Cerita santri: Cinta Dibalik Penjara Oleh Ali Maghfuri

Cinta Dibalik Penjara

Berangkat dari sebuah dusun yang kecil nan terpencil, jauh dari hiruk pikuk keramain yang menjadi tempat kelahiran saya (dusun Lengor) tepatnya, tetapi di mataku ia adalah istana yang megah dikelilingi tembok hidup, bertangkai dan rimbun berdaun (hutan, tambak, kebun, dan sawah).

Seperti anak pada umumnya, saat ditanya apakah punya keinginan, harapan, ataupun cita-cita untuk masa depan? Pasti semua menjawab punya. Apakah ingin merealisasikannya, tentu “ya” jawabnya. 

Saat itu maklum saja, masa anak-anak tak ada beban dan rasa ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Masa anak adalah masa bak raja, apa pun yang kita minta pasti tersedia, tak mau tahu apa pun caranya, yang penting apa yang kita minta harus ada.

Saat mulai remaja, cara berpikir kita pun dituntut berubah, tak lagi semena-mena seperti masa anak-anak dulu. Kita mulai diajari realistis, mulai dikenalkan kehidupan yang nyata dan dituntut menjadi pribadi prima, baik dari segi fisik maupun pikir kita. Karena, dalam kehidupan ke depan tak ada lagi yang bisa mengarahkan jalan, kecuali kita sendiri, tak terkecuali orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita. Kita punya pilihan, kita punya pandangan, dan kita punya alasan ke mana langkah kaki kita melangkah dan memilih rute-rute berikutnya.

Sekalipun masa remaja konon terkenal sebagai masa hura-hura dan foya-foya, namun tidak bagi saya. Alhamduliillah, keluarga saya mengajarkan cara hidup yang berbeda, dan memberikan pendidikan luar biasa, sehingga saya pribadi meyakini bahwa cita-cita harus diperjuangkan mulai sekarang, mulai hari ini tanpa ada kata menunda-nunda lagi. “Kehidupan anda nanti, akan ditentukan saat ini.” 
Ini menjadi PR kita bersama, utamanya wali santri untuk selalu menjadi teman yang baik untuk perkembangan putra dan putrinya dalam memotivasi mereka untuk meraih mimpi yang diidamkannya. Ajak bicara, ajak diskusi, dengarkan keluh-kesahnya, jangan hanya memberi doktrin-doktrin tanpa sebuah alasan yang jelas, ingatlah bahwa mereka bukan kita, mereka hanya anak panah yang setelah kita lepas dari busurnya akan berjalan menurut pilihannya.

Memang sejak kecil saya tergolong dalam deretan anak yang aktif, senang sekali ngobrol dengan kakak dan orang tua, bermain dengan teman-teman sebaya, dan dari sana saya mendapatkan pelajaran yang luar biasa baiknya. Dari pengalaman-pengalaman hidup tersebut semakin mematangkan pola pikirku, hingga lahirlah suatu kesimpulan bahwa perjuangan hidup itu tidak mudah, harus ada keringat yang bercucuran, harus ada tenaga yang dikeluarkan, dan tentu ada rasa yang harus dikorbankan demi hidup dan kehidupan, karena bagi kami hidup saja tidak cukup tanpa bisa menjadi sumber kehidupan. Seperti halnya sehat saja tidak cukup jika tidak dibarengi prima atau walafiat.

***
Kami memaknai hanya seteguk air saja untuk memenuhi dahaga kita. Kita tidak akan bisa memenuhinya tanpa ada usaha untuk mencapainya. Apalagi sekali berkelas impian atau cita-cita, mana mungkin bisa kita mewujudkannya tanpa usaha, tentu yang lebih keras dari sekadar memenuhi dahaga tenggorokan kita.

Saya, demi cita-cita (cinta), sampai rela dipenjara (nyantri di Tabah). Penjara, kami memberikan makna bukan sesuatu yang buruk, kami hanya mengacu pada peraturan dan kedisiplinan, bukan tampungan para penjahat atau koruptor, melainkan kumpulan komunitas yang sadar akan adanya keinginan perubahan dan peningkatan kualitas hidup yang beda dari hanya sekadar biasa, melainkan ingin menjadi luar biasa.

Kembali masalah cita-cita. Cita-cita hanya akan menjadi sebuah harapan hampa atau cerita saja tanpa ada usaha dan perjuangan untuk mewujudkannya, dan perjuangan pasti butuh pengorbanan. Dan tak akan pernah ada yang sia-sia apabila kita menjalankan sesuatunya dengan landasan cinta. Saya mencintai cita-cita saya, hingga saya rela masuk penjara.

Karena dasar cinta, maka lahirlah rasa indah. Semangat dan perjuangan saya demi meraih cita-cita, perjalanannya pedih tak terkira, sakit tak berdarah, dan ini akan berlaku pada para santri jika bersedia menggunakan jurus jitu ini.

Indah Menjalani hari demi hari di pesantren jangan memikirkan apa-apanya dulu atau gimana-gimananya dulu, tapi bayangkan, rasakan dan lihat sisi indah dan bahagiahnya saat anda berhasil meraih cita-cita, bukankah ini juga bagian dari pembuktian kesengguhan kita akan keinginan mencapai dan mewujudkan cita-cita.

Bandingkan dengan penyesalan dan penderitaan Anda jika tidak berhasil menggapai itu cita-cita. Bagaimana dengan kehidupan anda kedepannya, keluaraga dan tentu orang tua yang telah mati-matian memperjuangkan kehidupan anda, namun sebaliknya anda membalas dengan kegagalan yang membuat mereka super kecewa. Hal ini sama seperti kita mencintai seorang gadis apapun dari gadis dambaan kita pasti terlihat indah, mata nya, tutur kata nya, cara jalannya, suaranya padahal suaranya cempreng gak karuan kita tetap menganggapnya indah dan bisa menerima karena satu dasar yakni cinta.

Mulai sekarang, apa pun kegiatannya, selama dilegalkan di pesantern pasti memberikan efek baik bagi penghuninya. Kemudian tugas kita hanya meyakini bahwa kegiatan itu baik nan indah untuk kita.

Jangan lagi mengeluh saat dibangunkan untuk salat Subuh, jangan ada marah ketika diwajibkan kerja bakti bersama membersihkan kamar mandi dan asrama. Mending terkesan pahit saat ini, namun akan indah pada masa depan kita.

Sebagai remaja yang saat di rumah apa-apa tersedia, nggak perlu masak jika mau makan, nggak perlu mencuci saat baju kotor habis sekolah atau main bola. Istilahnya, rumah adalah surga dunia. Tetapi demi cita-cita, kita rela ninggalin surga.

Saat di pesantren, kita harus bangun pagi-pagi, mandi yang sudah tentu antri, belum lagi jika ada senior santri yang mendahului. Nyesek, Gaes. Tetapi kita bisa apa? Hanya diam dan pasrah. 
Semangat
Banyak orang bisa berkata “semangat”, namun hanya sedikit yang bisa menerapkan kata sakti tersebut. Semangat bukan hanya kata sakti, namun ia bisa menjadi nyawa kedua sebagai tenaga penggerak jiwa dan raga.

Semangat bisa saja didapat dari orang lain, namun esensi atau makna yang paling ampuh dari kata tersebut hanya didapatkan dari diri sendiri. Karena motivasi terbaik dan terhebat tidak akan pernah didapatkan dari orang lain melainkan dari diri sendiri.

So, sebenarnya siapakah motivator terbaik di dunia ini? Jawabnya adalah kita sendiri.
Dengan semangat tak ada yang susah, tak ada kata menunda, dan semua akan terlihat mudah. Di mana ada kemauan (semangat), di sana pasti ada jalan, Begitulah ungkap pepatah lama. Dan sebaliknya, dengan malas, yang mudah jadi susah, yang biasa menjadi luar biasa rumitnya.

Saat rasa malas melanda, ingat kembali cita-cita Anda, rangkai kembali impian indah Anda. Ikhlaskah jika mimpi indah kita terlepas hanya gara-gara malas? Adilkah jika harapan orang tua kita abaiakan begitu saja? Lantas, ke mana tanggung jawab kita yang katanya sebagai pemimpin di dunia? Masa pemimpin semangatnya kandas gara-gara malas? 
Rasa malas ini hanya tipu daya setan yang tidak mau Anda sukses dan berhasil, sadari tipu daya setan yang sangat piawai dan ahli ini.

Menurut ilmu pemograman otak yang terkenal dengan sebutan NLP (Neuro language programming), semangat bisa kita tanam dalam otak kita dan kita bisa memanggilnya kembali ketika semangat kita mulai menurun dan ini disebut “Anchor”. Anchor ini adalah pemantik semangat yang sewaktu-waktu bisa kita gunakan saat kita butuhkan karena sudah ditanam dan diprogram dan sebenarnya proses ini sejak dulu sudah biasa saya terapkan di pesantren Tabah sekalipun saat itu saya belum tahu ilmu apa, tetapi saya merasakan dampak keberhasilannya.

Contoh, saat rapat OSIS, (saat menjabat ketua OSIS MA Tabah 2004/2005) sekecamatan Paciran dan perkumpulan pers siswa sekabupaten Lamongan, saya merasa minder kalau bertemu kawan-kawan dari SMA. Mereka terlihat keren, pergaulan luas, sementara saya yang setiap hari di pesantren, pergaulan terbatas, jadi canggung berinteraksi sama mereka.

Andai saya sekolah seperti mereka di SMA biasa, pasti saya bisa mengimbangi pergaulan yang luas itu. Saat di posisi ini, saya langsung ingat pesan orang tua, (anchor yang ditanamkan dalam otak [doktrin positif]), “Ali, tempat terbaik untuk mewujudkan mimpi dan cita-citamu adalah Pesantren Tarbiyatut Tholabah, Kranji.” Seketika aku tersadarkan bahwa tiada penyesalan karena telah memilih jalur pesantren, dan tiada minder apalagi takut lagi untuk sosialisasi di tengah mereka, kawan-kawan yang memang terbiasa berkumpul dengan komunitas bebas dan luas. Dan akhirnya saya malah terpilih menjadi ketua presedium pers pelajar Lamongan tahun 2005.
Perjuangan

Cita-cita harus diperjuangkan, tak ada sejarah dan cerita kemenangan tanpa perjuangan, tak ada kemerdekaan tanpa peperangan. Berjuang, tentu banyak yang dilibatkan mulai tenaga, pikiran, sampai finansial. Jeritan, tangisan, bahkan keringat darah, akan bercucuran jika memaknai sebuah perjuangan, sungguh derita dan derita yang ada, sakit melilit-lilit.

Saat kita mencintai cita-cita, tak ada kata malas untuk memperjuangkannya. Tak ada tingginya gunung, tak ada luasnya samudera, tak ada panasnya bara apai, tak ada dinginnya salju, semua dapat kita lewati tanpa keluh kesah. Munculkan mimpi dan cita-citamu tiap kegiatan yang kamu lakukan, jadikan ia sebagai lampu pijar penerang dan penuntun jalan hidupmu di pesantren, pasti akan terus memompa semangatmu untuk terus berjuang dalam menggapai impian.

Sekilas cerita perjuangan mengikuti puasa selikuran.
Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, sudah bisa ditebak, pastilah curahan kasih sayang orang tua dan saudara-saudara lainnya akan tumpah ruah pada anak kelima, karena menjadi anak ruju (kata orang jawa) atau terakhir dari deretan lima bersaudara.

Sejujurnya, saya belum pernah mengikuti sampai puasa hari keselikur tersebut, karena kakak-kakak selalu merayu untuk segera pulang pondok saat puasa memasuki sepuluh sampai lima belas hari. Selalu digoda dengan hidangan istimewa saat berbuka dan sahur. Memang, keluarga kami selalu mengistimewakan menu-menu hidangan saat Ramadan, jadi, ya, pastilah enak-enak. Berbeda dengan yang di pesantren, kami makan sesuai menu yang ada, kalau mau jajan bisa, tetapi saya tergolong orang yang suka menabung, jadi eman kalau mau beli aneh-aneh.

Kali ini ceritanya berbeda. Tepatnya tahun terakhir, saya di pesantren ingin menjadi santri sempurna yang bisa melewati segala kegiatan pondok yang belum bisa saya jalani, dan jujur ini memang berat sekali, beraaat. Saat memasuki puasa lima belas hari, Kakak sudah datang menjemput, di anggap seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan bujuk rayunya, dengan berbagai alasan, dan akhirnya saya bisa menolak. Dua hari berikutnya datang seorang teman yang memberi kabar bahwa kami akan ada acara buka bersama dan kegiatan sosial dalam rangka Ramadan. Saya dijadikan ketuanya, hati mulai agak goya, keyakinan mulai merenggang, pendirian mulai goyang, belum lagi rayuan maut-maut lainnya. Memang saya suka acara sosial, tetapi bagaimana lagi, mosok nunggu sampai selikuran ae ra kanti.

Saudara bisa bayangkan sendiri ketika harus melewati hari-hari penuh rayuan dari Kakak dan kawan-kawan yang ingin menculik saya dari pesantren. Tetapi akhirnya tetap dengan keyakinan yang kuat dan alhamdulilah hati saya diistikamahkan pada ketetapan dan pilihan yang saya pilih. Luluslah saya sampai selikuran yang kunanti.

Demikian cerita cintaku di balik penjara, cinta terhadap cita-cita. Demi mewujudkannya, saya rela hidup di penjara (patuh aturan, kedisiplinan, dan penuh perjuangan).

Salam hangat untuk adik-adik santri, percayalah Anda akan menyesal saat Anda sudah keluar dari pesantren, terlebih saat di pesantren Adik hanya sebatas belajar dan ngaji saja, tidak ada kata sunguh-sungguh di sana, asli hanya penyesalan yang ada.

Jadi, setelah membaca coretan ini, kembalilah menata mimpi dan cita-cita Anda bahwa tidak ada kesempatan terbaik untuk berubah menjadi lebih baik kecuali hari ini, saat ini, dan mulai detik ini.

0 Response to "Cerita santri: Cinta Dibalik Penjara Oleh Ali Maghfuri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter