Sepenggal Kisahku di Pesantren Tarbiyatut Tholabah

Sepenggal Kisahku dipesantren

Rabu, 9 September 2009 adalah hari paling sulit dalam hidupku. Karena, di akhir tahun 2009 itu aku harus meninggalkan kampung halaman, pergi mencari ilmu ke salah satu pesantren di pesisir pantai utara pulau Jawa. Sebelum berangkat mondok, aku berpamitan kepada kedua orang tuaku. Setelah berkemas, perjalanan pun siap dimulai.

Aku duduk manis di perempatan Pasar Legi, Jombang, menunggu bus jurusan Malang-Tuban. Setelah agak lama menunggu, tiba-tiba datang sebuah bus yang panjangnya hanya tujuh meter, warnanya sudah pudar, bodinya sudah berkarat dan kasar, namanya Puspa Indah. meskipun penampilannya memprihatinkan, tetapi bus itu masih bisa melaju dengan kencang dan ugal-ugalan. Melihat bus itu datang, aku langsung meloncat naik, agar cepat sampai di kota tujuan.

Aku turun di jalan Deandles dan berjalan menuju lokasi. Aku melihat di sepanjang jalan Deandles ini suasananya sangat asing, mungkin karena hari itu adalah pertama kalinya aku melintas di jalan itu. Aku mulai masuk area Pondok, di sana ada sebuah gapura bertuliskan “Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah al-Islamy”, aku masuk dengan hati yang kosong, kosong dari ilmu dan pengetahuan, dan sangat mengharapkan tetesan berkah dari para guru-guru mulia.

Pil pahit itu bernama  “perjuangan dan pengabdian”.

Kamar pertamaku terletak di asrama al-Ghozali. Sebagai santri baru, ujian pertamaku adalah merasa tidak kerasan. Setiap aku rindu pada kampung halaman, aku selalu berdiri di atas loteng, dan menatap dari jauh kota kelahiranku, seraya menerka-nerka, kira-kira apa yang dilakukan bapak dan ibuku di rumah, rindukah mereka kepadaku, khawatirkah mereka dengan kesehatanku, kondisiku, juga makananku.

Aku masuk ke perguruan tinggi al-Jāmi’ah li ‘Ulūm al-Qur’an wa al-Tafsir. Di sana aku mendapatkan banyak ilmu dan pengetahuan. Di kampus al-Jami’ah ini, aku hanya bertahan sampai semester lima, karena dengan sangat mendadak kampus ini dibubarkan oleh ketua yayasan. Lalu aku pindah ke kampus Staidra.

Pesantren baruku ini (Tabah) dekat sekali dengan laut, setiap aku sedang bersedih, aku selalu pergi ke pantai, melihat matahari terbenam, melihat burung-burung yang terbang, dan melihat ombak yang menerjang karang. Dengan bagitu kesedihanku langsung hilang. Pantai yang selalu aku kunjungi adalah pantai di belakang TPI Kranji. Selain pantainya indah, di sana juga banyak berjejeran perahu para nelayan. Terkadang aku berpapasan dengan nelayan yang  sedang berangkat mencari ikan. Itu cukup menghiburku, karena memang pantai adalah hal yang baru, yang tidak bisa aku temui di kampung halamanku.

Di dekat pesantrenku ini ada makam seorang wali, putra dari Sunan Ampel, yaitu Raden Qosim (Sunan Drajat). Setiap Kamis malam Jumat, aku selalu menyempatkan untuk berziarah, aku berangkat menuju makam Sunan Drajat dengan berjalan kaki. Lama-lama aku merasa bosan jika harus berjalan kaki terus-terusan, lalu aku berusaha menabung untuk membeli sepeda ontel.

Ketika uang terkumpul, aku langsung membeli sepeda ontel di bengkel yang terletak di sebelah timurnya jembatan pasar Kranji. Aku membeli sepeda dengan harga seratus ribu rupiah, harga yang tergolong murah pada  saat itu, karena memang kondisi sepeda ontelnya sudah agak memprihatinkan, kulitnya sudah berkarat, remnya blong, dan bannya sudah sangat tipis, setipis sepreiku di rumah. Sepeda ontel yang sudah berkarat itulah yang selalu menemani perjalananku selama aku berada di Tabah Kranji tercinta.

Tidak terasa satu tahun telah berlalu, aku sudah menemukan ritme permainan, yaitu kerasan. Aku sudah memunyai banyak teman. Hari-hariku sudah tidak terasa sendirian. Sejak saat itu aku jadi sering ngopi, kadang di Monas (area parkir pesarean Sunan Drajat), kadang di warkop yang sudah melegenda, warkop Mbah Ito.

Tetapi jika diprosentase,  aku lebih sering ngopi di pondok sendiri dari pada di luar, yakni di kantin al-Barokah versi lama, yang digawangi oleh Om Mizan. Meskipun ukuran kantin al-Barokah cukup mungil, tetapi isinya sungguh luar biasa, berbagai jajanan tersedia. Mulai dari makanan ringan sampai makanan berat ada di sana, gantungan baju pun ada. Yang lebih mengherankan lagi, celana dalam pun dijual di sana. Hal ini menunjukkan, bahwa sang manajer kantin, yakni Om Mizan, adalah sosok pebisnis yang hebat.

Aku memasuki masa-masa yang sulit ketika pindah dari kampus al-Jamiah ke kampus Staidra. Hal ini terjadi karena beberapa hal, dikampus al-Jamiah aku tidak bayar, gratis, makan pun diberi. Ketika pindah, otomatis aku harus mengeluarkan banyak biaya, baik itu biaya untuk kuliah, maupun biaya untuk makan.

Untuk menutupi biaya-biaya itu, aku meminta izin kepada Buya, Abah Nasrullah Baqir, untuk menjadi kuli bangunan di pondok. Aku hanya menerima setengah gaji dari hasilku bekerja, yakni 20 ribu rupiah. Kata Buya, yang setengahnya masuk jariah pondok. Meskipun aku hanya menerima setengah gaji, tetapi menjadi kuli bangunan itu aku jalani dengan sungguh-sungguh, demi tergapainya cita-cita dan mimpiku.

Profesi baruku ini benar-benar telah menguras tenaga dan pikiran. Bayangkan! Pagi bekerja dan siangnya kuliah. Jika kuliahnya libur, maka aku bekerja full day mulai dari pagi sampai sore. Terkadang aku merasa suntuk dan bosan dengan profesi baruku itu, tetapi aku selalu menguatkan diriku sendiri, bahwa aku harus bertahan dan terus berjuang, jangan sampai aku putus kuliah di tengah jalan. sejak menjadi kuli bangunan, kondisi badanku banyak yang berubah, kulitku tampak kusam, rambutku tidak lagi hitam, kulitku jadi bersisik seperti anak ular, tetapi sekali lagi aku harus menegaskan, demi cita-cita, aku rela hidup susah.

Posisiku bertambah sulit lagi ketika aku didapuk menjadi pengurus pondok, dan harus tinggal di kantor pondok. Saat itu aku menjabat sebagai bendahara II. Di sinilah aku benar-benar merasakan pahitnya sebuah pengabdian, bekerja mati-matian tanpa ada embel-embel bayaran, mengurusi santri mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mengurusi administrasinya, mengurusi ngajinya, hingga jamaahnya.

Membangunkan tidur para santri sebelum Subuh, memberi nasihat ketika mereka nakal, dan memberi sanksi ketika mereka melanggar. Pengabdian yang sarat dengan penderitaan, tetapi waktu itu aku punya keyakinan yang kuat, suatu saat aku pasti akan memetik buahnya, hasil dari tanaman pengabdian, dan ini adalah alasan besar mengapa aku tetap masih bisa bertahan.

Untuk menghemat biaya, aku dan teman-teman memasak sendiri. Kami membeli ikan asin di Pasar Kranji, kami memilih ikan yang paling murah, lima ribu dapat satu kantong plastik besar. Setiap kali memasak, kami hanya menggoreng beberapa ikan asin, hal ini kami lakukan agar ikannya awet, tidak cepat habis. Untuk sayurannya, kami menanamnya sendiri di depan rumah Ustaz Amir, di sana cuma ada dua jenis sayuran, cabai dan terong. Ketika nasi sudah matang, kami segera menuangkannya ke nampan besar.

Di atas nasi kami taburi sambal terong dan ikan asin. Setelah semua siap, kami langsung menyantapnya. Meskipun menu makan kami sangat memprihatinkan, tetapi jika makannya bersama teman-teman seperjuangan, rasanya seperti makan di restoran. Sepertinya, aku harus berterimakasih kepada ikan asin dan terong, yang tidak pernah absen dari daftar hadir menu makanan kami setiap hari.

Di saat aku punya uang, aku membeli nasi di luar. Ada tiga tempat warung makan yang sudah melegenda dari dulu sampai sekarang, yaitu warung nasi “Bek Kol”, warung nasi “Wak Yah”, dan warung nasi “Hidayah”. Aku sudah akrab dengan tiga penjual nasi tersebut. Kadang mereka menanyakan kondisiku kepada teman-temanku, ketika aku lama tidak makan di warungnya. Mungkin karena utangku menumpuk di buku catatan mereka.

Oleh: Mochammad Faizin

0 Response to "Sepenggal Kisahku di Pesantren Tarbiyatut Tholabah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel