Berkah Guru Mengubahku, Moh. Khoirul Fatih

Berkah Guru Mengubahku, Moh. Khoirul Fatih

Bagi sebagian masyarakat, kata-kata “Berkah Guru” tidaklah asing di telinga, apalagi bagi mereka yang sedang nyantri dan memiliki pengalaman menjadi santri. Berkah guru seakan menjadi magnet tersendiri di lingkungan pesantren dan menjadi perburuan setiap harinya. Mereka paham betul seperti apa berkah guru itu.

Ditelusuri dari arti katanya, “Berkah” atau “al-Barakah” bila kita pelajari dengan saksama, baik melalui ilmu bahasa Arab maupun melalui dalil-dalil dalam Alquran dan Sunah, niscaya kita akan mendapatkan, bahwa “al barakah” memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat universal dan substantif.

Dilihat dari segi bahasa, berkah berasal dari bahasa Arab: al-Barakah (البركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). Istilah lain, berkah dalam bahasa Arab adalah mubārak dan tabāruk. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, berkah diartikan sebagai “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Imam al-Ghazali mengatakan dalam Ensiklopedi Tasawuf, arti dari berkah adalah Ziyādah al-Khayr, yakni “bertambahnya kebaikan”. Tidak hanya al-Ghazali, imam besar mazhab Syafii dan Imam an-Nawawi, juga mengatakan dalam kitab Syarah Shahih Muslim “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.”

 Di sinilah dapat dipahami, bahwa berkah secara universal dimaknai sebagai bentuk kebaikan yang di dalamnya terkandung pesan-pesan keagamaan. Sedangkan guru diartikan sebagai seseorang yang harus dicontoh, menjadi panutan bagi para santri bahkan masyarakat. Sebagaimana perkataan Ki Hajar Dewantara, “Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa Tut Wuri Handayani.” (Di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi daya kekuatan).
Faktor inilah yang kemudian menjadi mata rantai penghubung antara guru dan murid, meskipun tanpa kabel listrik, keduanya terikat erat dan tidak terpisahkan.

Tumbuhnya perasaan cinta pada guru dan ilmunya menjadi faktor penting, konsep berkah tetap eksis di era yang serba modern dan rasional.

Pemahaman tentang berkah yang diyakini seorang santri dapat menjadi pembentuk sendiri dalam bidang karakter dan prinsip keilmuan. Di samping ngaji kitab kuning sebagai kegiatan utama di pesantren, konsep berkah ternyata mampu menjadi karakteristik dan pembeda antara pesantren Tarbiyatut Tholabah dengan pesantren lainnya. Guru-guruku biasa menyebutnya dengan “kekuatan doa”.

Judul “Berkah Guru Mengubahku” tampaknya sangat relevan untuk kutulis, karena mampu membuka memori masa lalu. Tidak lama kemudian, kubuka kembali buku-buku lama yang tersimpan dalam lemari tua kamarku. Di dalam buku yang tampak kusam pada tumpukan paling bawah, kutemukan tulisan tebal dengan kalimat Tarbiyatut Tholabah Pesantren Berkah. Oh ... Aku kemudian ingat bahwa kalimat itu kudapatkan sepuluh tahun yang lalu dari guru Madrasah Aliyah di pesantren Tarbiyatut Tholabah. 

Tarbiyatut Tholabah pesantren berkah, begitulah aku menyakininya, tempat para pencari berkumpul, bercanda gurau dan membicarakan tentang apa saja. Seperti halnya Socrates yang mengajak muridnya untuk bertanya tentang dunia, begitu juga dengan Tarbiyatut Tholabah, para kiai, dan para guru, mengajak semua santrinya untuk belajar agama, menemukan untaian hikmah yang terpendam dalam jiwa, memahami tugas sebenarnya sebagai manusia, dan dididik untuk menjadi manusia yang amanah. 

Tarbiyatut Tholabah pesantren berkah, begitulah aku menyakininya, tempat para santri relah melakukan apa saja, menata sandal kiai dan meminum sisa minumnya. Bagi masyarakat luar, ini “gila”. Tetapi bagi santri, inilah berkah, yang dipercaya dapat menjadikan hidup lebih berkah dan penuh hikmah. “Hikmah adalah sesuatu yang hilang”, ini menjadi tanggung jawab mereka untuk menjaganya, sampai masyarakat percaya bahwa hikmah memang nyata.
    
Aku memang tidak seberuntung mereka, saat mereka menata sandal kiai, aku hanya menatapnya sambil bertanya pada teman di sampingku. “Bro, mereka lagi apa? Jangan-jangan, sandalnya mau dibawa untuk menjadi bantal tidur mereka.” 

Teman di sampingku hanya mengatakan, “Biarkan saja, itu urusan mereka. Ayo, kita ambil air wudu dan berangkat salat Zuhur berjamaah.”   

Selesai salat Zuhur, aku bergegas melihat sandal Kiai yang tadi dipegang oleh santri, dilihat dari seragamnya, seperti siswa MA. Rasa penasaranku terus mengajak untuk terus bertanya, Mereka tadi sebenarnya sedang apa? Sandal Kiai masih ada ditempatnya.
Tidak berlangsung lama, aku bertemu dengan Pak Mujib. Tanpa berpikir panjang, aku langsung melontarkan pertanyaan kepadanya.

“Aku setiap hari melihat para santri menata sandal Kiai dan ditaruh di pojok musala. Sedang apa mereka?”

Pak Mujib hanya tertawa sambil melihat wajahku yang merah. Tidak lama kemudian, setelah dia menghabiskan sebatang rokoknya, dia menjawab dengan santai, “Santri yang setiap harinya menata sandal Kiai, mereka sedang mencari berkah.” 

Aku kemudian bertanya kembali kepadanya, “Apa itu berkah?”
“Setelah sampean lulus dari Tarbiyatut Tholabah akan mengetahui apa itu berkah,” jawab Pak Mujib.
Dua tahun kemudian, aku lulus dari Tarbiyatut Tholabah, dan melanjutkan pendidikan perguruan tinggiku di Yogyakarta, ibu kota pertama Indonesia yang telah banyak melahirkan cendekiawan muslim yang bijaksana. \

 Enam tahun menghabiskan masa pendidikan di Tarbiyatut Tholabah membuatku susah melupakannya. Pertanyaan seputar “apa itu berkah” terus kubawah sampai ke tanah Jogja. Tepat pada tanggal 11 September 2011 silam aku mendaftar di UIN Sunan Kalijaga sebagai mahasiswa. Tiga kali tes, aku selalu dibuat kecewa, namaku tidak pernah tercantum sebagai mahasiswa lulus tes.

Aku lalu pulang ke rumah sambil membawa berita tidak bahagia yang harus kusampaikan ke orang tua. Satu minggu kemudian, aku ziarah ke makam K.H. Musthofa (Pendiri Pesantren Tarbiyatut Tholabah), sambil berdoa membacakan yasin tahlil untukknya, dengan harapan aku bisa mendapatkan berkahnya. 

Setelah dua minggu di rumah, tiba-tiba terdengar telepon dari teman yang sudah diterima di UIN Jogja. Memberi kabar bahwa jalur masuk menjadi mahasiswa masih ada. Tanpa berpikir panjang, aku lagsung berpamitan ke orang tua untuk berangkat ke Jogja mendaftar tes kembali dengan harapan diterima. 

Tes keempat telah selesai aku lakukan. Kabar baiknya, namaku tercantum sebagai mahasiswa yang lulus tes, dan di bawah kolom namaku terdapat tulisan kecil dengan kalimat: “Selamat, Anda diterima dan mendapat beasiswa S1 sampai wisuda.” 

Sempat aku tidak percaya, bagaimana bisa aku mendapatkan itu, sedang selama sekolah, menyentuh sandal kiai pun aku tidak pernah. Dengan cepat aku mengecek ke bagian panitia penerimaan mahasiswa dan informasi yang aku baca ternyata benar-benar nyata. 

Tidak lama kemudian aku ingat jawaban yang disampaikan pak Mujib waktu kutanya apa itu berkah. Aku mengajak bicara diriku sendiri, Apa ini yang dinamakan berkah? Suatu hal baik yang diperoleh setelah lulus dari pesantren Tarbiyatut Tholabah. Apa benar Tarbiyatut Tholabah pesantren berkah? Entah mereka percaya atau tidak, tetapi aku yakin berkah guru memang nyata, dan aku merasa mendapatkannya. Dengan diterima sebagai mahsiswa di UIN Jogja sekaligus mendapatkan beasiswa kuliah, inilah yang aku namakan “berkah”. 

Berkah guru tampakknya terus menyertai dalam setiap langkahku, mata pelajaran yang sulit aku pahami ketika masih di bangku sekolah, terlihat mudah ketika aku kuliah. Sampai tahap akhir perkuliahanku S1, semua begitu mudah dan lancar-lancar saja. Pada akhir munakasah skripsiku, berkah guru tampakknya ada di sampingku, mendampingi, dan memberikan bisikan-bisikan gaib seolah mengingatkan aku tentang jawaban dari pertanyaan para penguji. 

Aku berkata pada diriku, “Tarbiyatut Tholabah memang berkah.” 
Berkah yang mengubahku dari bukan siapa-siapa menjadi siapa, berkah yang memberiku secercah harapan untuk mengubah hidup ke arah lebih baik dan bermakna.

 Tidak berlangsung lama setelah lulus program S1, aku  mandapatkan surat rekomendasi dari dosen. Surat rekomendasi untuk lanjut Magister. Aku telepon orang tua di rumah, meminta izin dan doa untuk melanjutkan kuliah ke tahap selanjutnya. Satu kali tes masuk S2 di Program Pascasarjana UIN Jogja, aku langsung diterima, kemudian aku selesaikan semua tahap sampai daftar ulang, semuanya berjalan begitu lancar dan mudah. 

Aku kembali berkata pada diriku, Apa ini yang dinamakan berkah? Suatu kemudahan ketika mengurus segalanya.

“Berkah guru” mengubahku, kelulusan program magisterku yang terbilang cepat membawa berkah dan hikmah tersendiri dalam hidupku, dibarengi dengan diterimanya menjadi dosen tetap di Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah (IAI Tabah) dan tergabung dalam kelompok peneliti muda studi agama Yogyakarta. Istriku melahirkan anak pertama dan pada tahap ini aku menjadi ayah dan dosen tetap, sesuai dengan harapan dua petani tua yang setiap hari memikul pacul di pundakknya.

0 Response to "Berkah Guru Mengubahku, Moh. Khoirul Fatih"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel