Kisah Santri. Hijrah dan Air Mata

Hijrah dan Air Mata

Akhir tahun 2014, adalah fase ketigaku. Jika diringkas, aku melewati tiga fase: tidak kerasan, kerasan, dan sangat kerasan sampai tidak ingin pulang. Di fase ketiga inilah aku sudah mulai merasakan nikmatnya mondok. Di sana ada perjuangan, pengabdian, dan persahabatan. Ngaji bersama, tidur bersama, makan bersama, ngopi bersama, di sinilah aku menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Aku ingin terus bersama mereka, tanpa ada kata perpisahan yang bisa memutus kebersamaan kami.

Tetapi tugas manusia hanya berusaha, Tuhanlah Pemilik kuasa. Waktu itu, sekitar jam sepuluh siang, aku mendapat telepon dari rumah, orang rumah menyuruhku untuk segera pulang (boyong). Seketika itu juga semangatku langsung hilang, makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Aku sama sekali tidak menyangka, mengapa harus pergi secepat ini, di saat aku menemukan kebahagiaan bersama teman-teman.

Aku mulai berkemas, bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Sebelum meninggalkan semuanya, aku ingin mengucapkan salam perpisahan. Pertama-tama, aku pergi ke pantai, tempat inilah yang biasa aku kunjungi ketika sedang bersedih, aku tidak tahu bagaimana selepas di rumah nanti, kemana aku harus membuang kesedihan yang bersarang di hati.

Lalu aku melintas di jalan Deandles, jalan yang aku anggap asing di awal perjumpaan, tetapi aku bingung, mengapa jalan ini sekarang terasa begitu terkenang. Teringat bagaimana ketika aku mengayun sepeda ontelku dengan sangat riang tanpa beban, sebentar lagi aku tidak akan melintas di jalan ini lagi, entah kapan aku akan kembali untuk sekadar mengenang sebuah memori.

Aku mengunjungi semua warung makan langgananku, di sana aku hanya membeli minuman, tidak membeli makan. Aku berkata kepada pemilik warung bahwa hari itu adalah hari terakhir aku makan di sana, aku menyuruh pemilik warung untuk mengecek daftar utangku. Aku melunasi semua utangku dan pergi meninggalkan warung yang penuh kenangan itu.

Aku segera mengambil tas ransel, dan menenteng kardus Aqua yang berisi buku-buku. Aku menyalami semua teman-teman, bahkan aku memeluk mereka dengan erat, karena setelah ini aku tidak bisa lagi makan bersama mereka, aku tidak bisa lagi tidur bersama mereka, tidak bisa lagi ngopi bersama.

Kesempatan ini tidak akan terulang kembali. Aku tidak bisa menahan kesedihan, air mataku tiba-tiba menetes, membasahi pipi kanan dan pipi kiri. Lalu dengan langkah yang gontai aku meninggalkan pondok tercintaku, meninggalkan guru-guruku, dan meninggalkan teman-temanku. Selamat tinggal semuanya, terima kasih banyak telah menemani dalam seperempat usiaku.

Oleh: Mochammad Faizin

0 Response to "Kisah Santri. Hijrah dan Air Mata"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel