranji? Mondok itu sengsara,” ucapnya.

Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya setelah lulus SD tahun 1997 orang tua dan keluarga sepakat untuk menyekolahkanku di MTs Pondok Kranji. Daerah yang sebelumnya belum pernah aku jamah yang berlokasi di desa kranji kecamatan Paciran, dekat tempat wisata Tanjung Kodok dan tempat para nelayan berlayar mencari ikan. Aku diantar oleh kakak iparku, Kak Kusnan ke Pondok naik motor dengan membawah tas yang berisi baju dan kebutuhan sehari-hari.

Entah hari apa waktu itu sekitar pukul 16.00 aku sampai di halaman Pondok Kranji, kemudian dipertemukan dengan mbak Farihah yang merupakan tetanggaku untuk berkordinasi dengan pengurus pondok putra. Aku dipersilahkan menempati Asrama Al-Ghozali kamar no. 3 dan berkenalan dengan anak baru juga yang bernama Alif asal Laren. Ia hanya betah di pondok cuma satu tahun, setelah itu pindah sekolah di kampungnya.

Hari-hari pertama aku lalui dengan tangisan, meski banyak orang namun terasa gak ada yang aku kenal di pondok putra. Ada dua orang tetangga desa Kaligerman yang coba aku akrabi biar bisa jadi teman bermain, yaitu yazid dan faizin, yang berjarak satu kelas diatasku. Situasi yang berat karena jauh dari keluarga dan hidup sendiri merupakan hal yang baru aku alami. Bahkan waktu salat dan zikir  seringkali mataku penuh air mata, bukan karena khusyuk namun karena tidak betah. Waktu begitu terasa lama sekali seolah jam dinding di kamar kehabisan batrai. Waktu yang biasanya tiap hari aku gunakan untuk bermain berubah dengan berbagai aturan dan tekanan untuk mengaji dan belajar.

Hari, minggu, bulan, dan tahun pun akhirnya berlalu, sampai akhirnya aku lulus MTs dan kemudian berlanjut ke MAK yang berada di pondok Kranji juga. Barangkali dengan kesibukan aktifitas (full day) menjadikan ketidak betahanku teralihkan dengan aktifitas-aktifitas yang tiada henti. Bangun pagi salat jamaah Subuh kemudian mengaji Alquran, setelah itu berangkat sekolah jam 07.00 sampai jam 13.00. Pulang sekolah diisi dengan istirahat sampai jamaah Asar, kemudia dilanjut ngaji kitab kuning. Habis magrib harus berangkat sekolah diniyah sampai jam 21.00, setelah itu harus belajar pelajaran sekolah sampai waktunya tidur. Setiap hari begitu, kecuali hari Jumat libur sekolah, biasanya diisi dengan kerja bakti dan bermain bola.

Pada akhirnya aku menyadari bahwa menjadi santri merupakan ketersesatan namun di jalan yang benar. Saya masih ingat pesan Kiai Baqir tentang hal mendasar yang harus ditanamkan oleh setiap santri yaitu mencari keberkahan. Barangkali itu sejalan dengan ajaran dalam kitab “Ta’līm al-Muta’alim” yang setiap sore bakda Asar wajib bagi santri untuk diikuti. Meski pada saat itu kita hanya memahami potongan-potongan kecil isi kitab karya Syekh az-Zarnuji, namun jika kita telaah terdapat ajaran penting tentang etika dan metode bagi pelajar untuk meraih keberkahan ilmunya. Bahkan bagi santri sangat mempertimbangkan unsur berkah dalam keilmuan ketimbang pencapaian prestasi lahiriah. Mengaji kitab “Ta’līm al-Muta’alim” yang diasuh oleh Nashrullah Baqir (Gus Rul) menjadi dasar ajaran etika dalam menuntut ilmu.

Ketika kita baca ulang “Ta’līm al-Muta’alim”, isinya sangat luar biasa, menekankan lima hal penting dalam menuntut ilmu. Pertama, menganjurkan pelajar mendasari pencarian ilmu dengan niat yang lurus. Karena mencari ilmu yang tampaknya adalah amal akhirat bisa saja tidak berpahala karena niat yang salah. Kedua, hormat atau takzim kepada guru. Ini merupakan doktrin terkuat dalam tradisi pesantren, bukan saja takzim terhadap sosok guru, tetapi bahkan keluarga dan kerabatnya.

Ketiga, mengutamakan ketekunan dan musyawarah dalam proses belajar. Entah bagaimana hasilnya bahwa ketekunan dan kekuatan tekad dalam belajar sangat dianjurkan. Meski di sisi lain dalam pesantren memiliki faktor X yang disebut “berkah”. Keempat, menganjurkan pelajar agar pergi dari kampung halamannya demi menuntut ilmu. Ini dilakukan agar tidak terlalu banyak urusan dengan lingkungan sekitar.

Selain itu Ghurbah atau merantau dari tempat asal juga sangat baik untuk melatih kemandirian dan itu aku alami sendiri. Dan Kelima, bekerja dan berdoa agar berkecukupan. Menurut Syekh az-Zarnuji seorang ahli ilmu setelah usai belajar pastilah akan bergelut dengan masyarakat dan hal-hal duniawi. Tips yang diajarkan adalah terkait doa-doa harian dan wirid khusus, dari istigfar hingga selawat dan bacaan tasbih.

Ajaran dalam kitab “Ta’līm al-Muta’alim” adalah pondasi yang diajarkan untuk santri saat berada di pesantren ataupun saat menjadi alumni yang melanjutkan belajar di tempat lain. Kandungan di dalamnya mengajarkan santri agar mengenal statusnya di antara makhluk dan tangung jawab masing-masing individu di dalam hidup mereka di dunia.

Santri diajak agar mengenal interaksinya di dalam masyarakat dan tanggung jawab mereka di tengah-tengah sistem kemasyarakatan. Selain itu mengarahkan supaya manusia kenal alam semesta untuk membimbingnya mencapai hikmat Allah di dalam menciptakan alam semesta dan memungkinkan manusia menggunakannya. Dan terakhir supaya manusia kenal akan Tuhan Pencipta alam ini dan mendorongnya untuk taat beribadah kepada-Nya.

Meskipun saat mengaji banyak ketiduran ataupun tidak focus atas penjelasan yang disampikan oleh Gus Rul, namun satu hal yang sampai sekarang aku ingat, yaitu rasa cubitan di paha yang membuat kita meringis kesakitan sambil menahan malu di depan santri yang lain. Itu akan menimpah siapa aja yang tidak melaksanakan tugas menghafal atau tidak masuk tanpa izin.

0 Response to "Menjadi Santri: Tersesat di Jalan Yang Benar Oleh Ahmad Sugiono"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter