Santri Kranji di Belantara Ibu Kota

Santri Kranji di Belantara Ibu Kota

Big City, Big Opportunity. Kota besar, kesempatan besar. Mungkin slogan itulah yang memprovokasi kami, para manusia udik untuk berhijrah dan mengembara ke DKI Jakarta. Sebagai pusat pemerintahan, juga pusat ekonomi dan diplomatik antar negara, Jakarta menawarkan akses informasi yang mudah dan tanpa batas. Di kota inilah para utusan dari berbagai negara berkumpul dan menjalankan kebijakan luar negeri negara masing-masing di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan. Termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan.

Meskipun transportasi di Jakarta semakin hari semakin padat, dan sering kali macet, hal itu tidak menghalangi para pengundi nasib untuk mengarungi ratusan kilometer datang ke Ibu Kota. Mulai dari menjadi pejabat hingga pengangguran kelas berat, mereka lakoni demi hidup di bawah langit kota yang dulu bernama Batavia tersebut.

Perjuangan cukup berat harus dijalani mereka yang berketerampilan terbatas dan minim jaringan (relasi). Sebaliknya, nasib baik bisa berpihak pada mereka yang berketerampilan cukup dengan jaringan luas.

Santri Kranji terlacak mulai menjajah Ibu Kota sejak 1980-an. Santri Tua dari Kranji ini memilih untuk berhijrah ke Ibu Kota bermotifkan pendidikan. Pada era 1980-an, Universitas Imam Muhammad ibn Saud di Arab Saudi pertama kali membuka tujuh cabang lembaga pendidikan di seluruh dunia. Salah satunya adalah di Jakarta, dengan nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA).

Kampus asal Arab yang berhaluan Wahabi ini menarik minat cukup banyak putra pertiwi, tak terkecuali Santri Kranji. Di antara santri tua dari Kranji ini adalah Moh. Sufyan dan Ahmad Rofi’ Syamsuri.

Citra Wahabi yang melekat pada kampus ini dan para lulusannya, ternyata mampu menghentikan pergerakan Santri Kranji ke Ibu Kota Jakarta selama kurang lebih dua dekade. Hingga para tahun 2000-an, kenekatan Santri Kranji untuk menaklukkan Ibu Kota kembali muncul.

Keberanian untuk menuntut ilmu di Ibu Kota yang dipelopori oleh M. Ulinnuha Husnan, dkk. ini menular kepada para generasi setelahnya hingga saat ini. Sampai hari ini, setiap tahun pasti ada alumni Pondok Kranji yang merantau ke DKI Jakarta.

Kekompakan dan kebersamaan Santri Kranji di Ibu Kota mencapai momennya dengan kelahiran Wadah Silaturahim Alumni Tarbiyatut Tholabah (Wasiat) Jakarta pada akhir 2000-an.

Hingga saat ini seluruh anggota Wasiat berjumlah kurang lebih 300 orang. Mereka tersebar di beberapa bidang profesi dan universitas terkemuka Ibu Kota. Wasiat Jakarta menjadi mercusuar bagi Santri Kranji di Jakarta saat tak tahu harus ke mana. Wasiat Jakarta menjadi oase kala lelah kaki menapak panasnya jalanan Ibu Kota.

Menaklukkan Ibu Kota tidak hanya bermodalkan kenekatan, tetapi perlu dibarengi dengan keterampilan. Sebagaimana slogan di atas, keterampilan sekecil apa pun di Ibu Kota akan berarti besar bagi yang bisa memanfaatkannya.

Santri Kranji setelah selesai mengecap pendidikan di pondok, paling tidak mahir dalam membaca Alquran. Keterampilan ini bertemu dengan hedonisme Ibu Kota menjadi barang langka yang bernilai tinggi.

Contoh kongkrit terhadap kasus ini adalah ustaz Syarifuddin Zaky. Meskipun tanpa embel-embel gelar Sarjana Alquran, berkat keterampilan mengajinya, dia berhasil menjadi imam besar masjid jamik al-Azhar Bekasi dan masjid an-Nur Permata Timur Jakarta Timur. 

Contoh lain adalah langganan mengaji anak-anak Wasiat di rumah Bu Sri, hartawan asal Lamongan yang menetap di Jakarta. Tentu saja sepulang dari hajatan ini, mereka tidak kembali dengan tangan kosong.

Pendidikan sebagai pendorong Santri Kranji untuk menginjakkan kaki di Ibu Kota memang cukup beralasan. Pendidikan tidak dimaknai sekadar bertemu dosen di kelas. Pendidikan bisa berarti luas dengan segala macam aktivitas yang menambah wawasan. Jakarta sebagai Ibu Kota negara menjadi basis kegiatan skala nasional dan internasional.

Beragam event yang menawarkan pengembangan pemikiran hadir di sini. Almarhum Ahmad Millah selalu menginformasikan agenda kegiatan yang bermanfaat bagi adik-adiknya. Tidak hanya itu, dia juga memberikan ongkos transportasi pulang-pergi ke lokasi acara. Bagi kami yang peranakan udik tentu itu sangat menarik. “Perbaikan gizi”, kami mengistilahkan.

Seharusnya usai menimba ilmu di Ibu Kota, para Santri Kranji pulang kembali ke kampung halaman masing-masing untuk menerapkan ilmu yang diperolehnya. Namun, daya tarik Ibu Kota dengan segala gemerlapnya ternyata mampu mengikat beberapa Santri Kranji untuk menetap di sana.

Berjibaku dalam mengejar Metro Mini maupun Kopaja setiap hari dirasa bukanlah suatu masalah yang berarti. Sempitnya waktu bersama keluarga pada hari-hari aktif tidaklah menjadi beban yang harus diladeni.

Perjuangan Santri Kranji di Ibu Kota pun membuahkan hasil, baik di bidang ekonomi, politik, maupun akademik. H. Mas’ud Abdalla terbilang santri senior yang selain konsen di bidang pendidikan, juga memiliki kepiawaian dalam mengembangkan sayap-sayap bisnis. Bermula dari bisnis percetakan hingga merambah ke bisnis ticketing dan traveling.

Usaha ini dimakmumi juniornya, H. Anam Anshari, yang juga sukses dalam bisnis ticketing. Adanya Wasiat cukup memberikan sumbangan Sumber Daya Insani mumpuni yang dibutuhkan bagi perkembangan suatu perusahaan.

Di lapangan birokrasi politis, Santri Kranji Ibu Kota pun tak mau ketinggalan. Berbekal kemampuan agama dan jaringan organisasi, beberapa anggota Wasiat masuk ke kementerian pusat. Tercatat di Kementerian Agama, Umus Shofiyah dan Ahmad Sugiyono. Di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi terdapat H. Abdul Karim dan M. Asy’ari. Di Komisi Penyiaran Pusat terdapat Nur Huda. Dan saya sendiri “tersesat” di Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia.

Saya masuk ke rimba Ibu Kota sejak lulus dari MAK Tarbiyatut Tholabah Kranji pada 2002 lalu. Berbekal nekat sebab iming-iming kuliah gratis di LIPIA, kami berlima (Saya, Moh. Shorih al-Khalid, Ah. Najihul Asrar, Ali Mas’ud, dan Muammar) memohon restu kepada K.H. Moh. Baqir Adelan untuk melanjutkan studi ke LIPIA. Doa dan restu orang tua dan kyai mengawal kami meniti jalan panjang menuju Ibu Kota.

Yang paling berkesan di kampus LIPIA adalah penerapan tingkat disiplin yang tinggi dan ketegasan dalam penerapan peraturan. Kampus ini tidak segan-segan men-drop-out mahasiswa yang melanggar peraturan. Meskipun terkesan sebagai kampus Wahabi, di dalamnya terdapat mahasiswa dengan beragam latar belakang mazhab Fikih dan aliran pemikiran. Setiap mahasiswa bisa mendebatkan apa yang pernah dipelajari dan menjadi keyakinannya.

Di mana pun tempatnya dan kapan pun waktunya, Santri Kranji memiliki integritas berpikir dan tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran lain tanpa melalui saringan ilmu-ilmu agama yang telah diajarkan di Pondok Kranji. Itulah yang mengantarkan Santri Kranji bisa menjangkau segala bidang kehidupan di Ibu Kota negara Republik Indonesia, DKI Jakarta.

*Penulis: Agus Saifuddin. Alumni TABAH. Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia.

0 Response to "Santri Kranji di Belantara Ibu Kota"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter