Santri Tanpa Kitab Kuning Apa Kata Dunia?

Santri Tanpa Kitab Kuning Apa Kata Dunia
Oleh: Moh. Nashiruddin A. Ma’mun

Ngaji kitab kuning, sering kali kita jumpai di pondok pesantren. Pasalnya, mengkaji kitab kuning sudah menjadi salah satu ciri khas kegiatan pondok pesantren yang ada dari dahulu sampai sekarang. Terlebih, sebagai santri pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah. Sehingga, kajian kitab kuning sudah menjadi tradisi dan tak asing lagi bagi santri.

Kitab kuning atau kitab klasik yang merupakan rujukan bagi santri, merupakan kitab yang tersusun dan tertulis dari huruf-huruf Arab. Namun, apakah semua jenis kitab Arab bisa dikonsumsi oleh seorang santri? Kitab kuning seperti apakah yang biasa dipakai dan dikaji oleh santri?

Sebagai orang awam, mungkin kitab kuning yang kita tahu adalah kitab kuno yang biasa kita kaji bersama bapak kiai. Namun sebetulnya, ada banyak sekali buku-buku dan jenis kitab yang tertulis dengan bahasa Arab, misalnya majalah Arab, artikel Arab, novel Arab, bahkan tidak lama ini ada Alquran yang dipalsukan dan memakai bahasa Arab, ini harus kita waspadai betul-betul.

Tentu bukan buku-buku semacam itu yang kita kaji, buku-buku Arab yang wajib kita kaji adalah kitab klasik yang di dalamnya terdapat Ilmu Akidah, Ilmu Pengetahuan, Hukum-hukum Islam, Cerita Islami, anjuran-anjuran tentang kebaikandan, dan masih banyak lagi kitab-kitab lainnya. Di antara contoh kitab-kitab yang dimaksud adalah kitab “Bulūgh al-Marām, “Mukhtār al-Aẖadīts”, “Arba’īn al-Nawāwī”, “Riyādh al-Shāliẖin”, dan lain-lain. Semuanya membahas tentang Hadis atau sunah Rasulullah. Ada juga kitab-kitab tafsir seperti “Tafsīr al-Jalālayn”, “Tafsīr al-Nawāwī”, “Tafsīr Juz’ ‘Amma”, Tafsīr Sūrah Yāsīn”, dan lain-lain.

Kitab-kitab tersebut membahas tentang penafsiran Alquran. Ada juga kitab-kitab Nahwu Saraf, yang membahas tentang gramatika dan tata bahasa Arab, seperti “Alfiyyah ibn Mālik”, “‘Imrithī”, “Jurūmiyyah”, “Sharf Maqshūd”, dan lain-lain. Kitab-kitab yang membahas tentang Fikih juga ada, seperti “Fatẖ al-Mu’īn”, “Fatẖl al-Qarīb”, “Matn Ghāyah wa al-Taqrīb”, dan lain-lain. Keseluruhan kitab di atas adalah berbagai jenis kitab klasik yang biasa dikaji oleh santri pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah, bahkan masih banyak lagi kitab-kitab lain yang tidak mungkin kita sebutkan satu persatu.

Pesantren dan Kajian Kitab Kuning 


“Tiada hari tanpa mengaji kitab kuning.” Itulah moto sekaligus aturan yang ada di Tarbiyatut Tholabah. Kegiatan belajar mengajar kitab kuning di pesantren ternyata tidaklah menggunakan metode modern sebagaimana yang ada di lembaga-lembaga formal saat ini. Tetapi, pesantren masih istikamah menggunakan metode klasik yang telah diwariskan oleh para leluhurnya, yaitu ”metode sorogan”.

Dalam praktiknya, metode sorogan ini, biasanya langsung dipimpin oleh kiai dengan membaca beberapa kalimat dari isi kitab tertentu dengan memakai makna gandul Jawa, (ada juga kiai yang menggunakan makna gandul Indonesia), dan menjelaskannya kata demi kata. Sementara para santri memegang kitab yang sama (sebagaimana yang dibaca kiai), mendengarkan, memberikan makna gandul sekaligus menyimak penjelasan kata perkata dari sang kiai tersebut. Sistem pemaknaan, penerjemahan, dan pemahaman dibuat dengan sedemikian rupa.

Sehingga, para santri diharapkan mampu memahami dan mengerti baik dari arti kata-perkata, hingga fungsi kata dalam susunan bahasa Arab. Setelah kiai selesai membaca, memberi makna, dan menjelaskan, pada hari selanjutnya para santri secara bergantian maju satu per satu ke depan kiai untuk membacakan kembali apa yang telah diajarkan oleh kiai melalui ngaji sorogan sepersis mungkin (Prodjodikoro, 2003: 43)

Mungkin, untuk sebagian santri, ngaji kitab kuning dengan metode sorogan seperti itu merupakan aktivitas yang cukup melelahkan dan membosankan, padahal tanpa kita sadari dengan ikut mengkaji kitab kuning berarti kita telah ikut serta mengupas kebodohan dalam diri kita sendiri, dengan mengkaji kitab kuning berarti kita juga menambah wawasan dan ilmu sekaligus mengembangkan pengalaman yang kita miliki. Misalnya ada kitab “Matn Ghāyah wa al-Taqrīb”, “al-Umm”, ada juga “al-Fiqh ’Alā Madzāhib al-Arba’ah”, yang mana di dalamnya mengkaji tentang fikih. Dengan mengkajinya, bertambah pulalah pengetahuan kita tentang hukum Islam.

Selain itu, terdapat juga kitab-kitab tentang ilmu alat, Hadis, Tafsir, bahkan Ilmu Perbintangan juga ada dalam kitab kuning. Oleh karena itu, semakin banyak kita mengkaji kitab kuning, semakin banyak pula ilmu yang kita peroleh dan akan menjadi orang yang Faqīh Fī al-Dīn.

Tipologi Santri “Masyarakat” dalam ”Bermazhab” Kitab Kuning
Tipe masyarakat santri sangat majemuk. Hal ini didasarkan pada hasil pengamatan dan survei langsung, sekaligus mempelajari dengan saksama fenomena yang berkembang di tengah-tengah masyarakat dewasa ini. Ternyata, pemahaman masyarakat kita akan pendidikan berbasis “kajian kitab kuning” terpecah menjadi tiga kelompok, yaitu:

Pertama, kelompok modern, yakni kelompok yang selalu beranggapan bahwa mengkaji kitab kuning tidaklah perlu. Karena mereka berpikir bahwa dengan mengkaji kitab kuning tidak akan menghasilkan uang, tidak ada pekerjaan yang layak bagi penela’ah Kitab Kuning. Lebih lanjut kelompok ini yakin bahwa Kitab kuning dirasa tidak dibutuhkan lagi di era globalisasi, karena sekarang ini teknologi sudah semakin canggih, ilmu pengetahuan semakin berkembang, segalanya memakai tenaga ahli. Jadi, kitab kuning dianggap hanya sebagai penghambat menuju sukses, sehingga mereka lebih bangga bila mereka bisa menyekolahkan anak-anak mereka di bangku umum, SD, SMP, SMA/SMK, sampai S-1, S-2, bahkan S-3, yang sedikit pun tidak menyentuh kitab kuning. Padahal selama ini, kita tahu bahwa mereka yang bersekolah di Perguruan Tinggi dan bertitel banyak, belum tentu lebih cerdas dan lebih pandai dibandingkan para santri yang kesehariannya hanya mengkaji kitab kuning.

Kedua, kelompok yang sering kita kenal dengan sebutan masyarakat tradisional, yaitu kelompok yang lebih mengedepankan kitab kuning. Mereka lebih memilih pondok pesantren sebagai tempat yang mencerdaskan dibanding dengan bangku perkuliahan. Mereka lebih percaya bahwa anak-anak mereka kelak akan menjadi orang yang sopan dan beradab dengan harapan, kelak menjadi anak-anak yang berbakti pada orang tua, dan mencapai kesuksesan ketika mereka belajar dalam lingkungan pondok pesantren.

Karena kita tahu, bahwasanya, Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, “Ulama adalah pewaris nabi.” Padahal, diakui atau tidak, jika kita telusuri dan mau melihat kenyataan di depan mata, bahwa kebanyakan para ulama muncul dari kalangan santri (yang hanya berbekal pada ngaji kitab kuning) bukan dari kalangan akademisi (yang lebih mengandalkan gelarnya).

Ketiga, adalah kelompok moderat. Kelompok ini lebih netral, mereka mencoba mengadopsi dan menggabungkan antara kelompok modern dan tradisional, dengan kata lain masyarakat memilih dunia akademik dengan tanpa meninggalkan kegiatan Tradisional Islam (yaitu tetap mengutamakan telaah kitab kuning). Kelompok yang ketiga ini percaya bahwa dengan adanya tradisionalitas yang  tidak diimbangi dengan modernitas akan terasa ”pincang”. Sebab, berpedoman pada pemikiran yang bersifat tradisional belaka, seakan kurang dan dirasa perlu untuk menggunakan sesuatu yang bersifat modern. Mereka berpikir dengan menyeimbangkan kecerdasan memahami kitab kuning dan pengalaman akademis, sehingga akan tercipta generasi intelektual muslim.

Biasanya, masyarakat pada kelompok ketiga tersebut lebih bisa menerima apa saja yang ada di hadapan mereka, sesulit apapun tantangan hidup, mereka hadapi dengan tangan terbuka. Dan itu merupakan salah satu ciri khas warga NU sejati.

0 Response to "Santri Tanpa Kitab Kuning Apa Kata Dunia?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Join Our Newsletter