Pesantren Membentuk Pribadiku, Muhammad Alfatih Suryadilaga

Pesantren Membentuk Pribadiku

Saya sendiri tidak pernah mondok di pesantren yang lama, apalagi pindah-pindah pesantren seperti kawan-kawan saya Setelah lulus dari pesantren Tariyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan.

Di antara kawan-kawan saya, ada yang melanjutkan ke pesantren Tebuireng, Kediri, dan lain-lain, untuk mendapatkan hasil yang paripurna. Walhasil, di antara kawan-kawan ada yang hafal Alquran 30 juz, dan bahkan pulang dengan membawa kitab yang banyak. Itulah tanda kesuksesan di antara kawan-kawan saya. Bahkan, di antara mereka ada yang sudah menjadi pengasuh di pesantren dengan keilmuan yang dimilikinya.

Hal inilah yang membedakan saya dengan kawan-kawan. Demikian juga saya dengan ayah saya. Ayah saya menjadi murid K.H. Idris di Pesantren Tebuireng sejak kecil sampai tahun 1972. Setidaknya 15 tahun lebih ayah saya belajar di pesantren. Ayah saya adalah putra K.H. Muhammad Amin, sekaligus cucu dari K.H. Musthofa, pendiri Pesantren Tariyatut Tholabah Kranji, Paciran, Lamongan. Walaupun demikian, saya bersyukur berkesempatan belajar di pesantren melalui pendidikan formalnya, yakni MTs dan MA. Di lembaga pesantren yang didirikan oleh Mbah Buyut saya.

Pesantren Tarbiyatut Tholabah merupakan pesantren tertua di daerah pesisir pantura Jawa Timur. Setidaknya, pengasuh pada masa itu, K.H. Mushtofa mulai melaksanakan pendidikan tahun 1900 M. Pola pendidikan dan pengajaran di pesantren ini sepenuhnya adalah bercorak salafiah, dengan mencontoh Pesantren Tebuireng Jombang, seperti pengajian sorogan dan bandongan. Ini dibuktikan oleh para pengasuh pesantren Tarbiyatut Tholabah dalam mengusir penjajah Belanda dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melalui putra beliau, K.H. Muhammad Amin Mustofa.

Selama enam tahun berlalu, keseharian saya dilalui dengan belajar dan nyantri kalong (istilah untuk santri yang tidak mukim). Tiap hari saya pulang pergi dengan naik ontel. Selama naik sepeda ontel inilah terkadang kena pajak (namanya peneng), dan harus membayarnya, dan diberi stiker sebagai bukti telah membayar. Sepeda ontel inilah yang kemudian saya pakai sampai akhir kuliah S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya, tepatnya April tahun 1996.

Melihat kebiasan ini, seorang dosen berseloroh, “Tih, sudah jadi sarjana kok masih pakai sepeda ontel.” 

“Ini yang saya punyai dan ini yang dapat saya gunakan sebagai mobiltas saya sejak kecil,” jawab saya dengan senyuman manis.

Kembali ke masa pendidikan di pesantren, saya menikmati dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu. Setiap pagi, saya sudah di kelas. Terkadang juga belajar dengan sesama kawan-kawan, sebelum para guru datang. Ciri khas belajar di pesantren Tarbiyatut Tholabah ini diajarkan oleh kiai-kiai yang merupakan hasil kerja keras pengajaran para guru (masyayikh) terdahulu seperti K.H. Mustofa, sejak belajar di MTs dan MA, dari tahun 1988 sampai 1991 M.

Pendidikan di dalamnya, diajarkan oleh kiai-kiai senior. Antara lain, K.H. Abdul Hadi Yasin, K.H. Salim Azhar, K.H. M. Baqir Adelan, K.H Muhammad Basjir Adelan, KH. Ilyas, KH. Nursalim, dan lain-lain. Selain itu, saya mendapatkan ilmu dari kiai muda yang masih satu keluarga dengan pendiri pesantren, seperti Zainal Millah dan lainnya. Melalui ajaran para masyayikh di atas, saya mengenal banyak kajian keilmuan klasik khas pesantren, seperti “Bulūgh al-Marām”, “Tafsīr al-Jalālayn”, Arud, Faraid, Falak, dan sebagainya. Walaupun di kelas formal, namun pola pengajaran seperti pengajaran-pesantren klasik, yakni menggunakan kitab kuning.

Selain itu, kiai yang membaca kitab, dan santri yang mendengarkan serta memaknai dengan baik. Kadangkala, sang kiai menyuruh muridnya untuk belajar membaca seperti apa yang dilakukan kiai, di hadapan santrinya. Nazam Alfiyyah pun saya hafalkan di depan kelas, setiap kali pelajaran Nahwu. Selama enam tahun, hanya dapat 500 bait saja, yakni sampai pada bahasan Naat .

Pada awalnya, kajian kitab-kitab di atas adalah asing. Karena itu, di awal saya mengaji, selalu dibantu oleh ibu saya. Ibu Nur Lailiyah Ghozali. Beliau selalu membantu menuliskan teks kitab-kitab dalam buku tulis dan diberi jarak yang ideal untuk bisa menuliskan arti atau maknanya. Memang, tulisan ibu saya sangat bagus, baik Arab maupun latinnya. Kebiasaan seperti itu saya lalui di awal-awal masuk MTs Dan alhamdulillah, saya dapat mengikutinya, walau terkadang pada waktu itu, jika saya salah memberikan makna, saya dicubit oleh guru hingga membekas biru.

Cambukan itulah yang menjadikan saya dapat membaca kitab kuning dan tentu saja melalui doa serta rida orang tua dan kiai. Juga kemudian saya dapat melanjutkan studi ke jenjang tertinggi di perguruan tinggi, yakni S3.

Selain beragam keilmuan tersebut, saya dan kawan-kawan juga diajarkan keilmuan umum seperti bahasa Indonesia, Matematika, bahasa Inggris, bahasa Jerman, hingga Ilmu Pengetahuan Sosial. Pembelajaran ini dilakukan karena pola untuk mencapai kelulusan waktu itu harus lulus ujian nasional yang standarnya disamakan dengan pendidikan yang ada di Indonesia.

Dengan demikian, apa yang saya peroleh adalah kesuksesan dalam meggapai kelulusan secara formal dan bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti S1, S2, dan S3. Sekaligus ilmu keagamaan yang menjadi ciri pesantren ini.

Hal yang menarik adalah setiap siswa dan santri yang akan lulus wajib diuji bacaan kitab kuningnya. Kami dan kawan-kawan pun diuji kemahiran dalam membaca “Tafsīr al-Jalālayn” di hadapan K.H. Baqir Adelan dan para penguji lainnya, waktu itu. Ayatnya pun masih saya ingat sampai sekarang, yakni Q.S. al-Nisā’ (4): 11. Ayat tersebut merupakan hasil undian yang diambil sebelum membacadi atas podium di depan para masyayikh.

Dengan beragam ujian, baik yang dilakukan pesantren maupun negara, saya dapat melaluinya dengan baik, dan dapat lulus dengan baik pula. Bahkan tidaklah sia-sia apa yang  saya dapatkan di pesantren ini. Banyak ilmu pengetahuan yang kami peroleh baik melalui kelas maupun lainnya, seperti melalui upacara yang dapat menjadikan disiplin dalam keseharian di masa yang akan datang. Selain itu, melalui OSIS, saya berusaha untuk membentuk kebersamaan dalam organisasi tersebut. Walaupun tidak menjadi ketua, karena ketuanya adalah M. Ridwan. Saya juga aktif mengikuti class meeting dan sebagainya.

Kajian kitab yang ada di Pesantren Tarbiyatut Tholabah, menjadikan saya dapat melacak sumber-sumber pembelajaran saya selama di program sarjana S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kecenderugan saya mengkaji Hadis, sudah dimulai sejak tahun 1995 di mana skripsi yang saya ajukan mengharuskan menilai dan melakukan Takhrīj al-Hadīts. Akhirnya, tugas ini dapat saya lalui walaupun agak lama, selama tiga bulan lamanya.

Zaman dulu, melakukan Takhrīj al-Hadīts hanya dapat dilakukan secara manual melalui kitab-kitab berbahasa Arab. Berkat ini pula, saya kemudian memberanikan diri untuk mengkaji tafsir dan hadis, khususnya setelah memasuki pendidikan S2 di IAIN Alauddin Makassar tahun 1996. Akhirnya, perjalanan akademik saya berlabuh ke Jogjakarta. Tepatnya, 1998 setelah selesai kuliah S2, saya diangkat menjadi PNS sebagai dosen ilmu Hadis di IAIN Sunan Kalijaga.

Pengalaman sebelumnya. Di pesantren, hingga pendidikan keberlanjutan melalui Perguruan Tinggi Agama Islam inilah, yang menjadikan apa yang saya peroleh dapat saya ajarkan ke mahasiswa saya. Hampir 20 tahun saya mendedikasikan keilmuan Hadis di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kini, di antara mahasiswa saya, sudah ada yang doktor, bahkan di antara mereka sudah ada yang menjabat di beragam jabatan.

Ilmu yang saya peroleh di pesantren dan kekuatan metodologi keilmuan yang didapatkan dalam perkuliahan, menjadikan saya berusaha untuk belajar dan belajar. Walaupun di awalnya, karena kuliah zaman S1 lebih fokus kepada ceramah dan hanya sedikit dosen-dosen yang mengajarkan menulis makalah. Sedikit dosen tersebut adalah para lulusan Jogjakarta, antara lain Prof. Dr. H. Ridwan Nasir, MA., dan Dr. MS. Khalil, MA. Demikian juga pola di pesantren sebagaimana tergambar di atas, namun itu menjadi sebuah upaya mendapatkan materi keilmuan yang sebanyak-banyaknya dengan pengalaman mandiri membaca literatur klasik.

Kuliah S2 di Makassar menjadikan diri berusaha membuat makalah dengan bimbingan Prof. Dr. Harun Nasution, MA., Prof. Dr. H. Quraish Shihab, Dr. Satria Efendi, dan para guru besar dan doktor di IAIN Alauddin Makassar.

Selain itu dengan pengalaman kawan-kawan di S2 dari beragam latar belakang keilmuan, menjadikan diri dapat mengimbangi dan terus menerus sebagai yang terbaik. Dan, semakin terasa ketika di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta dengan beragam pengalaman mengelola jurnal akademik; jurnal ilmu-ilmu Alquran dan Hadis selama 10 tahun, jurnal Esensia selama 8 tahun, dan jurnal Musawa PSW UIN Sunan Kalijaga selama 15 tahun lebih. Akhirnya, kehidupan akademik itu saya lalui dengan menulis, baik dalam bentuk buku maupun artikel yang ada di jurnal-jurnal.

Selain itu, setelah menjadi ketua asosiasi ilmu hadis se-Indonesia (ASILHA). Saya bersama kawan-kawan ahli hadis berjihad ke PTKI se-Indoensia untuk melakukan pengembangan kajian Hadis, baik melalui living Hadis maupun Hadis di media. Tradisi akademik ini juga dilakukan melalui seminar nasional maupun internasional, yang diselenggarakan di dalam dan luar negeri. Tentu saja, di era sekarang tidak saja seseorang diharuskan bisa menulis dengan baik, melainkan juga dapat menyalurkan ide-idenya melalui forum sebagaimana digambarkan di atas. 


*Penulis: Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan Ketua Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

0 Response to "Pesantren Membentuk Pribadiku, Muhammad Alfatih Suryadilaga"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter